Radar Utama Kalteng Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Berkah Ramadan di Tessea Kafe; Dari Nongkrong, Berbuka, hingga Sahur

Heru Prayitno • Jumat, 20 Maret 2026 | 16:05 WIB

Suasana di Tessea Kafe di Jalan Jenderal Ahmad Yani Sampit yang buka dari pagi hingga pagi lagi.
Suasana di Tessea Kafe di Jalan Jenderal Ahmad Yani Sampit yang buka dari pagi hingga pagi lagi.

 

SAMPIT, radarsampit.jawapos.com - Menjelang Hari Raya Idulfitri, suasana di Tessea Kafe semakin hidup. Tempat nongkrong di Jalan Jenderal Ahmad Yani Sampit ini mengalami lonjakan jumlah pengunjung selama bulan Ramadan, terutama pada waktu menjelang berbuka puasa hingga malam hari.

Pemilik Tessea Kafe, Teguh Prihantoro, mengatakan bahwa peningkatan pengunjung sudah terasa sejak awal Ramadan dan semakin meningkat mendekati Lebaran. Menurutnya, momen Ramadan memang selalu menjadi periode yang cukup sibuk bagi pelaku usaha kafe.

“Jumlah pengunjung meningkat drastis dibandingkan hari biasa. Apalagi menjelang Lebaran seperti sekarang, suasana kafe jadi lebih ramai,” ujarnya.

Jika pada hari biasa kafe dibuka sejak pagi, selama Ramadan operasional Tessea Kafe menyesuaikan dengan kebiasaan masyarakat yang menunggu waktu berbuka puasa. Teguh menjelaskan, pengunjung biasanya mulai berdatangan pada sore hari.

“Sejak sore sudah mulai banyak yang melakukan reservasi untuk berbuka puasa bersama,” katanya. 

Meski begitu, aktivitas di kafe tidak sepenuhnya berhenti pada pagi hari. Teguh menyebutkan bahwa masih ada pelanggan yang datang untuk bekerja atau sekadar bersantai.

“Walaupun puasa, tetap ada yang datang pagi karena banyak pelanggan yang ingin nongkrong atau work from cafe,” tambahnya.

Lonjakan pengunjung tersebut juga berdampak langsung pada omzet usaha. Teguh mengaku pendapatan kafe selama Ramadan meningkat cukup signifikan dibandingkan bulan-bulan biasa.

Ia menilai, salah satu faktor yang membuat kafe ramai adalah banyaknya perantau yang pulang ke daerah asal menjelang Lebaran. Kondisi ini membuat tempat-tempat berkumpul seperti kafe menjadi pilihan untuk bertemu teman lama atau keluarga.

“Hampir semua kafe ikut ramai karena banyak perantau yang pulang kampung,” jelasnya.

Untuk menarik minat pengunjung, Tessea Kafe juga menyediakan beberapa pilihan menu khusus Ramadan. Selain menu reguler yang sudah tersedia sebelumnya, kafe ini menawarkan paket berbuka puasa bagi pelanggan yang datang bersama teman atau keluarga. Ada wedang jahe dan wedang ronde yang cocok untuk menemani tamu hingga tengah malam. 

Tidak hanya dari segi menu, suasana Ramadan juga dihadirkan melalui hiburan di kafe tersebut. Live music akustik tetap digelar, namun diselingi dengan lagu-lagu bernuansa Islami.

Menurut Teguh, tren nongkrong di kafe selama Ramadan juga dipengaruhi oleh faktor libur kuliah. Banyak mahasiswa yang pulang ke daerah asal dan memanfaatkan waktu untuk berkumpul bersama teman-teman.

“Biasanya anak-anak muda yang paling banyak datang. Tapi ada juga keluarga, apalagi kafe kami buka sampai waktu sahur,” ungkapnya.

Meski Ramadan menjadi musim panen bagi pelaku usaha kafe, Teguh menyadari bahwa kondisi tersebut bersifat musiman. Setelah Ramadan dan Lebaran berlalu, aktivitas kafe biasanya kembali normal seperti bulan-bulan sebelumnya.

Ia juga menilai persaingan usaha kafe kini semakin ketat. Jika dulu daerahnya dikenal dengan sebutan kota seribu kubah, kini bisa dibilang berubah menjadi kota seribu kafe.

“Sekarang bisa dibilang seperti kota seribu kafe, karena semakin banyak usaha sejenis bermunculan,” pungkas pria yang bekerja sebagai pegawai BUMN ini.  (yit)

 

Editor : Heru Prayitno
#kafe #ramadan