Radar Utama Kalteng Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Aktivitas Murid SR di Kotim saat Ramadan dan Menjelang Lebaran. Diterapkan Disiplin, Pulang ke Kampung Harus Dipantau RT

Yuni Pratiwi Iskandar • Kamis, 19 Maret 2026 | 16:35 WIB

Sejumlah murid Sekolah Rakyat saat berkumpul mengisi kegiatan Ramadan di Masjid Wahyu Al Hadi, komplek Islamic Center Kotim, baru-baru tadi.
Sejumlah murid Sekolah Rakyat saat berkumpul mengisi kegiatan Ramadan di Masjid Wahyu Al Hadi, komplek Islamic Center Kotim, baru-baru tadi.

Suasana Ramadan di Sekolah Rakyat (SR) Terpadu 55 Kotawaringin Timur (Kotim) terasa berbeda. Sejak 14 Maret 2026, para murid diperbolehkan pulang ke rumah orang tua atau keluarga, untuk menjalani libur lebaran Idulfitri. Dibalik itu, banyak cerita menyentuh mengenai kondisi mereka, menjelang Lebaran Idulfitri 1447 H.

-----------------

Kepala SR Terpadu 55  Nikkon Basthari menuturkan, Ramadan di lingkungan sekolah yang berlokasi di Jalan Sudirman, Komplek Islamic Center Kotim itu dijalani dengan pola yang terstruktur. Selain kegiatan belajar reguler, para murid juga mendapat tambahan materi keagamaan melalui pesantren kilat Ramadan.

“Seperti biasa ada kegiatan reguler, hanya ditambah materi keagamaan. Ibadah juga ditingkatkan, mulai dari salat Dhuha, salat wajib berjamaah, hingga pengajian dan latihan mengajidengan menghadirkan ustaz,” ujarnya kepada Radar Sampit.

Kehidupan di asrama selama Ramadan diterapkan disiplin. Menjelang waktu berbuka, sekitar pukul 15.40 WIB, para murid sudah bersiap di ruang makan. Mereka memulai dengan hidangan ringan sebelum melanjutkan makan utama usai salat. Begitu pula saat sahur, gizi tetap diperhatikan dengan penyediaan makanan lengkap dan camilan.

Waktu makan murid tetap dijaga tiga kali sehari, baik yang berpuasa maupun tidak. Perbedaannya hanya pada penyesuaian waktu. “Menu dan kandungan gizinya sama, anak-anak tetap mendapatkan hak makan mereka meski sedang berpuasa,” ungkap Nikkon.

Adaptasi terhadap pola makan sehat pun mulai terlihat. Jika di awal banyak murid belum terbiasa makan sayur dan buah, kini perlahan mereka mulai menerima. Bahkan, perubahan fisik pun tampak, beberapa murid yang sebelumnya mengalami obesitas mulai menunjukkan penurunan berat badan.

Namun, tantangan kecil tetap ada. Salah satunya membangunkan murid setelah sahur. Bukan karena sulit bangun, melainkan karena mereka sering kali kembali tertidur usai salat Subuh.

“Waktu membangunkan sahur tidak sulit. Kadang saat senam pagi ada yang tidak terlihat, ternyata masih tertidur di kamar,”tambahnya.

 

Dalam hal kedisiplinan, sekolah menerapkan sistem poin. Setiap pelanggaran memiliki konsekuensi, sementara perilaku baik mendapat penghargaan. Pendekatan ini dilakukan dengan keseimbangan antara ketegasan dan empati.

“Kami tidak bisa terlalu keras, tapi juga tidak bisa terlalu lembut. Di sini kami pakai hati dan perasaan,” ungkapnya.

Perubahan perilaku siswa menjadi salah satu capaian yang paling terasa. Dari cara berbicara hingga interaksi sosial, banyak yang menunjukkan perkembangan positif. Meski demikian, pihak sekolah justru memiliki kekhawatiran saat mereka kembali ke lingkungan rumah.

“Kami khawatir ketika mereka pulang, ada potensi bullying atau kurangnya dukungan dari lingkungan. Karena itu, kami minta RT dan RW ikut memantau,” tegas Nikkon.

Setiap murid yang mudik libur Lebaran dibekali surat perjalanan yang harus ditandatangani oleh RT atau RW setempat sebagai bukti mereka tiba di lingkungan tempat tinggal. Bahkan, bagi yang tidak dijemput orang tua, pihak sekolah telah menyiapkan transportasi travel yang terkoordinasi.

Tidak hanya itu, murid juga dibekali makanan dan kudapan untuk perjalanan, serta uang jalan yang disesuaikan dengan jarak tujuan, seperti ke Antang Kalang, Telawang, hingga Cempaga Hulu.

Di balik itu, ada beberapa murid yang tidak memiliki dukungan dari keluarga. Bahkan ada yang orang tuanya tidak diketahui keberadaannya, sehingga tidak tahu harus mudik kemana. Dalam kondisi seperti ini, sekolah itu tetap mengambil peran sebagai tempat mereka berteduh.

“Kami tetap menanggung anak-anak yang tidak pulang. Tapi harapan kami, mereka bisa kembali ke keluarga agar ada interaksi dan keluarga juga melihat perubahan mereka,” kata Nikkon.

Meski para murid libur hingga 27 Maret dan dijadwalkan kembali ke asrama pada 29 Maret, proses belajar tidak sepenuhnya berhenti. Sekolah tetap memberikan template pembelajaran yang bisa dikerjakan di rumah.

Sementara itu, aktivitas di lingkungan sekolah tetap berjalan. Wali asrama, petugas keamanan, dan pengelola tetap siaga, memastikan lingkungan tetap terjaga.(*/gus)

Editor : Agus Jaka Purnama
#Komplek Islamic Center #ramadan #Masjid Wahyu Al Hadi #menjelang lebaran #murid sekolah rakyat #kotim #pulang ke kampung halaman