
Penyiraman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), yang mulai terkendala mengeringnya sumber-sumber air, membuat Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) diharapkan membuahkan hasil. Di sisi lain, pemerintah setempat pun berencana menggelar Salat minta hujan (Istisqa), agar hujan segera turun.
----------------------------
Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang digelar Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah digelar beberapa hari hingga Senin 17 Agustus 2026.
Dua unit pesawat disiapkan untuk operasi modifikasi cuaca agar dapat menghasilkan potensi terjadinya hujan buatan. Sasaran diantaranya di kawasan Tumbang Nusa Kabupaten Pulang Pisau, Kota Palangka Raya, serta Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim).
Penyemaian garam atau Natrium Klorida (NCl) sebagai bahan semai, diangkut dengan pesawat jenis Cessna, dengan kapasitas angkut mencapai 1000 kilogram NCl, dalam sekali terbang.
Baca Juga: Karhutla masih Mengepung Kalteng. Berharap Modifikasi Cuaca Berhasil
Penyebaran garam di udara dilakukan dengan membidik awan yang dinilai memiliki potensi menghasilkan hujan.
Wakil Koordinator III Satgas Karhutla Kotim, Rihel, mengatakan OMC telah beberapa kali dilakukan dari Palangka Raya, termasuk menyasar sejumlah wilayah Kotim.
“Untuk Kotim sudah dilakukan OMC dari Palangka Raya. Beberapa hari lalu sudah menyemai garam kurang lebih sekitar 1.000 kilogram atau satu ton,” ujarnya, Sabtu (15/8).
Menurutnya penyemaian tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Pesawat harus mencari awan yang memenuhi kondisi tertentu agar bahan semai yang dilepaskan memiliki peluang memicu hujan.
Namun lanjut Rihel, hasil penyemaian tidak selalu membuat hujan turun tepat di wilayah yang ditargetkan. Kondisi atmosfer, terutama arah dan kecepatan angin, sangat menentukan pergerakan awan setelah proses penyemaian.
“Potensi awan hujan itu sendiri, kemudian arah angin yang akan menentukan. Walaupun potensi hujannya banyak, arah dan kecepatan angin akan menentukan. Apa yang kita harapkan di kota belum tentu hujan masuk ke wilayah kota,” paparnya.
Diungkapkan Rihel, sejumlah wilayah Kotim sempat diguyur hujan setelah pelaksanaan OMC. Hujan antara lain terjadi di wilayah Cempaga Hulu dan sejumlah kawasan utara seperti Telaga Antang. Namun diakuinya, intensitasnya masih rendah dan berlangsung singkat.
“Memang tidak langsung di Kota Sampit, tetapi beberapa hari ini ada hujan di daerah Cempaga Hulu. Itu salah satu hasil dari OMC,” sebutnya.
Penyemaian juga menyasar kawasan selatan Kotim, termasuk Ujung Pandaran, Kecamatan Teluk Sampit.Wilayah tersebut menjadi sasaran setelah patroli udara menemukan adanya awan yang dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi hujan.
“Sekalian dilakukan patroli udara untuk mengecek kebakaran hutan dan lahan serta melihat potensi awan hujan di sana. Kalau potensinya ada, kenapa tidak dicoba. Ini salah satu upaya untuk mengurangi kekeringan. Kalau ada hujan, lumayan sehingga tidak sampai kondisi kering sekali,” papar Rihel.
Selain usaha tersebut, upaya agar hujan turun terus dilakukan pemerintah, termasuk melalui pelaksanaan ibadah Salat minta hujan (Istisqa), yang rencananya dalam waktu dekat digelar Pemkab Kotim.
“Waktu pelaksanaannya masih menunggu kesepakatan dalam menjadwalkan waktunya.Lokasi pelaksanaan juga belum ditentukan. Pemerintah masih mempertimbangkan, apalah di halaman rumah jabatan bupati atau di lapangan kantor bupati,”pungkas Rihel.
Diharapkannya, ikhtiar dan doa itu nantinya mendapat keberkahan dan hujan segera turun di wilayah Kotim. “Mudah-mudahan dengan doa istisqa, hujan bisa turun di wilayah kita,” harapnya.(ktr-2/gus)
Editor : Agus Jaka Purnama