PALANGKA RAYA,radarsampitjawapos.com- Mudik Lebaran. Sebuah momen kembali ke kampung halaman untuk berkumpul keluarga menjadi harapan besar bagi banyak masyarakat Indonesia setiap tahunnya. Terutama bagi para perantau yang bekerja di Kalimantan Tengah (Kalteng).
Salah satunya adalah Ronny (37), seorang pekerja yang merantau di Kabupaten Kuala Kurun, Kabupaten Gunung Mas. Tahun ini, ia akhirnya bisa kembali mudik ke kampung halamannya di Tuban, Jawa Timur.
Kisah Ronny hanyalah satu dari sekian banyak cerita para pemudik dari Kalteng. Di balik koper pakaian yang dia bawa, tersimpan cerita perjuangan, pengorbanan, serta kerinduan yang akhirnya terobati ketika tiba di kampung halaman.
Perjalanan mudiknya terbilang tak mudah. Dari tempatnya bekerja di pedalaman, pria rambut gondrong ini harus menempuh perjalanan darat selama sekitar lima jam menuju Palangka Raya. Dari sana, ia melanjutkan perjalanan menggunakan pesawat melalui Bandara Tjilik Riwut menuju Pulau Jawa, dan dilanjutkan lagi ke kampung halamannya di Tuban.
Di ruang tunggu bandara, di wajahnya terpancar rasa lelah setelah perjalanan panjang. Namun senyum tak pernah lepas karena sebentar lagi ia akan bertemu keluarga tercinta.
“Ini perjuangan pemudik menuju kampung halaman. Saya harus menempuh lima jam perjalanan dari tempat bekerja di Kuala Kurun. Rindu sekali untuk bisa bertemu orang tua,” ungkap Ronny saat ditemui di Bandara Tjilik Riwut, Senin (16/3).
Bagi Ronny, perjalanan panjang itu bukanlah halangan. Kerinduan kepada orang tua menjadi alasan terbesar yang membuatnya tetap bersemangat pulang ke kampung halaman setiap tahun.
Ia mengaku harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk bisa mudik. Harga tiket pesawat yang meningkat menjelang Lebaran sering kali membuat para perantau harus mempersiapkan dana lebih jauh-jauh hari.
Namun bagi Ronny, biaya tersebut bukanlah persoalan besar. Baginya, kebahagiaan bertemu keluarga jauh lebih berharga dibandingkan segala pengorbanan yang harus dilakukan.“Memang harus mengocek dana lebih untuk bisa pulang kampung. Tapi tidak masalah, karena bertemu orang tua adalah kebahagiaan terbesar,” ujarnya.
Setiap tahun, Ronny berusaha menyempatkan diri untuk pulang kampung meski waktunya terbatas. Ia menyadari kesempatan berkumpul dengan keluarga tidak selalu mudah didapat, terlebih dengan jarak yang memisahkan antara tempat kerja dan kampung halaman.
“Alhamdulillah bisa satu tahun sekali mudik. Mungkin nanti kembali lagi setelah dua minggu, supaya tiketnya bisa lebih murah,” katanya sambil tersenyum.(daq/gus)
Editor : Agus Jaka Purnama