Persaingan menuju kursi Rektor Universitas Palangka Raya (UPR) memasuki babak yang semakin menarik. Pemungutan suara tahap pertama di tingkat Senat UPR belum menghasilkan pemenang. Tiga nama dipastikan melaju ke tahap akhir setelah memperoleh suara terbanyak.
--------------------------------
Dr. Thea Farina, S.H., M.Kn. tampil sebagai peraih suara tertinggi dengan 16 suara. Sementara itu, Prof. Bhayu Rhama dan Prof. Liswara Neneng sama-sama mengumpulkan 11 suara sehingga berhak mendampingi Thea pada putaran penentuan.
Bagi Thea, pencapaian tersebut bukan sekadar hasil kontestasi. Perempuan kelahiran Palangka Raya tahun 1984 itu justru melihatnya sebagai amanah untuk membawa kampus yang telah menjadi bagian dari hidupnya sejak kecil.
Universitas Palangka Raya bukan tempat yang asing bagi Thea. Ia lahir, tumbuh, dan besar di Kota Palangka Raya, di tengah masyarakat Kalimantan Tengah yang menjunjung tinggi nilai kebersamaan, gotong royong, dan penghormatan terhadap keberagaman.
Putri mantan Rektor UPR, Prof. Elia Embang, itu mengaku mengenal UPR bahkan sebelum menjadi mahasiswa. Baginya, kampus bukan hanya institusi pendidikan, melainkan bagian dari lingkungan tempat dirinya bertumbuh.
"UPR bukan sekadar institusi. UPR adalah tempat saya belajar, bertumbuh, dan mengabdi. UPR adalah rumah yang ingin saya bangun bersama agar semakin maju, semakin relevan, dan semakin berdampak," ujarnya.
Kedekatan emosional itu kemudian berlanjut menjadi perjalanan akademik. Thea menempuh pendidikan Sarjana di Fakultas Hukum UPR, melanjutkan Magister Kenotariatan di Universitas Surabaya, kemudian meraih gelar doktor ilmu hukum di Fakultas Hukum Universitas Brawijaya.
Baca Juga: Penentuan Rektor UPR Ditangan Kementrian, Tiga Kandidat Lolos ke Tahap Akhir
Kini ia menyandang jabatan akademik Lektor Kepala sekaligus dipercaya memimpin Fakultas Hukum UPR sebagai dekan.
Ia pernah menjadi dosen, terlibat dalam penjaminan mutu, menjabat Ketua Jurusan, Wakil Dekan Bidang Akademik, hingga akhirnya dipercaya sebagai Dekan Fakultas Hukum.
Tidak hanya itu, ia juga aktif dalam berbagai hibah kompetitif nasional, pengembangan kolaborasi akademik, pengabdian kepada masyarakat, serta pembinaan prestasi mahasiswa.
Berbagai pengalaman tersebut, menurutnya, membuat dirinya memahami kebutuhan kampus dari berbagai sisi.
"Saya tidak hanya membawa pengalaman akademik dan kepemimpinan, tetapi juga membawa rasa memiliki terhadap Universitas Palangka Raya," katanya.
Dalam kontestasi pemilihan rektor, Thea berkali-kali menegaskan bahwa masa depan UPR tidak boleh bergantung pada satu orang.
Menurutnya, kemajuan universitas hanya bisa diwujudkan melalui kolaborasi seluruh sivitas akademika."Masalah masa depan UPR tidak ditentukan oleh satu orang, melainkan oleh kemampuan seluruh sivitas akademika untuk bergerak, berkolaborasi, dan bertumbuh bersama," tuturnya.
Ia memandang UPR telah memiliki fondasi yang kuat. Namun tantangan pendidikan tinggi ke depan semakin kompleks sehingga membutuhkan transformasi yang terarah.
