Perusahaan Besar Swasta (PBS) yang berinvestasi di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) diminta turut aktif membantu dalam pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Hal itu mengingat mulai meningkatnya kabut asap khususnya di Kota Sampit, yang berpotensi kembali menjadi bencana.
---------------------------
Salah satu kebakaran lahan skala besar di Kotim yang masih sulit dipadamkan, yakni di Desa Camba, Kecamatan Kota Besi, yang berada di sekitar kawasan perkebunan sawit PBS.Sulitnya akses menuju titik api membuat proses pemadaman berjalan lambat, bahkan bantuan water bombing dari helikopter pun telah diterjunkan.
Dikatakan Wakil Ketua II DPRD Kotim Rudianur, hendaknya perusahaan turut mengerahkan personel, armada, dan peralatan yang dimiliki untuk membantu memadamkan api.
"Seluruh perusahaan kami harapkan segera mengerahkan personel maupun armada yang dimiliki untuk membantu upaya pemadaman karhutla di wilayah Kabupaten Kotim," ujarnya.
Menurutnya, penanganan karhutla tidak bisa terus dibebankan kepada pemerintah daerah, BPBD, TNI, Polri, Manggala Agni, dan relawan. Perusahaan yang beroperasi di Kotim memiliki sumber daya yang seharusnya dapat memperkuat upaya pengendalian kebakaran.
"Perusahaan jangan hanya berfokus menjaga asetnya sendiri, tetapi juga harus berkontribusi dalam penanganan karhutla yang berdampak luas terhadap masyarakat dan lingkungan," tegas Rudianur.
Rudianur menambahkan, keterlibatan perusahaan tidak cukup hanya saat kebakaran terjadi. Pencegahan harus menjadi prioritas melalui patroli rutin, pengawasan titik rawan, kesiapan embung, sarana pemadam, dan personel siaga sehingga api dapat dideteksi serta ditangani sebelum meluas.
Baca Juga: Desa Camba Jadi Fokus Penanganan Karhutla, Helikopter Water Bombing Lepas Landas dari Palangka Raya
Dirinya juga mengingatkan bahwa setiap perusahaan memiliki kewajiban menjaga kawasan konsesinya agar terbebas dari kebakaran. Apabila terbukti lalai, pemerintah daerah dapat memberikan rekomendasi kepada pemerintah pusat untuk menjatuhkan sanksi sesuai ketentuan yang berlaku.
"Kalau kawasan konsesinya terbakar tentu ada konsekuensi. Pemerintah daerah dapat memberikan rekomendasi kepada pemerintah pusat apabila perusahaan dinilai tidak serius menjaga wilayah kerjanya," pungkas Rudianur.
Sebelumnya, upaya pemadaman Karhutla itu juga dilakukan melalui darat maupun udara, melibatkan Satgas Karhutla, masyarakat, pemerintah desa. Termasuk melibatkan pihak perusahaan besar swasta (PBS) perkebunan sawit yang berada di sekitar lokasi.
Tiga perusahaan yang berada di sekitar titik kebakaran yakni PT Nusantara Sawit Persada (NSP), PT Mulia Agro Permai (MAP), serta eks PT Globalindo Alam Perkasa (GAP) yang kini dikelola PT Agrinas Palma Nusantara.
Wakil Koordinator III Satgas Karhutla Kotim, Rihel mengungkapkan, seluruh perusahaan tersebut telah mengerahkan personel dan peralatan untuk membantu operasi pemadaman.
"Ada dua unit ekskavator yang digunakan membuat sekat bakar sekaligus embung sementara sebagai sumber pasokan air untuk mesin pompa kecil,"ujarnya, Rabu (5/8).
Namun lanjut Rihel, upaya di lapangan tidak berjalan mudah. Medan menuju lokasi kebakaran hanya dapat dilalui sepeda motor atau dengan berjalan kaki sehingga kendaraan pemadam berukuran besar tidak dapat menjangkau titik api.(ang/gus)
Editor : Agus Jaka Purnama