Helikopter Water Bombing Tak Kunjung Tiba, Karhutla di Kobar Capai 1.059 Hektare

Koko Sulistyo • Dipublikasikan Selasa, 25 Agustus 2026 | 19:35 WIB
Penanganan kebakaran hutan dan lahan di kilometer 13 Jalan lintas Pangkalan Bun menuju Kotawaringin Lama, Kelurahan Mendawai Seberang, Kecamatan Arsel, Kabupaten Kobar, Minggu 23 Agustus 2026.  (ist) 
Penanganan kebakaran hutan dan lahan di kilometer 13 Jalan lintas Pangkalan Bun menuju Kotawaringin Lama, Kelurahan Mendawai Seberang, Kecamatan Arsel, Kabupaten Kobar, Minggu 23 Agustus 2026.  (ist) 

 

PANGKALAN BUN, radarsampit.jawapos.com – Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) menghadapi keterbatasan armada udara. Hingga 25 Agustus 2026, helikopter water bombing (WB) yang dijanjikan untuk memperkuat penanganan karhutla belum tiba di Kobar.

Berdasarkan data terkini, luas area yang terbakar di Kobar telah mencapai 1.059,498 hektare. Dalam sehari, titik api baru tercatat berkisar lima hingga 14 titik.

Padahal, pada 14 Agustus 2026, Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kobar Samuel menyatakan helikopter WB bantuan pemerintah pusat dipastikan tiba dalam waktu sepekan untuk memperkuat satuan tugas (satgas) darat.

"Kita sudah koordinasi dengan pemerintah provinsi permohonan bantuan WB dan sudah disetujui, pekan depan sudah tiba di Sampit," kata Samuel kala itu.

Namun, hingga 25 Agustus, helikopter tersebut belum tiba di wilayah Kobar. Samuel menjelaskan, helikopter WB milik BNPB saat ini masih difokuskan untuk menangani karhutla di Kabupaten Kotawaringin Timur.

Sementara itu, sejumlah helikopter yang terlihat melintas di langit Pangkalan Bun dalam beberapa hari terakhir bukan merupakan armada bantuan pemerintah. Helikopter tersebut milik perusahaan swasta, Sinar Mas, yang disewa untuk keperluan internal perusahaan.

Keterbatasan armada udara membuat Satgas Karhutla Kobar dan relawan darat harus bekerja lebih keras. Pemadaman secara manual menghadapi kendala, terutama untuk menjangkau titik api di area gambut dalam dan lokasi terpencil yang sulit diakses melalui jalur darat.

Warga berharap Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) segera mendistribusikan helikopter WB ke Kobar. Penanganan dari udara dinilai dapat membantu mempercepat pemadaman dan mengurangi luas area yang terbakar.

"Kalau ada penanganan dari udara dan darat tentu luasan area hutan yang terbakar dapat minimalis, kasihan satgas darat saat ini setiap hari bahkan sampai pagi melakukan penanganan pemadaman," kata warga Pangkalan Bun, Rusli. (tyo/yit)

 

Editor : Heru Prayitno
kotawaringin barat karhutla