SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) tidak hanya menghanguskan vegetasi. Satwa liar yang berada di kawasan terbakar juga ikut menjadi korban.
Hal itu terlihat dari temuan pecinta reptil di Sampit, Harry Siswanto. Selama dua pekan terakhir, ia mengumpulkan bangkai satwa liar yang ditemukan di lokasi terdampak karhutla.
Seluruh satwa yang ditemukan sudah dalam kondisi mati. Tubuhnya hangus akibat terpanggang api.
Haryy mencatat sedikitnya 20 ekor ular sanca batik (reticulatus), satu ekor king cobra, tiga ekor ular dipong, satu ekor biawak, serta satu ekor ular air menjadi korban.
“Total yang kami temukan selama dua pekan ini ada 20 jenis sanca reticulatus, satu ekor king cobra, tiga ekor dipong, satu ekor biawak, dan satu ekor ular air. Semuanya sudah dalam kondisi mati,” kata Haryy.
Temuan tersebut membuat Haryy prihatin. Sebagai pecinta satwa liar, ia merasa sedih melihat maraknya karhutla yang tidak hanya berdampak terhadap manusia, tetapi juga memusnahkan habitat dan kehidupan satwa.
“Saya merasa sedih dengan maraknya kebakaran hutan dan lahan ini. Satwa liar juga menjadi korban. Harapannya, satwa liar yang menjadi korban tidak terus bertambah,” ujarnya.
Menurut Haryy, keberadaan satwa liar memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan alam. Karena itu, kerusakan habitat akibat kebakaran dapat memberikan dampak lebih luas terhadap ekosistem.
“Bagaimanapun, satwa liar ini merupakan penyeimbang ekosistem,” tegasnya.
Kepala BKSDA Resort Sampit Muriansyah juga mengaku heran dengan ditemukannya bangkai biawak di lokasi terbakar. Sebab, biawak dikenal sebagai salah satu satwa yang cukup cepat menyelamatkan diri ketika menghadapi ancaman.
“Bisa-bisanya biawak terbakar jua. Padahal satwa ini terkenal cepat menyelamatkan diri,” kata Muriansyah.
Menurutnya, kondisi di lapangan kemungkinan membuat satwa tersebut tidak memiliki kesempatan untuk melarikan diri. Biawak bisa saja terkurung atau terjebak di kawasan yang terbakar.
“Mungkin terkurung atau terjebak, jadi tidak ada celah lagi untuk menyelamatkan diri,” ujarnya.
Temuan bangkai tersebut menjadi pengingat bahwa karhutla membawa dampak terhadap rantai kehidupan di alam. Ketika habitat terbakar, satwa yang tidak sempat melarikan diri ikut kehilangan nyawa.
Bagi Haryy, berkurangnya korban satwa liar harus menjadi perhatian bersama. Pencegahan kebakaran menjadi langkah penting agar kerusakan habitat dan kematian satwa tidak terus berulang. (oes)
Editor : Slamet Harmoko