Hari Ini Ada 237 Hotspot Terdeteksi di Kotim, Batuah dan Soren Jadi Sorotan

Usay Nor Rahmad • Dipublikasikan Senin, 10 Agustus 2026 | 10:20 WIB
Asap hitam akibat kebakaran hutan dan lahan di Desa Batuah, Kecamatan Seranau, tampak dari kejauhan, beberapa hari lalu. (Warga/Radar Sampit) 
Asap hitam akibat kebakaran hutan dan lahan di Desa Batuah, Kecamatan Seranau, tampak dari kejauhan, beberapa hari lalu. (Warga/Radar Sampit) 

 

SAMPIT, radarsampit.jawapos.com - Sebaran titik panas atau hotspot di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) kembali menunjukkan angka tinggi.

Berdasarkan rekapitulasi hotspot yang diakses pada 10 Agustus 2026 pukul 07.00 WIB, terdeteksi 237 hotspot dalam 24 jam terakhir.

Data tersebut menunjukkan konsentrasi hotspot cukup menonjol di sejumlah wilayah. Dua nama yang paling mencuri perhatian yakni Desa Batuah di Kecamatan Seranau dan Desa Soren di Kecamatan Kota Besi.

Batuah tercatat memiliki 64 hotspot. Seluruhnya masuk kategori tingkat kepercayaan menengah. Jumlah tersebut membuat Batuah menjadi salah satu wilayah dengan konsentrasi hotspot tertinggi dalam rekap tersebut.

Sementara itu, Desa Soren tercatat memiliki 41 hotspot. Rinciannya, dua hotspot berada pada tingkat kepercayaan rendah, 32 tingkat kepercayaan menengah, dan tujuh hotspot masuk tingkat kepercayaan tinggi.

Dari sisi kecamatan, Kota Besi menjadi wilayah dengan jumlah hotspot terbanyak, yakni 66 titik. Di dalamnya terdapat Soren dengan 41 hotspot. Kecamatan Seranau menyusul dengan 64 hotspot, yang seluruhnya tercatat di Desa Batuah.

Wilayah lain yang juga mencatat angka cukup tinggi yakni Baamang dengan 31 hotspot dan Mentaya Hilir Utara sebanyak 26 hotspot. Kemudian Teluk Sampit 15 hotspot, sedangkan Mentawa Baru Ketapang mencatat 21 hotspot.

Secara keseluruhan, dari 237 hotspot tersebut, 228 berada pada tingkat kepercayaan menengah, tujuh tingkat kepercayaan tinggi, dan dua tingkat kepercayaan rendah.

Namun, keberadaan hotspot tidak serta-merta menunjukkan jumlah titik api yang sama di lapangan.

Wakil Koordinator III Satuan Tugas Karhutla Kotim, Rihel, sebelumnya menjelaskan data hotspot yang diperoleh melalui satelit tetap membutuhkan pengecekan lapangan untuk memastikan keberadaan api.

"Kalau mengacu ini, mana yang pasti ada titik apinya, tidak bisa dipastikan. Karena alat kita terbang mengecek belum ada ke 17 kecamatan. Pakai helikopter misalnya," ujarnya.

Menurut dia, hotspot yang terdeteksi juga bisa saja berada pada lokasi yang ketika dilakukan pengecekan sudah tidak terdapat api. 

"Kalau dalam satu wilayah desa banyak hotspot itu ada dua kemungkinan. Satu memang tersebar di mana-mana, lokasi hotspot saling berjauhan," katanya.

Kemungkinan lainnya, sejumlah hotspot justru berasal dari satu hamparan lahan yang sama.

"Misalnya dalam satu areal lima sampai 10 hektare, bisa ditemukan hotspot 20 titik. Tapi satu hamparan, itu satu areal saja," jelas Rihel. 

Ia menerangkan, kondisi tersebut dapat terjadi karena satelit menangkap suhu panas dari beberapa bagian dalam satu areal yang terbakar. Apalagi terdapat kemungkinan lebih dari satu satelit yang mendeteksi panas pada waktu tertentu.

"Selama menyebar terbakarnya, maka tertangkap suhu panas oleh satelit. Mungkin ada lebih dari satu satelit yang menerima suhu, pas jadi hotspot," ujarnya.

Karena itu, angka 237 hotspot dalam rekap terbaru tersebut perlu dibaca sebagai hasil deteksi titik panas, bukan secara otomatis sebagai 237 lokasi kebakaran yang berbeda.

Meski demikian, tingginya konsentrasi hotspot di Batuah dan Soren tetap menjadi perhatian di tengah kondisi karhutla Kotim yang masih berlangsung.

Verifikasi lapangan diperlukan untuk mengetahui apakah titik panas tersebut berkaitan dengan kebakaran aktif dan menentukan langkah penanganannya. (oes)

Editor : Slamet Harmoko
Karhutla Sampit karhutla kotim hotspot