SAMPIT, radarsampit.jawapos.com - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) menyoroti ancaman krisis air bersih di wilayah selatan seiring potensi kekeringan yang mulai meningkat menjelang musim kemarau.
Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam, mengatakan hasil pemutakhiran data menunjukkan distribusi air bersih menjadi kendala utama yang harus segera diantisipasi karena merupakan kebutuhan dasar masyarakat.
“Air bersih ini sangat fundamental dan tidak bisa tergantikan. Di wilayah selatan, daya tahan air hujan hanya sekitar 10 sampai 14 hari, tergantung kapasitas penampungan masing-masing rumah tangga,” ucap Multazam, Selasa (21/4).
Ia menjelaskan, kondisi tersebut menjadi perhatian serius karena sebagian masyarakat masih bergantung pada air hujan, sementara kemampuan penyimpanan air terbatas.
Selain itu, ketersediaan air di sejumlah wilayah juga mulai menurun. Di Parenggean, embung dilaporkan mulai surut, yang berpotensi memengaruhi kualitas layanan air bersih, termasuk dari PDAM.
“Kita berharap ada langkah tambahan, seperti pemasangan hidran di wilayah Sungai Ijum agar distribusi air ke wilayah selatan, khususnya Teluk Sampit, tetap terpenuhi dengan kualitas yang layak,” katanya.
Multazam juga menyebut potensi gangguan serupa dapat terjadi di wilayah lain seperti Desa Ramban, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, dan Kecamatan Baamang, seiring menurunnya ketersediaan air.
Berdasarkan hasil pemantauan lapangan pada awal April, sejumlah drainase di wilayah utara bahkan telah mengalami kekeringan dan tidak lagi memiliki cadangan air.
“Beberapa selokan di wilayah utara sudah kering, hanya tersisa satu titik sumber air. Ini menjadi perhatian karena bisa menyulitkan upaya pemadaman jika terjadi kebakaran,” jelasnya.
Untuk itu, BPBD mengimbau masyarakat agar memaksimalkan penampungan air hujan selama masih tersedia, sebagai langkah antisipasi menghadapi musim kemarau.
“Kami mengajak masyarakat untuk menampung air hujan sebanyak mungkin sebagai cadangan, karena kondisi ke depan berpotensi semakin kering,” tandasnya. (ktr-2)
Editor : Slamet Harmoko