Radarsampit.jawapos.com - Tak semua kerinduan bisa segera terwujud. Bagi Airinur dan Maspiawati, warga Samuda, butuh waktu 13 tahun hingga akhirnya dapat memenuhi panggilan ke Baitullah dan menatap Ka’bah dari dekat.
Di antara riuh suasana penyambutan jemaah haji yang baru tiba di Bandara Haji Asan Sampit, pasangan tersebut tampak larut dalam rasa syukur. Kebahagiaan karena berhasil menunaikan rukun Islam kelima bercampur dengan kerinduan yang masih tertinggal di Kota Makkah.
Perjalanan menuju Tanah Suci bukanlah sesuatu yang datang dalam sekejap. Sejak mendaftar pada 2012, keduanya harus bersabar menunggu giliran keberangkatan.
Baca Juga: Temukan Dua Sarang Beruang Madu di Sungai Paring, BKSDA Pasang Perangkap
Tahun demi tahun berlalu, hingga akhirnya kesempatan itu benar-benar datang pada musim haji tahun ini.
Bagi Maspiawati, ada satu momen yang hingga kini masih membekas kuat dalam ingatannya. Momen itu terjadi ketika untuk pertama kalinya ia melihat Ka'bah secara langsung.
Selama ini, bangunan suci yang menjadi kiblat umat Islam itu hanya ia kenal lewat foto, televisi, dan cerita para jemaah yang lebih dulu berhaji. Namun ketika berdiri di hadapannya, perasaan yang muncul jauh berbeda dari apa yang pernah ia bayangkan.
"Alhamdulillah, rasanya luar biasa. Sulit menggambarkannya dengan kata-kata. Semua pengalaman di sana sangat berkesan," ujarnya.
Baca Juga: Cegah Konflik Warga dan PT CKS, DPRD Desak Pemkab dan Polisi Segera Verifikasi Lapangan
Tak hanya tawaf mengelilingi Ka'bah, berbagai rangkaian ibadah lainnya juga meninggalkan kesan mendalam. Salah satunya ketika harus bermalam di area terbuka saat puncak pelaksanaan haji.
Beristirahat dengan alas sederhana dan beratapkan langit membuatnya merasakan suasana yang sulit ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Di tengah jutaan manusia dari berbagai negara, ia menyaksikan bagaimana status sosial, profesi, dan latar belakang melebur menjadi satu.
Menurutnya, pengalaman tersebut memberikan pelajaran berharga tentang kesederhanaan dan kesetaraan manusia di hadapan Sang Pencipta.
Baca Juga: Petani Rubung Buyung Ancam Demo PT SCC, Klaim Rugi Ratusan Juta Akibat Banjir
Perjalanan itu tentu tidak selalu mudah. Suhu udara yang mencapai lebih dari 40 derajat Celsius menjadi tantangan tersendiri bagi para jemaah. Meski demikian, Maspiawati bersyukur seluruh rangkaian ibadah dapat dijalani dengan lancar.
"Hampir semua jemaah mengalami batuk dan pilek ringan karena cuaca yang sangat panas. Tapi alhamdulillah semuanya bisa dilalui," katanya.
Bagi Airinur, perjalanan haji tahun ini menjadi jawaban atas penantian panjang yang selama ini ia simpan dalam doa. Setelah lebih dari satu dekade menunggu, ia akhirnya bisa berdiri di pelataran Masjidil Haram dan menyaksikan Ka'bah dari jarak yang begitu dekat.
Baca Juga: 21 Ribu Umat Hindu di Kotim, Kekurangan Guru Agama dan Fasilitas Ibadah
Meski belum sempat mencium Hajar Aswad karena padatnya lautan manusia yang memadati area tawaf, ia tetap merasa bersyukur. Baginya, bisa mendekati dan menyentuh dinding Ka'bah saja sudah menjadi nikmat yang tak ternilai.
Namun, ada satu momen yang justru paling menguras perasaannya. Bukan saat tiba di Makkah, melainkan ketika harus meninggalkan kota suci tersebut untuk kembali ke Indonesia.
Perasaan bahagia karena akan bertemu keluarga bercampur dengan kesedihan karena harus berpisah dengan tempat yang selama ini menjadi impian jutaan umat Islam.
"Sedih karena harus meninggalkan Makkah dan Ka'bah. Tapi di sisi lain senang karena akan bertemu anak dan keluarga di rumah," ungkapnya.
Baca Juga: Bandara H. Asan Sampit Bersiap Naik Kelas, Apron Baru Ditarget 2027
Meski telah kembali ke Kotawaringin Timur, kenangan selama berada di Tanah Suci masih terus melekat dalam ingatan pasangan tersebut. Setiap sudut Makkah seolah menyimpan cerita yang sulit dilupakan.
Kini, setelah berhasil menyempurnakan rukun Islam kelima, keduanya menyimpan harapan sederhana. Jika kelak diberikan kesehatan dan rezeki yang cukup, mereka ingin kembali menapakkan kaki di Tanah Suci melalui ibadah umrah.
Sebab bagi Airinur dan Maspiawati, perjalanan ke Makkah bukan sekadar perjalanan ribuan kilometer. Lebih dari itu, perjalanan tersebut adalah kisah tentang kesabaran menunggu, keteguhan menjaga harapan, dan kerinduan yang justru semakin besar setelah impian itu terwujud. (*/fm)
Editor : Farid Mahliyannor