Radar Utama Kalteng Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Ramadan, Kebersamaan Terasa di Lapas Palangka Raya

Dodi Abdul Qadir • Minggu, 1 Maret 2026 | 21:30 WIB

Suasana berbuka puasa Masjid Al-Hidayah di dalam lapas Kelas IIA Palangka Raya,  yang diikuti sebagian warga binaan  dan petugas Lapas.
Suasana berbuka puasa Masjid Al-Hidayah di dalam lapas Kelas IIA Palangka Raya, yang diikuti sebagian warga binaan dan petugas Lapas.

PALANGKA RAYA- Suasana bulan suci Ramadan tetap terasa hangat, di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Palangka Raya. Hal itu menjadi momentum memperbaiki diri dan menata ulang harapan.

Sejak fajar menyingsing hingga malam kian larut, aktivitas ibadah mengisi hari-hari warga binaan pemasyarakatan (WBP) yang beragama Islam. Puasa dijalani penuh disiplin. Salat wajib ditegakkan berjamaah. Malam hari, gema tarawih dan lantunan ayat suci Alquran mengalun dari Masjid Al-Hidayah di dalam lapas.

Salat Isya dan Tarawih berjamaah dibagi per blok hunian agar lebih tertib dan khusyuk. Tim tadarus setiap hari menuntaskan tiga juz Alquran. Satu kelompok yang terdiri dari 14 narapidana menargetkan satu juz per hari secara berjamaah. Tadarus digelar di masjid hingga pukul 22.00 WIB, lalu dilanjutkan di kamar masing-masing.

“Selama Ramadan, pembinaan kepribadian menjadi fokus utama. Kami pisahkan agar ibadah lebih konsentrasi. Setelah Lebaran baru dibaurkan kembali,” ujar Kepala Lapas Palangka Raya, Hisam Wibowo,Minggu (1/3).

Suasana kebersamaan makin terasa saat hadroh digelar. Kegiatan itu menjadi kolaborasi unik antara petugas dan warga binaan. Tabuhan rebana berpadu dengan salawat, menghadirkan nuansa religius yang menenangkan. Lapas juga menggandeng Kementerian Agama Republik Indonesia untuk menghadirkan imam dan penceramah. Tausiyah rutin diberikan sebagai penguatan rohani.

Usai berbuka puasa bersama, kegiatan dilanjutkan dengan salat Magrib, Isya, dan Tarawih berjamaah. Menu makan pun disesuaikan. Jatah makan siang digeser menjadi santapan berbuka dan sahur bagi warga binaan muslim.

“Bulan suci ini adalah kesempatan memperkuat ketakwaan, memperbanyak ibadah, dan memperbaiki akhlak. Setiap tugas yang dilaksanakan dengan niat tulus akan menjadi ladang ibadah,” papar Hisam.

Meski berpuasa, pembinaan kemandirian tidak berhenti. Pelatihan keterampilan, pertanian, hingga perkebunan tetap berjalan. Lapas ingin memastikan waktu yang dijalani para warga binaan tidak terbuang sia-sia. Setiap hari harus memberi nilai tambah, menjadi bekal saat kembali ke masyarakat.

Di balik suasana religius itu, tantangan tetap ada. Jumlah penghuni yang cukup banyak belum sepenuhnya sebanding dengan ketersediaan sumber daya petugas. Upaya penyelundupan barang terlarang seperti narkotika dan ponsel juga masih kerap dicoba.

“Kami tegaskan, layanan di Lapas gratis. Jangan percaya jika ada yang meminta uang. Jangan mencoba memasukkan barang terlarang,” tegas Hisam.

 Ia menambahkan, selama Ramadan, kondisi lapas dipastikan aman dan kondusif. Hubungan antarwarga binaan relatif harmonis. Mereka saling menghormati dan menjaga ketertiban.

"Bulan suci ini adalah kesempatan untuk memperkuat ketakwaan, memperbanyak ibadah, dan memperbaiki akhlak. Setiap tugas yang kita laksanakan dengan niat yang tulus dan penuh tanggung jawab akan menjadi ladang ibadah dan bernilai keberkahan", pungkasnya. (daq/gus)

 

 

Editor : Agus Jaka Purnama
#warga binaan #Memperbaiki Diri #bulan suci ramadan #lapas palangka raya #ayat suci alquran