PANGKALAN BUN,radarsampit.jawapos.com- Ulah oknum pemuda yang mengaku dari sebuah Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) di Kotawaringin Barat (Kobar) sempat viral di media sosial, lantaran diduga meminta sejumlah uang kepada sopir. Apabila sopir yang jadi sasaran tidak memenuhi permintaan itu, yang bersangkutan memaksa penumpang dipindahkan ke mobil yang telah disiapkan oknum tersebut.
Dugaan pungli itu informasinya berada di area Pelabuhan Panglima Utar Kumai, Kecamatan Kumai, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar).
Hal itu terungkap saat pemilik akun Jeck Toman sekaligus korban pungutan dalam video terlibat cekcok saat mobil mereka yang akan berangkat mengantarkan para pekerja bangunan asal Nusa Tenggara Timur (NTT) dihadang oleh sekelompok orang yang tidak mereka kenal.
Kejadian itu disebut saat ia akan menjemput kerabatnya yang baru datang dari NTT, namun dihadang oleh sekelompok oknum yang mengaku dari sebuah ormas di Kumai. Mereka meminta penumpang untuk berpindah ke mobil yang telah disiapkan, atau memilih membayar sebesar Rp200 ribu per mobil jika ingin menggunakan kendaraan sendiri.
Jack yang merasa diperlakukan tidak adil menolak keras permintaan tersebut. Ia kemudian meminta ketiga pria itu menunjukkan dasar hukum berupa Peraturan Daerah (Perda) yang mereka klaim sebagai acuan pungutan. Namun, hingga perdebatan berakhir, tidak satu pun dari mereka mampu menunjukkan bukti aturan resmi yang dimaksud.
Bahkan lantaran sudah geram, Jack meminta agar persoalan tersebut diselesaikan di kantor polisi terdekat. Namun ajakan tersebut justru dianggap sebuah pembangkangan oleh oknum ormas tersebut.
Kejadian itu pun akhirnya diketahui Kapolsek Kumai IPTU Stefanus Rantealo. Ia menyatakan, dengan singkat bahwa persoalan tersebut sudah diselesaikan secara damai oleh para pihak."Perselisihan antar sopir sudah selesai, Terima kasih,"ungkapnya saat dikonfirmasi.
Meski persoalan telah dinyatakan selesai, banyak pihak mendesak agar aparat dan pihak berwenang meningkatkan pengawasan di area Pelabuhan Kumai. Masyarakat berharap tidak ada lagi praktik pungutan liar yang merugikan penumpang maupun penjemput, demi menjaga rasa aman dan kepercayaan publik terhadap fasilitas umum tersebut.
"Kawasan pelabuhan harus bebas dari pungli, kasihan masyarakat, bila perlu tindak tegas oknum pelakunya," ujar salah satu warga Pangkalan Bun bernama Sidik. (tyo/gus)
Editor : Agus Jaka Purnama