Praktisi Turut Kritisi Rencana Kemah Pramuka di Kotim

Rado. • Dipublikasikan Minggu, 13 September 2026 | 21:31 WIB
ilustrasi-suasana perkemahan pramuka
ilustrasi-suasana perkemahan pramuka

SAMPIT,radarsampit.jawapos.com-Rencana Kemah Ceria Penggalang (KCP) 2026 yang melibatkan pelajar Se Kotim, kembali mendapat sorotan. Kali ini oleh praktisi pendidikan Riduan Kesuma, dan dirinya meminta kegiatan tersebut ditunda sampai kondisi udara benar-benar aman dari situasi kabut asap Karhutla.

Riduan menilai persoalan ini tidak bisa hanya dilihat dari sisi kegiatan Pramuka. Ada aspek kesehatan peserta didik yang harus menjadi prioritas. Terlebih, sekolah di Kotim telah menerapkan belajar dari rumah (BDR) sebagai upaya mengurangi dampak kabut asap.

Menurutnya, menjadi tidak konsisten apabila siswa diminta belajar dari rumah karena kondisi udara, tetapi pada saat yang sama tetap diwajibkan mengikuti latihan persiapan kemah di lapangan.

“Kalau siswa belajar dari rumah karena kondisi udara tidak sehat, jangan kemudian mereka justru dikumpulkan untuk latihan di lapangan. Ini harus dilihat secara serius,” tegas Riduan.

Dirinya pun meminta Dinas Pendidikan (Disdik) Kotim mengambil sikap yang jelas. Jika kondisi memang tidak memungkinkan untuk kegiatan siswa di luar ruangan, maka penundaan harus disampaikan melalui instruksi yang tegas kepada sekolah.

Sebab menurutnya, tanpa instruksi yang jelas, sekolah dinilai tetap akan menjalankan latihan karena kegiatan tersebut sudah menjadi bagian dari agenda persiapan siswa.

“Disdik jangan suka berdiri di wilayah abu-abu dalam persoalan seperti ini. Kalau ditunda, ya harus tegas ditunda. Kalau tidak ada instruksi tegas, sekolah-sekolah akan tetap mewajibkan anak didik turun dan berlatih di lapangan,” papar Riduan.

Baca Juga: Asap Dikhawatirkan Ganggu Peserta Perkemahan Pramuka

Dirinya juga menyoroti kebijakan belajar dari rumah (BDR) yang menurutnya masih memberikan ruang tafsir kepada masing-masing sekolah. Kondisi itu dinilai membuat penerapan kebijakan tidak seragam.

“Mulai dari soal BDR sudah dilempar ke sekolah masing-masing. Artinya, Disdik ini masih tidak punya sikap yang jelas juga. Dalam kondisi seperti sekarang, pemerintah daerah harus hadir memberikan keputusan yang tegas, bukan membiarkan sekolah mengambil tafsir sendiri-sendiri,” papar Riduan.

Ia pun menegaskan dirinya tidak menolak kegiatan Pramuka maupun KCP. Menurutnya, kegiatan tersebut memiliki nilai positif dalam membentuk kemandirian, kedisiplinan, kebersamaan dan kepemimpinan siswa. Namun tegasnya, manfaat pendidikan tersebut tidak boleh mengesampingkan kondisi kesehatan peserta didik.

“Kita bukan tidak mendukung KCP. Kegiatan Pramuka bagus untuk pendidikan karakter. Tetapi jangan sampai kegiatan yang tujuannya mendidik justru berisiko terhadap kesehatan anak,” katanya.

Riduan juga mendorong Ketua Kwarcab Gerakan Pramuka Kotim agar mengambil peran lebih kuat, karena memiliki kewenangan moral untuk memastikan kegiatan Pramuka tetap memperhatikan kondisi bencana.

“Ketua Kwarcab juga harus punya peran tegas. Jangan sampai persoalan ini hanya dibebankan kepada sekolah atau panitia. Kalau kondisi memang belum aman, harus ada instruksi yang jelas untuk menunda kegiatan dan seluruh latihan persiapannya,” pungkas Riduan.(ang/gus)

Editor : Agus Jaka Purnama
Dinas Pendidikan kotim pelajar pramuka perkemahan kabut asap