Catatan Perjalanan ke Timor Leste (1): Bertemu Presiden Josė Manuel Ramos Horta

Admin • Dipublikasikan Senin, 14 September 2026 | 08:41 WIB
Andriani SJ. Kusni, Presiden José Ramos Horta, dan Kusni Sulang di Dili, Mei 2026.
Andriani SJ. Kusni, Presiden José Ramos Horta, dan Kusni Sulang di Dili, Mei 2026.

 

Oleh Andriani SJ Kusni & Kusni Sulang 

Perjalanan Kusni Sulang dan Andriani SJ Kusni ke Timor Leste pada Mei 2026 bukan sekadar perjalanan memenuhi undangan Presiden José Ramos Horta, tapi juga perjumpaan sahabat yang lebih dari dua dekade terpisah. Catatan perjalanan ini ditulis sebagai upaya menangkap sisi-sisi personal, pemikiran, dan pengalaman Kusni Sulang dalam mengikuti The Prezidente Horta Show.

Sebagai kontributor Harian Radar Sampit, sejak sepuluhan tahun lebih, dengan dua rubrik tetap yaitu rubrik kebudayaan Sahéwan Panarung dan Halaman Masyarakat Adat, kami merasa ada semacam tanggung jawab moral bagi kami untuk memenuhi permintaan Radar Sampit, yakni menulis catatan perjalanan ke Timor Leste.

Perlu dicatat bahwa tadinya undangan khusus dari Presiden Timor Leste, José Ramos Horta itu dialamatkan hanya kepada Kusni Sulang seorang sebagai penyair Dayak. Dengan berbagai pertimbangan untuk kepentingan jangka jauh dan pekerjaan-pekerjaan praktis jurnalistik, Kusni Sulang mengusulkan kepada Presiden agar ia bisa datang memenuhi undangan khusus tersebut dengan dua orang jurnalis dari Kalimantan Tengah, yaitu Andriani SJ. Kusni dari Harian Radar Sampit Jawa Pos Group dan Pebri Ayu Lestari  dari Majalah Panutung Tarung, Palangka Raya. Usul ini disetujui oleh Presiden Timor Leste.

Tanggal 17 Mei 2026 kami bertiga memulai perjalanan ke Timor Leste menggunakan rute Palangka Raya – Jakarta, Bali dan Dili. Untuk sampai ke Dili memerlukan waktu dua hari dan mesti menginap di Den Paser.

Berikut adalah sebagian cerita perjalanan singkat kami ke Dili yang berlangsung dari 17 Mei sampai 21 Mei 2026.

Saya mengenal José Ramos Horta sejak lama. Lama, dihitung dari waktu Indonesia masih berada di bawah kendali Orde Baru pimpinan Jenderal Soeharto menyusul Tragedi September 1965 yang membuat saya jadi pengembara menjelajahi benua demi benua planet kecil kita ini. Ramos dan kawan-kawan dari Fretilin, waktu itu juga mengalami penindasan berdarah dari kekuasaan yang sama dan berjuang untuk kemerdekaan Timor Leste. Ramos yang berjuang di dunia diplomasi  untuk kemerdekan negerinya juga menjelajahi benua satu ke benua yang lain, termasuk Eropa Barat di mana saya menumpang berkemah. Kami menghadapi penindas yang sama, yaitu Orde Baru pimpinan Jenderal Soeharto. Artinya kami bertemu dalam keadaan sama-sama menderita. Kalau istilah menderita ini terlalu kers, katakanlah sama-sama dalam keadaan susah. Sama halnya ketika saya berkenalan dengan Gus Dur atau Abdurachman Wahid, yang kemudian juga menjadi Presiden, yaitu Presiden Republik Indonesia Ke-4. Sehingga sejauh ini, ada dua teman saya yang jadi presiden yaitu Gus Dur dan Ramos. Persahabatan kami jadinya diasuh oleh penderitaan panjang bersama ini. Kalau pepatah mengatakan ”Sahabat sesungguhnya adalah sahabat yang hadir saat diperlukan” (A friend indeed is a friend in need), persahabatan saya dengan Ramos adalah termasuk persahabatan demikian. Persahabatan tulus-setulusnya. Persahabatan yang dalam tradisi Dayak Katingan bisa dikategorikan sebagai persahabatan yang meningkat ke jenjang ”saudara melalui sumpah dengan darah” . Persahabatan dengan kualitas begini bagi Orang Dayak pantang dikhianati tanpa konsekwensi berat, bahkan sangat berat. Perwujudan kongkretnya tentu akan terlalu panjang jika dituturkan rinci.

