SAMPIT, radarsampit.jawapos.com - Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mulai mengembangkan Program Sistem Integrasi Sapi-Sawit (SISKA) dengan menggandeng perusahaan besar swasta (PBS) sebagai mitra strategis.
Program ini diharapkan mampu memperkuat ketahanan pangan sekaligus mendorong swasembada protein di daerah.
Langkah tersebut diawali melalui rapat koordinasi bersama sejumlah perusahaan perkebunan kelapa sawit dalam rangka penjajakan potensi kerja sama serta persiapan penandatanganan nota kesepahaman (MoU).
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kotim, Yephi Hartady Periyanto, mengatakan keterlibatan perusahaan perkebunan menjadi kunci dalam pengembangan program tersebut, mengingat luasnya lahan sawit yang dapat dimanfaatkan untuk integrasi peternakan.
“Program ini kita dorong dengan melibatkan perusahaan sawit, karena mereka memiliki potensi lahan yang besar untuk mendukung pengembangan peternakan sapi,” ucapnya, Jumat (10/4).
Ia menjelaskan, program SISKA merupakan strategi untuk mengintegrasikan sektor perkebunan dan peternakan, sehingga dapat menciptakan efisiensi sekaligus meningkatkan produksi daging di daerah.
Menurutnya, selama ini Kotim masih bergantung pada pasokan daging dari luar daerah, yang berdampak pada tingginya harga di pasaran.
“Selama ini kebutuhan daging kita masih dipasok dari luar daerah, sehingga harga sering berada di atas HET,” jelasnya.
Yephi menambahkan, program ini juga merupakan tindak lanjut dari arahan Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah melalui surat Gubernur terkait integrasi sapi dan sawit, serta hasil pembahasan dalam rapat dengar pendapat (RDP) bersama DPRD Kotim.
Dalam tahap awal, pemerintah daerah masih melakukan penjajakan untuk melihat kesiapan perusahaan serta potensi implementasi di lapangan.
“Ini masih tahap awal, kita tidak langsung memaksakan. Kita ingin memastikan kesiapan dan potensi di lapangan agar program ini bisa berjalan optimal,” tambahnya.
Ia menilai, integrasi sapi-sawit memiliki peluang besar karena dapat memanfaatkan lahan perkebunan sebagai area penggembalaan, sekaligus menekan biaya produksi peternakan.
Selain itu, program ini juga diharapkan dapat mengurangi ketergantungan daerah terhadap satu komoditas, yakni kelapa sawit.
“Kalau hanya fokus pada satu komoditas, maka kebutuhan lain seperti daging, telur, dan ayam akan terus bergantung dari luar dan harganya cenderung naik,” tegasnya.
Melalui program SISKA, Pemkab Kotim berharap dapat menciptakan keseimbangan produksi pangan serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Program ini punya potensi besar untuk mendukung swasembada protein, khususnya daging sapi,” imbuhnya. (ktr-2/sla)
Editor : Slamet Harmoko