Karena itu, visi, misi, dan program yang ditawarkannya bukan sekadar janji politik kampus, melainkan peta jalan menuju UPR yang unggul, inklusif, kolaboratif, dan berdampak bagi Kalimantan Tengah, Indonesia, hingga dunia."Thea bisa, kita bisa, dan UPR bisa," ucapnya.
Thea mengusung visi mewujudkan Universitas Palangka Raya sebagai perguruan tinggi yang unggul, inklusif, kolaboratif, dan berdampak berbasis kearifan lokal, sains, serta teknologi.Visi tersebut diterjemahkan dalam lima arah transformasi.
Pertama, unggul, yakni meningkatkan kualitas pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, tata kelola, dan reputasi akademik agar mampu bersaing secara nasional maupun global.
Kedua, inklusif, dengan menjadikan UPR sebagai rumah bagi seluruh sivitas akademika tanpa membedakan latar belakang, serta memastikan setiap potensi memperoleh kesempatan berkembang.
Ketiga, kolaboratif, melalui penguatan kerja sama dengan pemerintah, dunia usaha, dunia industri, masyarakat, alumni, dan mitra nasional maupun internasional.
Keempat, berdampak, yakni memastikan seluruh aktivitas pendidikan, penelitian, dan pengabdian memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Kalimantan Tengah dan Indonesia.
Kelima, berbasis kearifan lokal, sains, dan teknologi, yaitu memadukan kekayaan budaya Kalimantan Tengah dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Untuk mewujudkan visi tersebut, Thea merancang lima program prioritas yang diberi nama THEA BISA.Program pertama adalah penguatan sumber daya manusia yang unggul, profesional, adaptif, dan berdaya saing global.
Program kedua berupa penguatan infrastruktur akademik melalui transformasi smart campus yang modern dan berkelanjutan.
Program ketiga fokus pada transformasi pendidikan serta pengembangan mahasiswa guna meningkatkan daya saing lulusan.
Program keempat diarahkan pada optimalisasi tata kelola keuangan, transformasi Badan Layanan Umum (BLU), dan penguatan kemandirian institusi.
Sedangkan program kelima menitikberatkan pada penguatan ekosistem riset unggulan, hilirisasi hasil penelitian, serta inovasi berbasis kearifan lokal.
Menurut Thea, keberhasilan sebuah visi tidak diukur dari banyaknya program yang dibuat, melainkan perubahan nyata yang dirasakan kampus.
Karena itu, ia menetapkan target transformasi hingga 2030.Di bidang sumber daya manusia, ia menargetkan peningkatan jumlah dosen berkualifikasi doktor, percepatan lahirnya guru besar dan lektor kepala, serta meningkatnya publikasi internasional.
Pada bidang infrastruktur, ia ingin mewujudkan One Data UPR sebagai fondasi smart campus yang terintegrasi.Sementara pada aspek akademik, ia menilai UPR memiliki posisi strategis dalam pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni guna mendukung pembangunan Kalimantan Tengah.
Salah satu gagasan yang menjadi perhatian Thea adalah memperkuat posisi mahasiswa dalam proses pengambilan kebijakan kampus.
Baginya, mahasiswa bukan sekadar objek pelayanan, tetapi harus menjadi bagian dari proses pembangunan universitas.
"Mahasiswa adalah alasan utama UPR ada. Setiap kebijakan yang berkaitan dengan mahasiswa harus melibatkan mahasiswa. Kami ingin membangun UPR yang kolaboratif, berdampak, dan mampu bersaing dengan universitas terbaik di Indonesia," tegasnya.
Pada akhirnya, bagi Thea, kepemimpinan bukan soal bekerja sendiri, melainkan menggerakkan seluruh kekuatan kampus menuju tujuan bersama.
"Saya tidak hadir membawa janji untuk bekerja sendiri. Saya hadir mengajak seluruh sivitas akademika bersama-sama membangun UPR yang unggul, inklusif, kolaboratif, dan berdampak untuk Kalimantan Tengah, Indonesia, dan masa depan generasi berikutnya," tandasnya.(daq)
Editor : Agus Jaka Purnama