PALANGKA RAYA,radarsampit.jawapos.com-Dekan Fakultas Teknik Universitas Palangka Raya (UPR) Frieda, menyampaikan kegelisahan civitas akademika setempat terkait minimnya fasilitas laboratorium. Hal itu menurutnya yang menjadi salah satu penghambat upaya mengejar akreditasi internasional.
Persoalan itu dipaparkannya saat sosialisasi para calon rektor di Fakultas Teknik UPR, Selasa (23/6).
Menurut Frieda, Fakultas Teknik saat ini tengah berbenah untuk meningkatkan kualitas program studi agar mampu bersaing di level global. Namun langkah tersebut terkendala karena fasilitas laboratorium yang tersedia belum sepenuhnya memenuhi standar yang dibutuhkan.
"Kami menghadapi kendala terkait sarpras, terutama laboratorium. Untuk meningkatkan laboratorium membutuhkan biaya sangat besar. Kami sudah beberapa kali mengajukan usulan, tetapi hanya sebagian kecil yang dapat dipenuhi," ujarnya.
Pernyataan itu pun menjadi perhatian para bakal calon rektor. Frieda berharap rektor baru UPR nantinya tidak hanya memahami persoalan tersebut, tetapi memiliki strategi konkret untuk menyelesaikannya.
Baca Juga: Para Calon Rektor UPR Ungkap Persoalan Mendasar di Kampus yang Harus Dibenahi
Prof Bhayu Rhama, salah satu figur dalam kontestasi pemilihan rektor, mengungkapkan bahwa Fakultas Teknik sebagai salah satu prioritas utama program kerjanya apabila terpilih menjadi rektor UPR.
"Prioritas program kerja saya adalah ketersediaan listrik, Wi-Fi, ruang kelas, ruang dosen, dan terkhusus Fakultas Teknik kita akan memperkuat peralatan laboratorium," ucapnya.
Bhayu menegaskan, pembangunan laboratorium modern tidak cukup hanya mengandalkan dana Badan Layanan Umum (BLU).Menurutnya, berbagai peluang pendanaan harus dibuka secara agresif agar percepatan peningkatan fasilitas kampus dapat terwujud.
Menurutnya, selain melalui pendanaan BLU, pendanaan bisa melalui hibah dari SBSN yakni Surat Berharga Syariah Negara yang diterbitkan oleh Pemerintah Republik Indonesia berdasarkan prinsip syariah.
“Kalau saya dipercaya menjadi rektor, saya akan memprioritaskan Fakultas Teknik untuk mendukung akreditasi internasional," tegas Bhayu.
Sementara itu, kandidat lainnya Prof. Dr. Liswara Neneng, menegaskan bahwa persoalan laboratorium harus diselesaikan melalui penganggaran berbasis prioritas. Menurutnya, jika target utama kampus adalah meraih akreditasi internasional, maka seluruh sumber daya harus difokuskan untuk memenuhi persyaratan tersebut.
Dirinya pun berjanji akan melakukan pemetaan kebutuhan sarana dan prasarana dalam tiga bulan pertama apabila dipercaya memimpin UPR. "Kalau kelemahannya hanya pada sarpras, maka itu akan kita upayakan menjadi prioritas utama anggaran. Yang penting ada progres yang terukur," tegasnya.
Tak ketinggalan, bakal calon rektor lainnya, Dr Thea Farina Embang, S.H., M.Hum menilai,persoalan laboratorium tidak boleh dipandang sekadar sebagai kebutuhan fisik kampus.
Baginya, laboratorium merupakan fondasi utama dalam menciptakan kualitas akademik yang unggul."Saya melihat infrastruktur dan sarpras itu bukan hanya sebagai pendukung, tetapi pondasi yang kuat untuk akademik yang berkualitas," imbuhnya.
Thea menilai, UPR tidak bisa terus bergantung pada dana internal semata. Menurutnya, berbagai sumber pembiayaan eksternal harus dimaksimalkan."Kita harus mengoptimalkan aset serta kemitraan. Tidak hanya dari UKT, tetapi ada berbagai sumber lain yang bisa dimanfaatkan, termasuk kerja sama dan CSR," katanya.
Calon lainnya, Dr. Natalina Asi, M.A, menawarkan pendekatan berbeda.Menurutnya, membangun laboratorium modern dengan mengandalkan anggaran kampus semata akan menjadi pekerjaan yang sangat berat.Karena itu, kolaborasi dengan berbagai pihak menjadi jalan yang harus ditempuh.
"Kalau kita mengandalkan anggaran sendiri, itu sangat sulit. Karena itu kita harus membangun kerja sama agar bantuan peralatan laboratorium bisa diperoleh melalui kemitraan," katanya.
Natalina juga mengingatkan bahwa laboratorium tidak boleh hanya menjadi pusat kegiatan akademik semata.Ia menilai fasilitas tersebut harus mampu menghasilkan nilai ekonomi bagi universitas melalui layanan pengujian, sertifikasi, maupun kerja sama dengan pihak eksternal.
"Kalau kita memperbaiki laboratorium, fasilitas itu tidak hanya untuk kebutuhan akademik, tetapi juga harus bisa menghasilkan income tambahan bagi universitas. Yang dicari pihak luar adalah laboratorium yang sudah tersertifikasi," pungkasnya. (daq/gus)
Editor : Agus Jaka Purnama