KATINGAN, radarsampit.jawapos.com - Memasuki musim kemarau, warga yang menggantungkan mobilitasnya pada rute perairan Sungai Hantipan – Tewang Kampung, Kecamatan Mendawai, Kabupaten Katingan, mulai merasakan sulitnya akses keluar masuk.
Debit air sungai dilaporkan menyusut drastis hingga menyisakan kedalaman sekitar satu jengkal pada Jumat (24/7/2026).
Baca Juga: Pendangkalan Jalur Sungai Hantipan Menuju Katingan Kuala dan Mendawai Mendesak Diatasi
Pendangkalan ini berdampak langsung pada kelancaran arus transportasi air sepanjang 28 kilometer yang biasa dilalui masyarakat. Menurut penuturan warga, terdapat perlintasan kritis sepanjang 5 kilometer yang jalurnya sangat sulit ditempuh akibat air yang terlalu dangkal.
Fuad, salah seorang warga yang rutin melintasi rute tersebut, mengungkapkan bahwa kondisi ini kerap memaksa warga menghentikan perjalanan dan bermalam di tengah sungai sembari menunggu air pasang kembali.
"Kalau air surut, pilihannya hanya menunggu pasang atau nekat lewat. Beberapa warga yang memaksakan diri melintas bahkan mengalami musibah, mesin perahu ces mereka sampai pecah karena menghantam dasar sungai atau kayu," ujarnya.
Kondisi Sungai Hantipan yang semakin dangkal ini memicu kekhawatiran besar terkait pasokan logistik masyarakat. Jalur perairan ini merupakan urat nadi perekonomian warga untuk pulang-pergi ke Sampit demi memenuhi kebutuhan pokok harian, seperti sembako, tabung gas LPG, dan bahan bakar minyak (BBM).
Jalur ini menjadi akses utama bagi masyarakat di kawasan Katingan daerah bawah, meliputi : Pegatan, Kampung Tengah, Kampung Keramat, Katingan 1 , Katingan 2, Mendawai, Kampung Melayu, Katingan 3 ,Tewang Kampung, keatasnya lagi ada Perigi dan Muara Bulan.
Masyarakat berharap adanya perhatian dan solusi dari pihak terkait, mengingat akses sungai tersebut merupakan jalur satu-satunya bagi pendistribusian bahan pokok dan mobilitas harian warga setempat selama musim kemarau.
Selain jalur sungai, lokasi di sana juga bisa ditempuh melalui jalur laut, melalui perairan Teluk Sampit. Namun, dengan kondisi cuaca saat ini, gelombang besar sering terjadi, sehingga berbahaya bagi perahu kecil. (joy/gus)
Editor : Agus Jaka Purnama