Setelah keadaan politik di Indonesia dan Timor Leste sedikit membaik, Ramos dan saya meneruskan kegiatan  masing-masing dan tidak pernah berjumpa lagi. Dari berita-berita media,  saya mengetahui Ramos sebelum yang sekarang, pernah terpilih jadi Presiden Timor Leste, bahkan pernah terjadi upaya pembunuhan terhadap dirinya. Sedangkan saya melanjutkan pekerjaan saya, terutama sebagai pencinta sastra-seni, seseorang yang hanya punya kata-kata. Masih melanglangbuana benua demi benua, pulau demi pulang serta sungai-sungai dan hutan-hutan asing. Paling sedikit, kami tak penah saling bertemu dan saling berkabar selama 20 (dua puluh) tahun. Tapi kami percaya bahwa walau pun lama tak saling berkabar dan tak saling bertemu, masing-masing adalah sahabat yang tak akan pernah hilang. Sahabat Yang Tak Akan Pernah Hilang adalah istilah di kalangan kami untuk satu kategori kualitas sahabat dan persahabatan. Persahabatan dengan kualitas begini diperlukan oleh pekerjaan-pekerjaan mendasar-strategis serta jangka panjang.

Hingga sampailah pada suatu hari saya diberi tahu oleh teman saya Standy Christanto, Direktur Eksekutif Borneo Institute, sebuah LSM Dayak di Palangka Raya memberitahu saya melalui WA  bahwa Presiden Timor Leste, José Ramos Horta mencari sahabatnya bernama Kusni Sulang.  Setelah itu pemeritahuan serupa datang dari  teman-teman yang tinggal di berbagai tempat. Pencarian Ramos dimulai dengan wawancaranya dengan Uni Lubis dari IDN News. Kemudian dilanjutkan oleh wartawan senior Tempo, Agung Sedayu yang mempunyai jaringan dengan Perry,  Staf Kepresidenan Timor Leste di Dili. Ramos akhirnya mendapatkan alamat saya dan mengirim WA berikut:

”Hello my friend Kusni...I often talked about you, an inspiring life of service, hardworking, sacrifice, commitment, humility. So I mentioned your name, shared your struggle to survive and study in Paris. And I asked people if anyone knew you and your whereabouts. The reason is I want to honour you with one of our highest national award. My office cover your travel costs, hotel, meals, local transportation,  etc. The timing is 20th May 2026. Warmest regards J Ramos-Horta”.

Kalau boleh berterus-terang, sebenarnya saya tidak suka dicari menggunakan media sosial dan apalagi hingga menjadi viral. Sebab saya sangat tidak suka diekspos, tidak ada gunanya bagi saya. Apalagi saya bekerja atau melakukan sesuatu bukan untuk mencari nama, bukan untuk menjadi terkenal, tapi  mencoba memberikan yuran sekecil apa pun, untuk  perubahan maju masyarakat negeri ini agar menjadi masyarakat manusia yang manusiawi. Tapi saya memahami mengapa Ramos terpaksa menggunakan cara ini. Ramos tidak mempunyai cara lain.

Kembali pada pertanyaan pokok dari Heru: Apa makna undangan ini bagi perjalanan hidup dan karya seorang Kusni Sulang?

Undangan Ramos selaku Presiden Timor Leste, kalau dilihat dari sudut pandang sempit yaitu ’perjalanan hidup’ dan ’karya’ saya serta sisi persahabatan dua anak manusia, saya memahaminya sebagai imbauan dari seorang sahabat yang tak akan pernah hilang agar  saya tetap tegar melangkah ke depan di alur jalan sudah saya pilih dan yang ia pahami serta ia juga tempuh seperti yang diungkapkan oleh pepatah Bugis “sekali layar terkembang, pantang biduk surut ke pantai”  menuju pantai-pantai tujuan. Atau ”isen mulang”, jika menggunaan ungkspan Dayak Kalimantan Tengah. Lebih baik hanya pulang nama dari pada kembali tanpa membawa kemenangan. Jadi menurut pemahaman kami, isen mulang dalam bahasa Indonesia-nya bukanlah ’pantang mundur’. Sebab jika diterjemahkan sebagai ’pantng mundur’,  terkandung makna maju terus tanpa perhitungsn rasional. Maju secara membabii-buta.

Undangan itu juga saya pahami sebagai imbauan dari seorang sahabat yang tak akan pernah hilang agar  saya tidak lupa sejarah, tidak lupa ’air pahit’ kehidupan; himbauan dari seorang sahabat yang tak akan pernah hilang agar  saya tidak lupa akan makna solidaritas dan bersolidaritas sebagaimana tertera dalam ingatan kolektif selama bertahun-tahun bersama. Oleh adanya solidaritas kuat  maka kita mampu mengatasi beraneka-rupa derita yang mencoba. Himbauan agar tidak melupakan ”masa-masa pahit” diungkapkan melalui undangan ini karena pengalaman mengingatkan kita pada kata-kata Napoleon Bonaparte 1769-1821) bahwa  ”It requires more courage to suffer than to die (Dibutuhkan lebih banyak keberanian untuk menderita daripada mati)”

Selain itu, undangan ini juga saya pahami sebagai imbauan dari seorang sahabat yang tak akan pernah hilang agar  saya tidak lupa akan pentingnya saling mencintai di kalangan sahabat, berdasarkan praktek bertahun-tahun ”saling asih, saling asuh dan saling asah”. Dalam hal ini saya teringat akan kata-kata sohib saya Asmara Nababan alm.: ”Populasi kita tidak banyak, Kusni, karena itu antar kita harus saling menyayangi”.

