KUALA KURUN, radarsampit.jawapos.com — Pemerintah Kabupaten Gunung Mas (Gumas) melakukan inspeksi mendadak (sidak) untuk memastikan stabilitas harga dan ketersediaan bahan pangan pasca Idulfitri. Sidak menyasar pasar tradisional, toko sembako, hingga gudang Bulog di Kuala Kurun, Selasa (7/4).
Sekretaris Daerah Gumas Richard mengatakan, sidak dilakukan untuk memastikan kebutuhan pangan masyarakat tetap terpenuhi setelah hari raya.
“Sidak ini untuk memastikan stabilitas harga dan ketersediaan bahan pangan masyarakat tetap tercukupi pasca Idulfitri,” ujarnya.
Langkah ini dilakukan setelah Pemkab Gumas mengikuti rapat koordinasi virtual dengan Kementerian Dalam Negeri sehari sebelumnya, yang mengungkap adanya kenaikan harga sejumlah komoditas di berbagai daerah.
Menurut Richard, hasil pemantauan di lapangan menunjukkan harga bahan pangan bervariasi. Sebagian komoditas mengalami kenaikan, sementara lainnya mulai stabil.
Ia menjelaskan, distribusi bahan pangan di Kabupaten Gumas masih menghadapi kendala, terutama akibat panjangnya rantai pasok. Kondisi ini diperparah dengan belum normalnya distribusi pasca Lebaran.
“Kendala utama pedagang masih pada distribusi yang belum normal. Hal ini menyebabkan pasokan terbatas dan memicu kenaikan harga beberapa komoditas,” katanya.
Meski demikian, terdapat perkembangan positif pada beberapa komoditas, seperti minyak goreng yang kini kembali normal setelah sebelumnya mencapai Rp18.000 per liter.
Pemkab Gumas optimistis ketersediaan bahan pokok tetap terjaga dengan terus melakukan pemantauan distribusi dan harga di lapangan.
Sementara itu, Kepala Dinas Perikanan dan Ketahanan Pangan Gumas, Eigh Manto, menyebut kenaikan harga dipengaruhi belum stabilnya aktivitas ekspedisi pengiriman barang pasca Lebaran.
“Sebagian besar komoditas masih didatangkan dari luar daerah, bahkan luar Provinsi Kalimantan Tengah. Banyak ekspedisi belum beroperasi normal sehingga suplai terbatas,” jelasnya.
Ia menambahkan, komoditas seperti bawang merah, bawang putih, dan telur ayam masih bergantung pada pasokan luar daerah. Panjangnya rantai distribusi serta minimnya armada pengiriman menjadi penyebab keterlambatan suplai. (arm/yit)
Editor : Heru Prayitno