Catatan Perjalanan ke Timor Leste (2): Ini Solidaritas dan Kasih Sayang Sesaudara

Admin • Dipublikasikan Senin, 14 September 2026 | 08:45 WIB
Kusni Sulang tampil dalam acara Horta Show yang dipandu langsung oleh Presiden Timor Leste José Ramos Horta, Mei 2026 lalu.
Kusni Sulang tampil dalam acara Horta Show yang dipandu langsung oleh Presiden Timor Leste José Ramos Horta, Mei 2026 lalu.

 

Oleh Kusni Sulang & Andriani SJ Kusni 

Acara Horta Show merupakan acara khusus yang diselenggarakan dua kali setahun. Pertama, dalam rangka perayaan Hari Kemerdekaan Timor Leste  pada 20 Mei; kedua pada November untuk memperingati Tragedi Santa Cruz, pembunuhan massal terhadap unjuk rasa damai warga di kawasan permakaman umum Santa Cruz , Dili.  

Dua acara nasional ini dipandu langsung oleh Presiden Timor Leste, José Ramos Horta. Masakre Santa Cruz ini kemudian menjadi titik-balik dalam perjuangan rakyat Timor Leste untuk kemerdekaan yang membuat posisi pemerintah Indonesia di dunia internaional makin terpojok. Hal yang sekaligus menunjukkan arti penting pendapat umum dan peran komunikasi – cq kerja jurnalistik.

Adapun tema yang diangkat dalam dua acara penting ini, disesuaikan dengan latarbelakang tamu yang diundang oleh Presiden Ramos  khusus untuk acara ini. Perlu dicatat bahwa The Horta Show, semacam padcast asuhan Presiden Horta, selain dua ‘content’ terpenting di atas, juga membicarakan masalah-masalah kongkret dalam kehidupan masyarakat Timor Leste seperti perekebunan kopi, pendidikan, infrastruktur, dan lain-lain... yang menyangkut langsung kehidupan sehari-hari masyarakat.

Melihat intensnya Presiden Horta memanfaatkan media sosial, saya menduga beliau secara sadar menggunakan media sosial sebagai salah satu alat berkomunikasi – apalagi sebelum menjadi politisi, beliau memang adalah seorang jurnalis. Penggunaan media sosial dalam dunia politik agaknya menjadi umum di era sekarang. Kesadaran Presiden Horta akan arti penting pekerjaan komunkasi ini bukanlah hal baru. Ketika berperan sebagai diplomat Timor Leste di mancanegara, saya sering membaca tulisan-tulisan José Ramos Horta di penerbitan-penerbitan penting dunia yang menjadi bacaan niscaya para diplomat dunia, seperti Harian Le Monde, bulanan Le Monde Diplomatique (dua-duanya terbit di Paris, Perancis), Herald Tribune, The New York Times, dll..., di samping memberikan wawancara dengan wartawan-wartawan radia dan televisi terkemuka berbagai negeri.

Dari segi ini, kita bisa memasuki pertanyaan berikut yaitu ”Seberapa penting ruang dialog budaya seperti Horta Show bagi masyarakat Asia Tenggara?”.

Sejarah dunia, juga sejarah Indonesia, menunjukkan arti penting ruang seperti Horta Show sebagai salah satu bentuk pekerjaan komunikasi dan jurnalistik. Hari ini diperlihatkan juga apa yang dilakukan oleh para pihak dalam perang Amerika-Israel vs Iran. Dalam Perang Dunia II, pemerintah Inggris bahkan membentuk departemen khusus untuk melakukan perang psikhologis atau perang propaganda, termasuk menyebarkan berita-berita bohong (hoax) dengan menjatuhkan  moral lawan, membentuk opini publik baik itu posisitf atau pun negatif.

Contoh lain adalah apa yang terjadi semasa Perang Kemerdekaan Aljazair yang disebut juga sebagai Perang Aljazair . Perang Kemerdekaan Aljazair (bahasa Prancis: Guerre d'Algérie) yang terjadi tahun 1954 sampai tahun 1962. Secara militer, pasukan Perancis berhasil membuat pasukan-pasukan Algerian National Liberation Front (FLN) terpaksa mengungsi ke Maroko , negeri tetangga. Pasukan Perancis mengejar mereka dan membom secara membabibuta kamp-kamp AFLN. Perempuan dananak-anak banyak ysng jatuh sebagai korban oleh pemboman tersebut. Kejaduan tersebut direkam oleh  wartawan Perancis dan dilaporkan ke PBB yang membuat posisi internasional Perancis terkucil dan memaksa Presiden Perancis Charles de  Gaulle memutuskan menyetujui kemerdekaan Aljazair.

Dalam sejarah Perang Kemerdekaan Indonesia, hal yang mirip adalah pemogokan buruh internasional di Australia bersolidaritas dengan pejuang-pejuang kemerdekaan Indonesia. Dalam hal ini jasa pembuat film Belanda , Joris Yvens dengan karyanya The Indonesian Colling kiranya patut dicatat. Kongres Pemuda yang menelurkan Sumpah Pemuda tahun 1928 adalah pendekatan kebudayaan berjangka panjang berdampak jauh.Tentu saja Kongres Pemuda, Sumpah Pemuda 1928 dan film The Indonesian Calling hanyalah satu contoh saja, karena Sejarah Indonesia menyediakan banyak contoh tentang arti penting rubrik seperti Horta Show ini.

