KUALA KURUN, radarsampit.jawapos.com – Kecamatan Tewah, Kabupaten Gunung Mas (Gumas), memiliki potensi ekonomi lokal yang masih terbuka untuk dikembangkan, terutama melalui penguatan sektor perkebunan rakyat. Pengembangan sektor ini dinilai dapat menjadi sumber penghidupan masyarakat secara berkelanjutan tanpa bergantung pada aktivitas pertambangan.
Camat Tewah Evelnie mengatakan, potensi perkebunan rakyat di wilayahnya cukup besar. Sejumlah komoditas yang dapat dikembangkan antara lain buah-buahan, karet, kelapa sawit, dan kakao. Potensi tersebut didukung ketersediaan lahan yang cukup luas di sejumlah desa maupun Kelurahan Tewah.
“Kalau ekonomi lokal, saya tidak berbicara tambang karena identik dengan penambangan emas tanpa izin (PETI). Yang masih sangat mungkin untuk dapat dikembangkan adalah dari sisi perkebunan rakyat,” ucap Evelnie, Senin (21/9).
Menurut dia, pengelolaan lahan pertanian dan perkebunan oleh masyarakat selama ini belum optimal. Sebagian lahan yang sebelumnya produktif bahkan mulai ditinggalkan dan hanya dikelola sebagian masyarakat.
“Kalau ketersediaan lahan, khususnya di Kelurahan Tewah, sebenarnya sudah ada. Tinggal bagaimana ditingkatkan lagi. Di desa-desa juga, dari sisi lahan sebenarnya sangat memadai,” jelasnya.
Dia menyebutkan, Desa Batu Nyapau, Sumur Mas, dan Kelurahan Tewah merupakan beberapa wilayah yang memiliki potensi tersebut. Berdasarkan kegiatan Good Forest Indonesia di wilayah itu, masih banyak masyarakat yang memiliki lahan dengan luasan hingga hektare yang berpotensi dikembangkan menjadi lahan produktif.
Komoditas yang telah dikembangkan masyarakat juga cukup beragam. Selain karet dan kelapa sawit, terdapat tanaman buah-buahan serta komoditas seperti kakao, jengkol, dan sengon yang dinilai masih memiliki peluang untuk dikembangkan.
Namun, pengembangan perkebunan rakyat menghadapi sejumlah tantangan, salah satunya kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Sebagian tanaman yang dikembangkan masyarakat, termasuk tanaman binaan Good Forest Indonesia, terdampak karhutla.
“Ada kebun kakao, jengkol, dan sengon binaan dari Good Forest Indonesia yang terbakar di Desa Batu Nyapau,” ujarnya.
Evelnie menilai, pengembangan ekonomi berbasis perkebunan rakyat tidak cukup hanya mengandalkan ketersediaan lahan. Perlindungan terhadap lahan produktif, pendampingan masyarakat, serta penguatan tata kelola perkebunan diperlukan agar potensi tersebut memberikan nilai ekonomi jangka panjang.
“Penguatan perkebunan rakyat dapat menjadi salah satu pilihan strategis untuk memperluas sumber pendapatan masyarakat di Kecamatan Tewah, serta mengurangi ketergantungan pada aktivitas ekonomi yang berisiko menimbulkan persoalan lingkungan dan sosial,” tegasnya.
Dengan ketersediaan lahan dan beragam komoditas yang mulai dikembangkan masyarakat, tantangan selanjutnya adalah mengubah potensi tersebut menjadi sektor ekonomi yang produktif, berkelanjutan, dan memberikan nilai tambah bagi masyarakat Tewah. (arm/yit)
Editor : Heru Prayitno