Radar Utama Kalteng Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Youtube Setop Monetisasi Konten Anomali, Hal Ini Penyebabnya!

Usay Nor Rahmad • Sabtu, 12 Juli 2025 | 18:23 WIB
Tung Tung Sahur salah satu karakter anomali hasil kecerdasan buatan yang banyak dimonetisasi di Youtube. (Dibuat dengan akal imitasi)
Tung Tung Sahur salah satu karakter anomali hasil kecerdasan buatan yang banyak dimonetisasi di Youtube. (Dibuat dengan akal imitasi)

JAKARTA, Radarsampit.jawapos.com – Youtube akan memberlakukan aturan baru mulai 15 Juli 2025 yang menghentikan monetisasi untuk konten "anomali", termasuk video repetitif, tidak autentik, hingga konten hasil buatan kecerdasan buatan (AI) tanpa nilai tambah.

Langkah ini diambil sebagai bagian dari upaya Youtube menjaga kualitas konten dan kepercayaan pengiklan.

Dalam kebijakan terbaru yang diumumkan Youtube, konten yang tergolong “tidak autentik” meliputi video yang diproduksi massal dengan pola atau format berulang, serta konten yang sebagian besar atau seluruhnya dibuat menggunakan AI, seperti suara narator buatan, video deepfake, dan animasi otomatis.

“Tujuannya agar konten yang dimonetisasi benar-benar memiliki nilai tambah dan bukan hasil dari produksi instan tanpa campur tangan kreatif manusia,” demikian tertulis dalam laman resmi Youtube Partner Program (support.google.com/Youtube).

Youtube juga menyoroti penyalahgunaan konten pihak ketiga tanpa modifikasi signifikan. Misalnya, kreator yang hanya mengunggah ulang cuplikan berita, slideshow foto, atau kompilasi video tanpa komentar atau narasi orisinal, berisiko kehilangan hak monetisasi.

Meski begitu, penggunaan AI masih diperbolehkan selama tidak dominan dan disertai sentuhan kreatif manusia, seperti penambahan analisis, reaksi, atau konten edukatif.

“Konten reuse yang ditransformasi secara bermakna masih bisa dimonetisasi. Kuncinya ada di nilai tambah,” tulis Youtube dalam pembaruan kebijakannya.

Selain itu, mulai 22 Juli 2025, Youtube juga akan menaikkan batas usia minimum untuk live streaming dari 13 tahun menjadi 16 tahun sebagai upaya melindungi kreator muda dari risiko eksploitasi.

Aturan ini mendapat tanggapan beragam dari kreator konten. Banyak yang khawatir channel mereka bakal terkena dampak, terutama kreator pemula yang mengandalkan template dan AI untuk produksi cepat.

Salah satu kreator, Risky di Sampit, mengaku mulai mengevaluasi isi channel miliknya. “Saya banyak pakai narasi AI. Sekarang harus mulai ubah cara produksi kalau enggak mau kena demonetisasi,” ujarnya.

Youtube menegaskan, channel yang tetap melanggar aturan ini bisa ditangguhkan dari program monetisasi dan bahkan dikeluarkan dari Youtube Partner Program. (*)

Editor : Slamet Harmoko
#Konten Anomali #Tung Tung Sahur #youtube #setop #monetisasi