Apa yang dilakukan oleh Presiden Horta dengan The Horta Show-nya hanyalah melanjutkan pekerjaan yang sejak lama ia lakukan sebelum jadi Presiden. Adanya Horta Shw menunjukkan kesadaran Ramos tentang perlunya pendekatan kebudayaan untuk perubahan maju masyarakat, melalui proses penyadaran manusia  -- hal yang di Kalimantan Tengah, saya pertanyakan seberapa jauh kita sudah menyadarinya. Karena pernah pada suatu periode di Kalimantan Tengah ini ada anggapan bahwa kegiatan kebudayaan hanyalah kegiatan yang membuang-buang uang secara percuma. Di tengah arus hedonisme yang  deras dan  semakin deras seperti sekarang, saya pun mempertanyakan apakah kita sudah  menyadari benar makna pendekatan kebudayaan itu?

Menyepakati peran pendekatan kebudayaan dan peran media massa untuk perubahan maju masyarakat, karena itu saya membatalkan niat untuk menjadi insinyur kehutanan saat meninggalkan Kalimantan Tengah dan memilih jurusan publisistik di Fakultas Sosial Politik Universitas Gadjah Mada. Dengan alasan yang sama maka sejak lama saya berkecimpung di dunia media massa, baik itu media cetak, radio ataupun televisi, dll...wujud media yang bisa menyebarkan pikiran secara luas.

Berbagai bentuk media massa, merupakan salah satu alat yang niscaya digunakan untuk mencapai tujuan yaitu perubahan maju dan manusiawi masyarakat sebagai pelabuhan akhir. Menjadi tersohor dan keadaan sejenis yang bersifat sangat pribadi, sama sekali tidak pernah menjadi keinginan dan tujuan. Kalau saya mengejar nama, mencari ketersohoran, mengapa saya mesti menggunakan sekian banyak nama samaran, mengapa saya tidak ribut ketika apa-apa yang saya katakan kemudian dikutip orang tanpa menyebut sumbernya. Sebab yang terpenting bagi saya adalah bahwa pikiran itu tersebar.

Melalui keterangan di atas, saya mau mengatakan bahwa berbicara di podcast, siaran radio, televisi dan lain-lain, bukanlah sesuatu kemewahan. Sekali pun demikian , berbicara di Horta Show tentu saja berbeda dari berbicara di forum-forum lain sejenis. Bedanya terletak bahwa Horta Show  adalah media milik seorang presiden, diasuh  langsung  oleh seorang presiden. Pengaruh, terutama pengaruh politik,  forum demikian, jauh berbeda dari media-media lainnya.  Kesempatan menggunakan pengaruh ini seorang presiden dan Peraih Nobel Perdamaian untuk menyampaikan buah pikiran ke publik luas  adalah kesempatan sangat langka dan pada tempatnya untuk peluang langka ini saya mengucapkan terimakasih kepada Presiden José Ramos Horta.

Peluang yang diberikan Horta ini, dan penganugerahan bintang Order of Timor Leste, tanda jasa yang setara dengan Bintang Maha Putera di Indonesia, saya nilai memperkuat status dan pengaruh saya di bidang kebudayaan – paling tidak di Kalimantan Tengah. Memperkokoh kevalidan Anugerah Kebudayaan yang diberikan kepada saya oleh Pemerintah Republik Indonesia pada tahun 2020. Hitung saja, berapa banyak orang Indonesia, apalagi Orang Dayak, yang mendapat Anugerah demikian? 

Terus-terang adanya pengaruh ini saya perlukan dalam upaya saya memberikan yuran kecil dalam upaya  pemajuan kebudayaan di Kalimantan Tengah. Menjadi pengisi utama Horta Show tahun 2026 dan dianugerahi Orde of Timor Leste adalah satu serie kehormatan tertinggi yang diberikan oleh Horta selaku Presiden Timor Leste kepada saya. Sekali lagi, kehormatan  tertinggi yang merupakan bentuk lain dari solidaritas terhadap pekerjaan-pekerjaan saya di bidang kebudayaan; terhadap upaya-upaya melakukan perubahan maju dan manusiawi masyarakat    -- sebuah jalan panjang berliku, mendaki dan menurun serta tak punya sampai -- senantiasa memerlukan solidaritas tulus, dan  solidaritas tulus itu diberikan oleh Presiden Horta.

Jadi kalau ditanya” Bagaimana perasaan Anda setelah tampil di The Horta Show di Timor Leste?”

Jawaban singkatnya: Gembira dan berterimakasih atas solidaritas dan kasihsayanng ajeg yang diberikan oleh Presiden Timor Leste, José Ramos Horta. Saya katakan ajeg karena solidaritas dan kasihsayang ini beliau berikan kepada saya bukan hanya kali ini. Bedanya, solidaritas dan kasihsayang itu sekarang, ia berikan saat ia menjadi Presiden sebuah negara.

Mengenai penghargaan dari Horta yang berupa bintangjasa setara dengan Bintang Mahaputera Indonesia, saya memandangnya sebagai "pengungkapan ulang solidaritas antar pemimpi", sedangkan pulau tujuan masih jauh. Secara tersirat bintangjasa itu merupakan permintaan Horta kepada saya agar terus tanpa jeda melanjutkan pekerjaan dan langkah di jalan sudah ditapaki. Satu perang  usai, perang baru menghadang karena itu prajurit tidak mati di ranjang. Pada bintang jasa itu ada darah, airmata,  kematian dan  harapan membalutnya. Bintang jasa itu juga seperti suara yang berseru agar yang tersisa dan yang menyusul belakangan tidak melupakan darah, airmata dan kematian tulus itu dalam mengejar harapan atau mewujudkan mimpi. (bersambung)

 

Editor : Heru Prayitno
Presiden Ramos Horta Kusni Sulang