Radarsampit.jawapos.com – Tahun ajaran baru tak hanya sibuk bagi anak-anak dan guru, tapi juga bagi para orang tua.
Salah satu dinamika yang hampir pasti muncul adalah grup WhatsApp (WA) kelas.
Meski terlihat sepele, grup WA sekolah bisa menjadi sumber informasi penting sekaligus sumber salah paham dan konflik kalau tidak digunakan dengan bijak.
Tak jarang, percakapan yang seharusnya fokus pada informasi sekolah malah melebar ke urusan pribadi, jualan, bahkan debat panas antar orang tua.
Berikut beberapa etika yang perlu dipegang orang tua agar grup WA sekolah tetap kondusif dan bermanfaat:
1. Fokus pada Informasi Sekolah
Gunakan grup hanya untuk hal-hal penting terkait kegiatan belajar, pengumuman dari guru, dan komunikasi teknis seputar sekolah. Hindari membahas gosip, berita hoaks, atau isu politik.
2. Hindari Spam
Ucapan “Terima kasih, Bu” atau “Noted” secara massal dari 30 orang bisa membanjiri grup. Tanggapan singkat bisa disampaikan lewat fitur “reaction” agar tidak menumpuk.
3. Jangan Promosi di Grup Kelas
Meskipun niatnya hanya berbagi informasi atau bantu dagangan teman, grup kelas bukan tempatnya jualan. Kecuali jika ada izin dan sudah disepakati semua anggota.
4. Jangan ‘Nyindir’ atau Debat Terbuka
Jika ada masalah dengan guru atau sesama orang tua, lebih baik diselesaikan secara pribadi. Menyindir di grup hanya akan memperkeruh suasana dan bisa membuat orang tua lain merasa tidak nyaman.
5. Hargai Waktu Orang Lain
Jangan kirim pesan di luar jam wajar, misalnya tengah malam. Meskipun grup WA bisa dibisukan, tetap saja etika waktu harus dijaga.
6. Pikir Dulu Sebelum Kirim
Pastikan pesan yang dikirim bermanfaat, tidak multitafsir, dan tidak menyinggung. Kalau perlu, baca ulang sebelum menekan tombol “kirim”.
Grup WA sekolah seharusnya menjadi ruang kolaborasi yang positif antara guru dan orang tua. Jika digunakan dengan bijak, komunikasi jadi lebih mudah.
Tapi jika disalahgunakan, bisa jadi medan perang yang bikin capek jiwa.
Ingat, yang sekolah memang anaknya. Tapi yang perlu belajar sopan santun digital, bisa jadi orang tuanya. (*)
Editor : Slamet Harmoko