Radar Utama Kalteng Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Cuaca Ekstrem Melanda Kotim Belakangan Ini, Ini Penjelasan BMKG

M. Akbar • Rabu, 20 Mei 2026 | 12:06 WIB
Hujan lebat di Sampit, Kabupaten Kotim.  (Akbar/Radar Sampit)
Hujan lebat di Sampit, Kabupaten Kotim. (Akbar/Radar Sampit)

SAMPIT, radarsampit.jawapos.com - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Haji Asan Sampit menjelaskan cuaca ekstrem disertai peningkatan curah hujan yang melanda Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) dalam beberapa hari terakhir dipengaruhi fase peralihan musim dan aktivitas fenomena atmosfer Madden-Julian Oscillation (MJO).

Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Bandara Haji Asan Sampit, Mulyono Leo Nardo, mengatakan saat ini wilayah Kotim masih berada dalam masa transisi dari musim hujan menuju musim kemarau.

“Kalau berdasarkan prediksi, Juni nanti kita mulai masuk musim kemarau. Namun sekarang masih berada pada masa transisi dari musim hujan ke musim kemarau,” ujarnya, Rabu (20/5).

Menurut Mulyono, salah satu faktor utama meningkatnya curah hujan beberapa waktu terakhir adalah aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO), yakni fenomena atmosfer tropis yang bergerak dari barat ke timur secara periodik setiap 30 hingga 60 hari.

Fenomena tersebut dapat memicu peningkatan pembentukan awan hujan di wilayah Indonesia, khususnya Indonesia bagian tengah termasuk Kalimantan Tengah.

“Indonesia bagian tengah, termasuk Kalimantan Tengah, saat ini terdampak aktivitas MJO. Itu salah satu penyebab curah hujan meningkat dalam beberapa hari terakhir,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, MJO merupakan siklus atmosfer normal dalam meteorologi dan bukan fenomena cuaca yang bersifat permanen. Ketika fase aktifnya melintasi wilayah Indonesia, potensi hujan hingga cuaca ekstrem dapat meningkat di sejumlah daerah.

“Kalau di meteorologi, MJO itu normal karena merupakan siklus atmosfer yang terus berulang setiap 30 sampai 60 hari. Saat fase aktifnya berada di wilayah Indonesia, maka potensi hujan biasanya meningkat,” jelasnya.

Mulyono menerangkan, MJO memiliki delapan fase pergerakan dan Indonesia biasanya terdampak ketika fenomena tersebut berada di fase tiga dan empat yang melintasi kawasan maritim Indonesia.

“Kalau MJO berada di fase yang berdampak ke Indonesia, curah hujan bisa meningkat. Setelah bergerak menjauh dari Indonesia, kondisi cuaca biasanya kembali normal,” bebernya.

BMKG memperkirakan aktivitas MJO yang saat ini mempengaruhi wilayah Indonesia mulai melemah dalam tiga hingga empat hari ke depan. Meski demikian, hujan ringan hingga sedang masih berpotensi terjadi di wilayah Kotim.

“Untuk tiga sampai empat hari ke depan masih ada peluang hujan ringan hingga sedang. Setelah itu diperkirakan kondisi cuaca mulai normal kembali dan berangsur menuju musim kemarau,” ucapnya.

Ia juga menegaskan bahwa fenomena MJO dapat terjadi kapan saja, termasuk saat musim kemarau, karena merupakan bagian dari siklus atmosfer global.

“Fenomena ini tidak bergantung musim. Saat musim kemarau pun MJO tetap bisa terjadi karena memang merupakan siklus atmosfer global,” tutupnya.  (ktr-2)

Editor : Slamet Harmoko
#BMKG #cuaca ekstrem #kotim #kalteng