PANGKALAN BUN, radarsampit.jawapos.com – Jembatan pile slab di Kilometer 8, Jalan Ahmad Shaleh, Kelurahan Mendawai Seberang, Kecamatan Arut Selatan, Kabupaten Kotawaringin Barat, amblas dan menimbulkan retakan parah pada bagian bawah jembatan, Minggu (19/7).
Kerusakan tersebut dinilai membahayakan keselamatan pengguna jalan karena Jalan Ahmad Shaleh merupakan akses utama masyarakat. Setiap hari, ruas jalan itu juga dilintasi truk over dimension over loading (ODOL) dengan muatan lebih dari 10 hingga 15 ton.
Warga Mendawai Seberang, Husrin, mengatakan amblasnya lantai jembatan diduga dipicu beban kendaraan yang melampaui kapasitas. Jembatan hanya mampu menopang beban hingga 8 ton, sedangkan kendaraan yang melintas memiliki beban dua kali lipat dari kemampuan tersebut.
Selain truk ODOL yang mengangkut material dan logistik, jembatan juga setiap hari dilalui puluhan truk bermuatan kelapa sawit, tangki CPO, pengangkut kernel, serta truk menuju Kabupaten Sukamara dan Kalimantan Barat.
"Belum lagi tangki CPO, kernel, dan truk bermuatan material dan logistik tujuan Kabupaten Sukamara dan Kalimantan Barat. Aspal jembatan tidak mampu menopang beban yang begitu berat," ujar Husrin.
Menindaklanjuti kerusakan tersebut, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Kotawaringin Barat bersama Dinas Perhubungan (Dishub) berkoordinasi dengan PUPR Provinsi Kalimantan Tengah.
Kepala Dinas PUPR Kotawaringin Barat Surayadi mengatakan, pihaknya langsung meninjau lokasi setelah menerima laporan adanya kerusakan pada badan jalan jembatan.
"Setelah mendapat informasi terdapat kerusakan pada badan jalan jembatan, tim langsung ke lokasi," katanya.
Menurut Surayadi, kondisi jembatan telah dilaporkan kepada PUPR Provinsi Kalimantan Tengah untuk dilakukan pemeriksaan konstruksi sebelum proses perbaikan.
"Sudah disampaikan ke PUPR Provinsi agar dicek dulu konstruksinya, kemudian segera diperbaiki," tegasnya.
Sebagai langkah sementara, PUPR dan Dishub Kotawaringin Barat melokalisasi titik jalan yang amblas, memasang rambu peringatan, serta mengimbau kendaraan berat roda enam atau lebih untuk sementara tidak melintasi jembatan.
"Kami kehabisan warning board karena banyak digunakan untuk beberapa kegiatan. Hasil koordinasi, PUPR membuat rambu peringatan dari kayu dan banner. Personel bersama PUPR juga melakukan pengamanan pada malam hari," pungkasnya. (tyo/yit)
Editor : Heru Prayitno