SAMPIT, Radarsampit.jawapos.com - Meskipun ruang gerak terbatas, semangat belajar Warga Binaan Lapas Sampit tak pernah surut. Lewat kehadiran perpustakaan keliling, mereka kini bisa membuka jendela dunia dari balik jeruji besi.
Jeruji besi dan dinding beton yang kokoh kerap melambangkan batasan, kesunyian, dan waktu yang terasa berjalan begitu lambat.
Namun, di sudut halaman Lapas Kelas IIB Sampit siang itu, suasana sunyi perlahan meluruh. Sebuah mobil berpintu terbuka lebar menjadi pusat perhatian bukan kendaraan biasa, melainkan perpustakaan keliling yang membawa ratusan "jendela dunia".
Baca Juga: Pejabat Baru! Halikinnor: Jabatan Bukan Sekadar Posisi, Buktikan dengan Kinerja
Ketika pintu bagasi yang penuh rak buku dibuka, langkah-langkah kaki berpindah. Para Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) berbondong-bondong mendekat. Jemari yang terbiasa bersentuhan dengan jeruji, kini perlahan menelusuri lembar demi lembar kertas berpembatas.
Ada mata yang berbinar saat menemukan buku petunjuk bercocok tanam, ada yang dengan khusyuk memilih kitab keagamaan, dan tak sedikit pula yang terhanyut menatap untaian kata dalam novel sastra.
Bagi mereka, buku bukan lagi sekadar tumpukan kertas, melainkan teman bicara yang tidak pernah menghakimi masa lalu.
Baca Juga: Karhutla Masih Terjadi di Sejumlah Wilayah Kalteng, Pengendalian dan Koordinasi Diperkuat
"Berada di balik jeruji bukan berarti kesempatan untuk belajar harus terhenti," ujar Kalapas Kelas IIB Sampit, Muhammad Yani sembari menatap antusiasme para warga binaan yang merubung rak-rak buku.
Bagi Yani, setiap lembar bacaan adalah benih harapan. Waktu yang selama ini terasa menghimpit, kini diisi dengan wawasan baru. Budaya membaca di balik jeruji ini dirancang bukan sekadar untuk membunuh sepi, melainkan sebagai bagian dari proses pembinaan kepribadian sebuah upaya mengikis trauma dan penyesalan untuk digantikan dengan motivasi baru.
Baca Juga: Maulid Nabi 1448 H Jadi Momentum GPW Kotim Perkuat Silaturahmi dan Kebersamaan Antaranggota
"Buku itu bisa menjadi jendela untuk melihat dan memahami banyak hal, meskipun mereka saat ini sedang menjalani masa pidana," tutur Yani penuh tekad. "Harapannya, apa yang mereka dapatkan bisa jadi bekal. Ada nilai positif yang bisa dibawa ketika nanti mereka kembali merangkul masyarakat."
Di balik dinding yang membatasi ruang gerak fisik mereka, imajinasi dan harapan kini terbang bebas lewat bacaan. Di Lapas Sampit, literasi telah menjadi lilin kecil yang menyalakan kembali asa di dalam kegelapan jeruji besi. (*/fm)
Editor : Farid Mahliyannor