Penyerapan gabah petani lokal Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) oleh Perusahaan Umum (Perum) Badan Urusan Logistik (Bulog) setempat, mulai menunjukan hasil melewati semester III tahun 2026 ini. Namun, seluruhnya masih berasal dari satu wilayah, Desa Lempuyang Kecamatan Teluk Sampit.
------------------------
Penyerapan gabah oleh Perum Bulog Cabang Kotim tidak hanya menjaga stabilitas stok pangan, tetapi juga berdampak langsung terhadap perekonomian petani dan inflasi daerah.
Di tahun 2026 ini, Perum Bulog menaikkan target penyerapan gabah petani menjadi 16.000 ton. Peningkatan target ini didorong oleh bertambah luasnya tanam serta meningkatnya produktivitas lahan pertanian, khususnya di sejumlah wilayah sentra produksi. Seperti Pagatan (wilayah Kabupaten Katingan), Lempuyang, dan Seruyan.
“Serapan gabah ini juga berpengaruh terhadap inflasi, khususnya di sektor rumah tangga petani. Karena mereka menikmati harga Gabah Kering Panen (GPK) Rp6.500 yang relatif stabil, sehingga penghasilan mereka juga lebih terjaga,” ujarnya Kepala Perum Bulog KC Kotim Muhammad Azwar Fuad kepada radar sampit.
Baca Juga: Bulog Buka Kemitraan Pengecer untuk Perluas Distribusi MinyakKita di Kotim
Dengan demikian tegasnya, serapan gabah kering panen (GKP) dengan harga Rp6.500 per kilogram turut memberikan kepastian pendapatan bagi petani. Kondisi ini di dinilai membantu menjaga stabilitas ekonomi rumah tangga petani.
Ia mengungkapkan, hingga 5 Mei 2026, realisasi serapan gabah di Kotim telah mencapai sekitar 3.500 ton, dan seluruhnya berasal dari wilayah Desa Lempuyang Kecamatan Teluk Sampit. Jika dikonversikan ke uang, nilai serapan tersebut setara dengan sekitar Rp23 Miliar dana yang telah digelontorkan ke petani.
“Artinya ada aliran dana yang cukup besar masuk ke rumah tangga petani, khususnya di Kecamatan Teluk Sampit. Ini otomatis mendorong perputaran ekonomi di wilayah tersebut,” papar Azwar Fuad.
Sementara itu, jika digabung dengan serapan gabah dari Pagatan dan Seruyan, Perum Bulog Kotim sudah mengumpulkan sekitar 8.000 ton atau sekitar 50 persen dari target, sebesar 16 ribu ton gabah.” Ini menunju kan progres yang cukup baik,” tambahnya.
Azwar Fuad menegaskan pihaknya yakin target serapan gabah tahun ini dapat tercapai, seiring dengan masa panen yang masih berlangsung di sejumlah wilayah, serta komitmen untuk terus menyerap hasil panen petani dengan harga yang telah ditetapkan pemerintah.
Namun demikian, hal penting yang perlu diperhatikan yakni tingkat kekeringan gabah, sehingga membutuhkan waktu jemur yang lebih lama, bisa lebih dari tujuh hari. Tak jarang musim hujan menjadi kendala, karena membuat kadar air gabah sulit mencapai standar ideal, yakni harus tersisa 14 persen untuk bisa digiling menjadi beras.(yn/gus)
Editor : Agus Jaka Purnama