Radarsampit.jawapos.com - Pagi baru saja merekah ketika deru pelan sepeda motor milik Asmad memecah keheningan di Jalan Menteng 1, Sampit.
Di bagian belakang motornya terpasang sebuah gerobak sederhana, teman setia yang setiap hari menemaninya menyusuri jalan-jalan kecil, semak belukar, hingga lahan kosong demi satu tujuan, mencari rumput.
Di usia 64 tahun, langkahnya memang tak lagi secepat dulu. Namun semangatnya belum pernah surut. Satu demi satu ikat rumput dikumpulkan dengan sabit di tangan. Keringat mengalir di bawah terik matahari, sementara musim kemarau membuat pencarian pakan semakin sulit.
Baca Juga: Sekolah Rakyat di Palangka Raya sudahJaring 135 Murid Baru. Kuota masih Tersedia
Rumput-rumput hijau yang dahulu mudah ditemukan kini berubah kecokelatan. Tanah mengeras. Sebagian lahan tampak gersang.
"Kalau musim kemarau begini, cari rumput susah. Banyak rumput yang sudah kuning dan kering," ucapnya lirih.
Bagi sebagian orang, mencari rumput mungkin pekerjaan sepele. Namun bagi Asmad, setiap helai rumput adalah harapan. Dari rumput itulah sapi-sapi Madura peliharaannya tumbuh besar, dan dari sapi-sapi itulah roda kehidupan keluarganya terus berputar.
Usaha ternak yang dijalaninya bukan bisnis besar dengan puluhan kandang. Hanya beberapa ekor sapi yang dirawat dengan penuh kesabaran. Ia membeli sapi ketika usianya sudah cukup dewasa dengan harga sekitar Rp20 juta per ekor. Setelah dipelihara selama tujuh bulan, sapi bisa dijual kembali sekitar Rp25 juta, bergantung pada bobot dan kesehatannya.
Baca Juga: Mitigasi Potensi Kebakaran di Palangka Raya Perlu Ditingkatkan
Selisih itulah yang menjadi nafkah.
Namun, keuntungan itu bukan datang begitu saja. Ada hari-hari panjang yang diisi kerja tanpa mengenal libur. Sejak matahari terbit hingga menjelang sore, waktunya habis untuk mencari pakan, membersihkan kandang, hingga memastikan sapi tetap sehat.
Di kandangnya yang sederhana, Asmad percaya bahwa merawat ternak membutuhkan kasih sayang, bukan sekadar rutinitas.
Setiap hari sapi-sapi itu diberi rumput segar, air minum, dan sedikit garam. Seminggu sekali, ia meracik jamu tradisional dari temu lawak dan bawang merah yang ditumbuk, direbus, lalu didinginkan sebelum diminumkan kepada ternaknya.
Sesekali ia menambahkan campuran telur ayam kampung, kecap manis, dan kecap asin. Bukan resep dari buku peternakan modern, melainkan pengetahuan yang diwariskan dari pengalaman dan kebiasaan para peternak terdahulu.
Baca Juga: Diusia ke 69 Kota Palangka Raya, Komitmen Percepatan Pembangunan Harus Diperkuat
Baginya, kesehatan sapi adalah investasi paling berharga.
Begitu pula kandang. Tak ada hari tanpa membersihkannya. Kotoran disapu, lantai dicuci, dan sisa pakan dibuang agar sapi tetap nyaman.
"Kalau kandang tidak dibersihkan, pertumbuhan sapi bisa lambat dan rawan terkena penyakit," katanya.
Tak ada keluhan yang keluar dari bibir lelaki itu. Padahal, usia tak lagi muda, tenaga mulai terbatas, sementara kemarau memaksanya bekerja lebih keras.
Barangkali, hidup memang mengajarkan bahwa ketabahan tidak selalu lahir dari kemudahan. Kadang ia tumbuh justru dari kesederhanaan, dari gerobak kecil di belakang sepeda motor, dari sabit yang terus mengayun di padang rumput yang mulai mengering, dan dari keyakinan bahwa setiap usaha akan menemukan jalannya.
Baca Juga: Perkuat Jalinan Kemitraan, KSOP Silaturahmi ke Radar Sampit
Di balik kandang sederhana itu, Asmad sedang merawat lebih dari sekadar sapi. Ia sedang memelihara harapan, bahwa selama tubuhnya masih kuat melangkah dan tangannya masih mampu menggenggam sabit, akan selalu ada rezeki yang bisa dibawa pulang.
Sore nanti, ketika matahari mulai condong ke barat, ia akan kembali ke rumah dengan gerobak penuh rumput. Esok pagi, perjalanan itu akan dimulai lagi.
Begitulah hari-hari Asmad. Sunyi, sederhana, tetapi penuh makna. Di tengah musim kemarau yang mengeringkan rerumputan, ia memilih tetap percaya bahwa kerja keras adalah jalan terbaik untuk menjaga kehidupan. (ian/fm)
Editor : Farid Mahliyannor