SAMPIT, radarsampit.jawapos.com - Asosiasi Peternak Ayam Petelur Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mengaku semakin terjepit akibat lonjakan harga pakan yang mencapai Rp440 ribu per karung, sementara harga jual telur terus merosot hingga berada di bawah harga pokok produksi (HPP).
Kondisi tersebut membuat usaha peternakan terancam gulung tikar apabila tidak segera mendapat solusi.
Keluhan tersebut disampaikan dalam rapat dengar pendapat (RDP) bersama DPRD Kotim. Ketua Asosiasi Peternak Ayam Petelur Kotim, Ari Pramana Hakim, mengatakan harga pakan terus meningkat sejak awal tahun, sedangkan harga telur justru semakin rendah.
"Harga pakan sekarang sudah Rp440.000 per karung. Produksi kami sudah jauh di bawah modal, apalagi kalau ingin mendapatkan keuntungan sudah tidak mungkin," ujarnya usai RDP bersama Komisi II DPRD Kotim, belum lama ini.
Menurut Ari, sejak awal tahun harga pakan telah naik sekitar sembilan hingga sepuluh kali. Setiap kenaikan berkisar Rp10 ribu hingga Rp15 ribu per karung, sehingga harga yang semula berada di kisaran Rp370 ribu hingga Rp380 ribu kini melonjak menjadi Rp440 ribu per karung.
"Dari awal tahun sampai sekarang sudah hampir sembilan sampai sepuluh kali kenaikan harga pakan. Sekali naik sekitar Rp10.000 sampai Rp15.000 per karung," tambahnya.
Di sisi lain, harga telur di tingkat peternak terus turun sehingga tidak lagi mampu menutup biaya produksi. Kondisi tersebut memaksa peternak menjual telur dengan harga berapa pun agar tidak mengalami kerugian yang lebih besar.
Sementara itu, salah satu peternak ayam petelur, Hendy, mengatakan sekitar 70 persen biaya produksi berasal dari pakan. Karena itu, setiap kenaikan harga pakan langsung berdampak terhadap kelangsungan usaha peternakan.
"Biaya pakan mencapai sekitar 70 persen dari total biaya produksi," ujarnya.
Ia menambahkan, seluruh kebutuhan pakan masih didatangkan dari luar daerah sehingga harga sangat dipengaruhi biaya distribusi dan kebijakan produsen.
Menurut Hendy, saat ini peternak tidak lagi mengejar keuntungan, melainkan hanya berupaya menjual telur agar tidak membusuk di gudang.
"Saat ini kami bukan mencari keuntungan lagi. Yang penting telur tidak busuk. Daripada dibuang, lebih baik dijual sesuai harga pasar meski kami rugi," katanya.
Ia mengaku para peternak tidak mengetahui sampai kapan mampu bertahan apabila kondisi tersebut terus berlangsung.
"Kami juga tidak tahu sampai kapan bisa bertahan. Mungkin tiga bulan ke depan. Semakin cepat ada solusi tentu semakin baik," ucapnya.
Hendy menilai keberadaan pabrik pakan di daerah dapat menjadi salah satu solusi untuk menekan harga. Dengan adanya persaingan antarpemasok, harga pakan diharapkan menjadi lebih stabil.
"Kalau pabrik pakan itu bisa beroperasi, tentu bisa menjadi kompetisi yang sehat untuk menekan harga pakan. Yang kami harapkan sebenarnya bukan harga murah, tetapi harga yang stabil," katanya.
Dirinya berharap pemerintah segera mengambil langkah untuk menstabilkan harga pakan maupun harga telur agar usaha peternakan ayam petelur di Kotim tetap bertahan dan pasokan telur bagi masyarakat tidak terganggu. (ktr-2)
Editor : Slamet Harmoko