
Di balik perjuangan memadamkan api karhutla, petugas pemadaman terutama relawan harus berhadapan dengan risiko kesehatan akibat paparan asap yang berulang. Termasuk para wartawan yang meliput kejadian di lapangan, turut rentan terpapar dampak pekatnya asap.
-----------------------------------
Selama berbulan-bulan mereka berada di garis depan. Ketika api muncul, mereka datang. Ketika asap mengepul, mereka tetap bekerja. Bahkan saat sebagian orang memilih menjauh dari kepulan asap, para petugas justru harus masuk ke dalamnya.
Karhutla tak hanya menguras tenaga. Ada risiko lain yang tak selalu terlihat dan baru terasa jauh setelah tugas selesai.
Kondisi itu menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), dengan memberikan pelayanan pemeriksaan kesehatan paru di RSUD dr Murjani Sampit, Jumat (18/9).
Pemeriksaan itu dilakukan sebagai deteksi dini terhadap kondisi kesehatan personel yang setiap hari berada di lokasi kebakaran. Mereka yang diperiksa terutama para fighter, sebutan bagi petugas yang langsung masuk ke lokasi untuk melakukan pemadaman.
“Kami berada di RSUD dr Murjani Sampit untuk melakukan pemeriksaan dini kesehatan kepada petugas karhutla yang setiap hari, bahkan 24 jam, berjibaku untuk memadamkan karhutla. Kabupaten Kotim sudah memasuki tanggap darurat dan ini bahkan tahap ketiga, jadi kurang lebih sudah 2,5 bulan,” kata Wakil Bupati Kotim Irawati.
Baca Juga: PWI Kotim Salurkan Bantuan untuk Relawan Damkar
Dikatakannya, selama penanganan berlangsung, paparan asap menjadi bagian dari pekerjaan mereka. Tugas dilakukan berulang kali, mengikuti titik kebakaran yang terus muncul. Karena itu, Pemkab Kotim ingin memastikan kondisi kesehatan personel tidak terabaikan.
“Kita jangan hanya meminta, jangan hanya memerintah mereka untuk memadamkan atau menjalankan tugas, tetapi kita juga harus memperhatikan kesehatannya,” tegas Irawati.
Pemeriksaan tersebut juga menjadi bahan evaluasi. Hasilnya akan menjadi rekomendasi bagi pemerintah untuk menentukan apakah seorang petugas masih dapat melanjutkan tugas atau membutuhkan penanganan lebih lanjut.
“Untuk deteksi paru itu sendiri tidak serta-merta langsung kelihatan. Itu bisa sampai lima sampai 10 tahun. Jadi kita ingin, karena ini kejadian berulang-ulang, petugas kita benar-benar sehat dan bersih,” ujar Irawati.
Dalam pemeriksaan itu, tujuh orang mengikuti pemeriksaan. Mereka berasal dari sejumlah unsur yang terlibat dalam penanganan karhutla, termasuk petugas lapangan, TNI, Kepolisian/Brimob, Damkar, Ditpolairud, serta dua orang dari insan pers.
Hasil awal menemukan sedikit flek pada paru salah seorang peserta. Namun, menurut dokter, kondisi tersebut masih memungkinkan yang bersangkutan menjalankan tugas dengan catatan mengikuti pengobatan.“Alhamdulillah cuma ada sedikit yang memang ada flek di paru, dan menurut dokter masih bisa bertugas, cuma harus meminum obat,” ungkap Irawati.
Sementara itu bagi wartawan, tak jarang peliputan karhutla berlangsung hingga malam, bahkan dalam kondisi kejadian yang berlangsung berjam-jam.
“Wartawan yang setiap hari juga meliput kegiatan karhutla, bahkan 24 jam mereka melakukan liputan, juga kita perhatikan. Biasanya mereka jarang diperhatikan karena dianggap bukan dari pemerintah. Tetapi sebenarnya kalangan media ini adalah mitra pemerintah daerah,” papar Irawati.
Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kotim Siti Fauziah mengakui, kesehatan sering kali menjadi urusan yang terlewat di tengah tuntutan pekerjaan.Kejar tayang berita membuat wartawan lebih banyak memikirkan bagaimana mendapatkan informasi dan memastikan peristiwa sampai kepada masyarakat.
“Teman-teman media mungkin bahkan lupa sendiri untuk memperhatikan kesehatan mereka. Bukan kami tidak peduli, tetapi karena tugas juga kami harus dikejar waktu. Kapan pun kejadian itu harus ke lokasi karena kejadian juga tidak mengenal waktu,” kata Siti.
Bagi wartawan, berada di lapangan merupakan bagian dari tanggung jawab. Mereka harus melihat langsung kondisi yang terjadi sebelum menyampaikannya kepada masyarakat.
“Kami butuh liputan, kami butuh bahan berita. Kami juga harus menyampaikan segala macam kejadian secara benar kepada masyarakat. Artinya, kami juga harus ke lapangan,” imbuh Siti Fauziah.
Ia menambahkan, pemeriksaan kesehatan itu setidaknya menjadi pengingat bahwa mereka yang bertugas menyampaikan kabar tentang karhutla juga memiliki tubuh yang harus dijaga.
Direktur RSUD dr Murjani Sampit dr Yulia Nofiany juga mengatakan, rumah sakit siap memberikan pelayanan kepada petugas, relawan maupun masyarakat yang mengalami gangguan kesehatan akibat karhutla dan asap.
Petugas maupun warga yang mengalami gangguan pernapasan dipersilakan datang tanpa harus mengurus surat dari instansi.
“Tidak perlu bersurat. Tinggal datang dan melaporkan bahwa mereka mengalami keluhan ISPA atau gangguan pernapasan. Nanti kita periksa apakah memang diakibatkan karena musibah asap, terimbas asap, ataupun karena penyakit lainnya,” ungkap Yulia.
Yulia mengakui, terdapat peningkatan kasus ISPA. Namun, pihak rumah sakit belum dapat memastikan seluruh peningkatan tersebut berkaitan langsung dengan paparan asap karhutla, karena sebagian pasien bisa memiliki riwayat penyakit paru sebelumnya.
Terpisah, perhatian terhadap kesehatan petugas di lapangan, juga dilakukan di Palangka Raya.
Tim Medis Emergency Response Palangka Raya (ERP) memberikan immune booster kepada petugas gabungan pada Kamis malam (17/9). Vitamin diberikan kepada personel TNI, relawan ERP, dan relawan LazisMU Kalteng.
Koordinator Tenaga Medis ERP Ega Purnama mengatakan, immune booster menggunakan kombinasi Vitamin C dan Vitamin B Kompleks. Dukungan itu diberikan untuk membantu menjaga kondisi fisik petugas yang bekerja berjam-jam di tengah paparan asap dan medan karhutla.
“Dukungan berupa layanan kesehatan ini menjadi suntikan moral sekaligus penguat fisik bagi rekan-rekan di lapangan. Menghadapi karhutla dan polusi pekat membutuhkan stamina prima,” pungkas 01 Srikandi ERP Widya Kumala.
Ia menegaskan, api mungkin menjadi musuh yang terlihat. Asap pun bisa dirasakan saat memenuhi udara. Namun, ada satu ancaman yang jauh lebih sunyi, yakni dampak kesehatan yang mungkin baru diketahui setelah semuanya berlalu.(yn/daq/gus)
Editor : Agus Jaka Purnama