SAMPIT,radarsampitjawapos.com- Kotawaringin Timur (Kotim) memiliki posisi strategis yang rawan dimanfaatkan sebagai jalur peredaran narkoba. Wilayah ini menjadi akses penghubung ke berbagai provinsi lainnya, tidak hanya antar Pulau Kalimantan tapi juga pulau lainnya.
Hal itu diutarakan Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Kalimantan Tengah (Kalteng) Brigjen Pol Mada Roostanto kunjungan kerja ke Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Kotim, Kamis (16/4). Kunjungan ini menjadi bagian dari agenda peninjauan wilayah sekaligus penguatan koordinasi dalam upaya penanganan narkoba di daerah.
“Karena letak geografisnya, Kotim ini cukup terbuka. Jalur laut, darat, hingga udara menjadi pintu masuk yang harus diawasi ketat,” ujarnya.
Berdasarkan pemantauan BNNP, tren peredaran narkoba di Kotim tergolong tinggi dan cenderung fluktuatif dengan kecenderungan meningkat. Kondisi ini, menurutnya, memerlukan dukungan penuh dari seluruh unsur, termasuk Forkopimda dan pemerintah daerah.
“Peredaran di Kotim ini cukup tinggi, sehingga perlu sinergi semua pihak untuk memperkuat upaya pencegahan dan penanganan,” tegasnya.
Sebagai langkah strategis, BNNP Kalteng terus mendorong program pencegahan berbasis masyarakat, seperti Desa Bersinar, program ANANDA (Aksi Nasional Anti Narkotika), serta Integrasi Kurikulum Anti Narkoba (IKAN) di lingkungan pendidikan.
Selain itu, pihaknya mendukung rencana pembangunan klinik rehabilitasi di BNNK Kotim. Menurut Mada Roostanto, fasilitas tersebut sangat penting agar masyarakat yang terdampak penyalahgunaan narkoba bsia mendapatkan layanan tanpa harus dirujuk ke luar daerah.
Baca Juga: Mendadak, BNNP Kalteng Tes Urine Sejumlah Wartawan di Palangka Raya
“Kami akan terus mendorong pusat agar klinik rehabilitasi bisa dibangun di Kotim. Dengan begitu, masyarakat tidak perlu jauh-jauh ke Palangka Raya untuk mendapatkan perawatan,” paparnya.
Di sisi lain, Mada mengakui keterbatasan sumber daya manusia (SDM) dan anggaran masih menjdai tantangan. Namun demikian, pihaknya tetap berupaya mencari solusi melalui kolaborasi lintasektor.
“Kita sedang dalam kondisi efisiensi anggaran, tapi roda pemerintahan harus tetap berjalan. Kita upayakan untuk bisa berkolaborasi dengan instansi terkait lainnya,” ucapnya.
Ia juga mengimbau masyarakat untuk menolak segala bentuk penyalahgunaan narkoba demi menjaga masa depan generasi bangsa.“Narkoba akan merusak generasi. Kalau jni tidak kita cegah bersama, maka cita-cita Indonesia Emas 2045 akan sulit terwujud,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala BNNK Kotim AKBP Muhammad Fadli mengungkapkan, BNNK Kotim saat ini masih menghadapi sejumlah kendala, terutama terkait keterbatasan SDM di berbagai bidang, seperti umum, pencegahan dan pemberdayaan masyarakat (P2M), serta rehabilitasi.
“Di bidang rehabilitasi misalnya, kami masih membutuhkan tenaga dokter, psikolog, analis laboratorium, hingga tenaga administrasi untuk mendukung operasional klinik,” jelasnya.
Selain itu, hingga saat ini BNNK Kotim juga belum memiliki klinik rehabilitasi sendiri, serta masih memerlukan sarana pendukung seperti mobil keliling untuk sosialisasi dan alat peraga penyuluhan.
Di bidang pemberantasan, keterbatasan juga dirasakan karena belum tersedianya personel khusus, ruang tahanan, serta dukungan anggaran yang memadai. Bahkan hingga kini belum ada tambahan anggota Polri yang ditugaskan untuk memperkuat BNNK Kotim.
“Kami berharap ke depan ada perhatian lebih, baik dari pemerintah pusat maupun daerah, agar upaya penanganan narkoba di Kotim bisa berjalan lebih optimal,” pungkasnya. (yn/gus)
Editor : Agus Jaka Purnama