
Situasi musim Kemarau yang diprediksi masih lama, dirasa semakin berat bagi beberapa warga di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Bukan hanya persoalan cuaca panas dan minim hujan, sejumlah rangkaian masalah yang datang bersamaan, dirasakan menjadi beban kehidupan.
Rado, Sampit
-----------------------------------
Persoalan pokok yang dikeluhkan warga belakangan ini, dirasakan saling berkaitan. BBM sulit diperoleh. Air bersih mulai menipis. Listrik masih menyala dan padam bergiliran, serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terus mengancam pemukiman dan perkebunan.
Bahkan di sejumlah wilayah, warga bahkan harus turun langsung berjibaku memadamkan karhutla.
Haryadi, warga yang setiap hari bekerja pulang-pergi Sampit-Sebabi, menjadi salah satu yang merasakan dampak sulitnya mendapatkan BBM. Melakukan perjalanan naik sepeda motor, setidaknya ia membutuhkan sedikitnya lima liter BBM per hari. Namun, pembelian di SPBU dalam kota dibatasi.
Hal itu dampak panjangnya antrean kendaraan di SPBU, yang masih menjadi rutinitas yang harus dilaluinya sebelum bekerja.
“Kalau bisa frustrasi sudah rasanya hidup cari BBM setiap hari. Setiap mau berangkat kerja harus mengantre. Saya ini kerja pulang pergi Sampit-Sebabi perlu BBM itu minimal 5 liter untuk motor, sedangkan SPBU di dalam kota hanya melayani 3 liter. Belum lagi antrean panjang,” ujarnya.
Kondisi itu membuat Haryadi mempertanyakan penanganan persoalan BBM yang tak kunjung teratasi.“Makanya saya heran, apa iya negara ini sudah tidak mampu mengurus lagi masalah-masalah ini,” keluhnya.
Jika Haryadi dipusingkan dengan BBM, warga Mentaya Hulu menghadapi persoalan lain. Kemarau membuat kebutuhan air bersih semakin sulit dipenuhi.
Seperti dialami Cici, warga setempat. Ia mengungkapkan kondisi Sungai Mentaya yang selama ini menjadi salah satu sumber air bagi mereka, juga semakin surut. Menurutnya, air sungai itu bahkan sudah tidak layak untuk dikonsumsi.
“Saat ini kendala kami di Mentaya Hulu adalah kesulitan air bersih. Maka tentunya ini harus ada solusi juga untuk air bersih. Bagaimana kalau kemarau ini terus terjadi?,” ujarnya.
Kondisi tersebut menjadi kekhawatiran tersendiri jika kemarau berlangsung lebih lama. Sebab, air bukan hanya dibutuhkan untuk kebutuhan rumah tangga, tetapi juga menjadi bagian penting dalam menghadapi karhutla.
Di Kecamatan Baamang, Dewi menghadapi persoalan berbeda. Beberapa malam terakhir, listrik di wilayah tempat tinggalnya padam hingga sekitar tiga jam.Pemadaman tersebut mengganggu aktivitas mereka. Ditambah lagi, mengandalkan genset bukan solusi mudah, ketika BBM juga sulit diperoleh.
“Sudah dua malam terakhir ini terjadi pemadaman sekitar tiga jam dan ini sangat mengganggu kami untuk aktivitas kami di rumah. Mau hidupkan genset, minyaknya sulit, jadi serba nyangkut kalau tidak hidup listrik,” ungkapnya.
Menurut Dewi, kondisi itu juga membuat warga kesulitan mengatasi asap dari luar rumah. Saat listrik padam, pendingin ruangan tidak dapat digunakan. sehingga asap lebih mudah masuk.
“Kalau kurang-kurang hidup di saat ini memang frustrasi. Tambah lagi harga-harga barang kebutuhan hidup, termasuk sayur-sayur semuanya melambung tinggi,” ungkapnya.
Baca Juga: Antrean di SPBU kembali Memicu Demonstrasi ke Pertamina. Stok BBM Diklaim masih Aman
Sementara di Kecamatan Teluk Sampit, Husai bersama warga lainnya menghadapi ancaman karhutla secara langsung.
Ketika api membakar lahan, warga harus turun tangan melakukan pemadaman secara swadaya. Bukan hanya tenaga yang dikerahkan. Biaya untuk membeli BBM juga harus ditanggung sendiri.
“Kami memadamkan api berjibaku ini swadaya sendiri, mulai dari BBM hingga tenaganya. Sudah minyak sulit carinya, kalaupun ada, harga Pertalite eceran sudah Rp17 ribu per liter,” beber Husai.
Bagi Haryadi, kemarau berarti harus berjibaku mencari BBM agar tetap bisa bekerja. Bagi Cici dan warga Mentaya Hulu, kemarau berarti ancaman krisis air bersih. Bagi Dewi, aktivitas rumah tangga terganggu akibat listrik padam. Sedangkan Husai dan warga Teluk Sampit harus mempertaruhkan tenaga dan biaya untuk melawan karhutla yang mengancam kebunnya.
Dari persoalan yang diungkapkan mereka, di tengah kemarau yang belum berakhir, warga akhirnya harus bertahan menghadapi persoalan yang datang dari berbagai arah.(*/gus)
Editor : Agus Jaka Purnama