Radar Utama Kalteng Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Petani Sawit Perorangan di Kotim Kewalahan Siasati Harga Pupuk 

Rado. • Selasa, 19 Mei 2026 | 09:27 WIB
Ilustrasi Pupuk (AI)
Ilustrasi Pupuk (AI)

 
SAMPIT, radarsampit.jawapos.com - Alex, seorang petani sawit lokal di Kotim, hanya bisa menarik napas panjang saat melihat harga pupuk urea di kios langganannya kembali naik. 

Ia mengaku kini harus mengeluarkan uang hingga Rp620 ribu untuk satu sak pupuk urea, padahal sebelumnya masih di kisaran Rp330 ribu.

Kenaikan harga pupuk nonsubsidi yang hampir mencapai 100 persen itu membuat para petani kecil sepertinya mulai kewalahan. Sebagian bahkan terpaksa mengurangi dosis pemupukan demi menekan pengeluaran.

“Dulu masih bisa beli beberapa sak sekaligus. Sekarang mau beli satu sak saja pikir-pikir dulu,” kata Alex, Selasa (12/5).

Menurutnya, pupuk menjadi kebutuhan utama bagi petani sawit agar tanaman tetap subur dan produksi tidak menurun. Namun dengan harga yang terus melonjak, banyak petani akhirnya hanya bisa pasrah.

Alex mengaku penghasilannya dari kebun tidak selalu stabil. Sementara biaya perawatan terus naik mulai dari pupuk, racun rumput hingga ongkos pekerja.

Hal serupa juga dirasakan Sarino. Petani lainnya itu mengaku kini harus lebih hemat dalam merawat kebunnya karena biaya produksi semakin tinggi. “Kalau tidak dipupuk hasil panen bisa turun. Tapi kalau dipupuk penuh modalnya juga tidak kuat,” ungkapnya.

Ia mengatakan, kondisi tersebut sangat memberatkan petani kecil yang hanya mengandalkan hasil kebun untuk memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari.

Apalagi sebagian petani juga masih harus membayar cicilan maupun biaya sekolah anak.
Mereka menilai, kondisi di lapangan itu berbanding terbalik dengan klaim pemerintah pusat yang sebelumnya menyebut stok pupuk nasional dalam kondisi surplus.

Namun kenyataannya harga pupuk nonsubsidi justru terus melambung di tingkat pengecer.

Para petani seperti mereka berharap pemerintah tidak hanya melihat angka stok pupuk, tetapi juga memperhatikan harga yang harus dibayar masyarakat kecil di lapangan.

“Kami cuma ingin harga pupuk jangan terlalu mahal supaya petani masih bisa bertahan,” tandas Sarino.(ang/gus)

Editor : Slamet Harmoko
#petani sawit #sawit #harga pupuk #pupuk mahal #kotim