Undangan dan the highest national award yang dianugerahkan kepada saya adalah bentuk  kemampuan selalu mengingat bantuan para pihak, dan tentu saja rasa kasihsayang pada sahabat ’in need”, sahabat yang tak akan pernah hilang – sesuatu yang sama sekali berbeda dengan memanfaatkan orang lain untuk kepentingan narsis yang marak berkembang di sekitar kehidupan kita yang beraroma hedonistik seperti hari ini.

Dari segi sastra-seni, undangan ini, menggaris bawahi arti penting kerja penulisan. Ramos tahu benar arti pentingnya karena ia sendiri adalah seorang jurnalis, dan sebagai Presiden Timor Leste, ia mengundang saya sebagai pekerja sastra-seni, kongkretnya sebagai penyair asal Dayak. Melalui undangan ini, ketika Ramos mengundang seorang penyair, secara tersirat ia menunjukkan bahwa   Ramos ingin mengatakan bahwa penulis tidak boleh diam. Sebab bahinip kita mati, ujar petani Samuda. ”The world suffers a lot. Not because of the violence of bad people, but because of the silence of good people.”(Dunia sangat menderita. Bukan karena kekerasan orang-orang jahat, tetapi karena diamnya orang-orang baik), jika meminjam kata-kata Napoleon Bonarparte  yang juga melukiskan peran dunia penulisan dalam kata-kata: ”Four hostile newspapers are more to be feared than a thousand bayonets (Empat surat kabar yang bermusuhan lebih ditakuti daripada seribu bayonet)”.

Kiranya bukanlah kebetulan apabila generasi founding-fathers Indonesia adalah para penulis. Demikian pula yang dilakukan oleh José Ramos Horta. Undangan seorang politisi kepada seorang penyair, juga berarti bahwa politisi tersebut adalah seorang politisi berbudaya.

Sehingga kalau diringkas, pertanyaan: Apa makna undangan ini bagi perjalanan hidup dan karya Anda, jawabannya, undangan ini terutama bersifat imbauan, mengingatkan dan menghargai serta memaknai persahabatan serta agar  kita tidak  melupakan sejarah. “Melawan lupa!” jika menggunakan istilah penulis asal Ceko, Milan Kundera.

Secara pribadi, undangan seorang Presiden yang juga peraih Nobel Perdamaian seperti  José Ramos Horta adalah penegasan posisi saya sebagai penerima Anugerah Kebudayaan dan Sastra dari pemerintah pusat Republik Indonesia yang notabene tidak diusulkan oleh Orang Dayak atau Kalimantan Tengah, tapi oleh pekerja budaya dan pihak lain non Dayak, dan dari luar Kalteng. Kongkretnya dari Bali dan Flores – gambaran tentang kompleksnya pekerjaan budaya di provinsi ini.

Di sisi lain undangan dan highest national award yang dianugerahkan kepada saya oleh Presiden Timor Leste, dan saya mau menerimanya, tidak lain merupakan sebuah janji untuk setia pada komitmen manusiawi seorang penyair. Saya tidak punya keberanian memastikan janji tersebut akan mampu saya laksanakan, karena daya tahan seekor kuda diuji dalam perjalanan jauh. Saya masih dalam perjalanan jauh itu. Yang bisa saya katakan, saya mau menyetiai komitmen tersebut seperti halnya keinginan memenuhi harapan tetua dalam keluarga kecil saya saat meninggalkan rumah mencari sekolah di usia 11 (sebelas) tahun dulu: ”Nggati Khéwah Umba Dasi” (Ganti cawat dengan dasi!”. Kemauan adalah modal utama saya selain kata-kata.

Monsieur le Président, mon cher José Ramos Horta, kalau kelak ternyata saya gagal  menepati janji ini, demi digniti atau martabat kita, tolong tarik kembali the highest national award of Timor Leste, yang oleh sementara teman dipadankan dengan Bintang Maha Putera di Indonesia ini, dari saya.  Saya tidak mau the highest national award of Timor Leste,  martabat dan persahabatan kita ternoda.***

 

 

Editor : Heru Prayitno
Presiden Ramos Horta Kusni Sulang