Rusaknya Ekosistem dan Rantai Makanan Akibat Dampak Karhula Bakal Dirasakan Manusia

Yuni Pratiwi Iskandar • Dipublikasikan Kamis, 10 September 2026 | 21:16 WIB
Seekor ular pemangsa tikus yang turun mati terpanggang di areal kebakaran lahan, dan sudah sering ditemukan oleh petugas pemadaman.(istimewa/modifikasi AI)
Seekor ular pemangsa tikus yang turun mati terpanggang di areal kebakaran lahan, dan sudah sering ditemukan oleh petugas pemadaman.(istimewa/modifikasi AI)

Serangga Penyerbuk Berkurang, Tikus Berpotensi Mengganas

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih menjalar, selain merugikan semua pihak, diprediksi juga bakal memunculkan dampak kerusakan ekosistem. Banyak satwa kehilangan habitat, rantai makanan terganggu, hingga ancaman ledakan populasi tikus yang berpotensi menghantam tanaman pertanian dan perkebunan.

-------------------

Ular menjadi salah satu satwa liar yang paling terdampak ketika habitatnya terbakar. Padahal, keberadaan ular memiliki peran penting sebagai predator alami tikus.

“Ular itu predator alami tikus. Setelah kebakaran ini, perkiraan kami tikus akan menjadi masalah besar bagi petani karena bisa menyerang tanaman, baik sawit, buah-buahan maupun sayur-mayur,” kata Muriansyah, Komandan BKSDA Resor Sampit.

Ketika populasi ular menyusut, keseimbangan rantai makanan ikut terganggu. Predator berkurang, sementara tikus memiliki peluang berkembang lebih banyak. Pada akhirnya, persoalan ekologis itu dapat berbalik menjadi persoalan ekonomi bagi petani.

Bukan hanya ular yang menjadi korban. Serangga penyerbuk juga ikut terdampak. Api dan kepulan asap dapat mematikan berbagai jenis serangga yang berperan dalam membantu proses pembungaan dan pembuahan tanaman.

“Serangga penyerbuk juga banyak yang mati, baik karena api maupun asap kebakaran. Ini juga menjadi masalah setelah kebakaran karena tanaman buah-buahan akan sedikit berbunga dan berbuah,” papar Muriansyah.

Dampaknya mungkin tidak langsung terlihat. Namun lanjutnya, ketika musim buah tiba, efeknya bisa terasa. Tanaman yang seharusnya berbunga dan menghasilkan buah justru mengalami penurunan produktivitas akibat terganggunya proses penyerbukan.

Baca Juga: Mengenaskan, Tenggiling Jadi Korban Karhutla di Desa Terantang

Muriansyah menegaskan, kekhawatiran tersebut bukan tanpa alasan. Pengalaman karhutla besar di Kotim pada 2015 dan 2019 menjadi gambaran bahwa kerusakan ekosistem dapat meninggalkan dampak panjang terhadap sektor perkebunan.

Saat itu, produksi buah kelapa sawit di Kotim disebut mengalami penurunan hingga sekitar 60 persen. Pemulihannya pun tidak berlangsung seketika. Tanaman membutuhkan waktu hingga sekitar dua tahun untuk kembali menghasilkan produksi secara normal.

Dampak serupa berpotensi dirasakan pemilik kebun buah. Tanaman musiman seperti durian sangat bergantung pada kondisi lingkungan dan keberadaan serangga penyerbuk. Ketika vegetasi rusak dan serangga berkurang, proses tanaman menghasilkan bunga hingga buah ikut terganggu.

“Dampak kebakaran terhadap satwa liar ternyata berbalik ke kita, manusia, lagi,” tegas Muriansyah.

Selain itu lanjutnya, dalam kondisi terdesak akibat karhutla, satwa dapat bergerak keluar dari habitatnya. Pergerakan itu bisa membawa mereka masuk ke perkebunan, ladang, bahkan kawasan permukiman warga.

Di titik inilah persoalan baru dapat muncul. Pertemuan antara satwa liar dan manusia berpotensi berubah menjadi konflik.

Kemunculan satwa liar juga mulai dilaporkan di sejumlah wilayah yang berdekatan dengan kawasan terdampak karhutla.

Pihak BKSDA pun meminta masyarakat tidak mengambil tindakan sendiri apabila menemukan satwa liar keluar dari habitatnya. Warga diminta segera melaporkan temuan tersebut kepada petugas agar dapat dilakukan pemantauan dan penanganan sesuai kondisi di lapangan.

Muriansyah menambahkan, dengan kondisi kemarau panjang tahun ini, dampak tersebut dinilai berpotensi semakin besar. Terlebih jika kebakaran berlangsung lama dan meluas seperti yang pernah terjadi pada tahun-tahun sebelumnya.

Ia pun berharap hujan segera turun untuk membantu meredam ancaman karhutla. Berdasarkan perkiraan BMKG yang diketahuinya, hujan mulai berpeluang turun pada Oktober hingga November. “Semoga hujan cepat turun,” harapnya.(yn/gus)

 

Editor : Agus Jaka Purnama
bksda kerusakan ekosistem karhutla ular