Lebaran identik dengan tradisi mudik, berkumpul bersama keluarga di kampung halaman, dan menikmati suasana desa yang penuh kehangatan. Namun, tidak semua perantau dapat pulang setiap tahun. Hal itu pula yang dialami Fafan Renaldy, seorang karyawan swasta yang kini menetap di Jalan Batu Mutiara, Sampit.
Pria yang telah dikaruniai dua anak ini sudah cukup lama merantau. Ia pertama kali datang ke Sampit pada tahun 2005. Awalnya, kedatangannya hanya untuk berkunjung ke tempat saudara.
“Awalnya cuma main ke tempat saudara. Setelah itu sempat kembali ke Jember karena tidak cocok dengan air di sini. Tapi tidak lama kemudian saya balik lagi ke Sampit sampai sekarang,” ujarnya.
Seiring waktu, Sampit pun menjadi tempat tinggalnya hingga kini. Meski demikian, kerinduan terhadap kampung halaman tetap selalu ada, terutama saat Lebaran tiba.
Tahun ini menjadi momen berbeda bagi Fafan dan keluarganya. Ia memutuskan tidak mudik ke Jawa Timur. Keputusan tersebut sebenarnya sudah direncanakan sejak awal.
Menurutnya, ada prioritas keluarga yang harus didahulukan. Anak pertamanya akan segera melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi sehingga membutuhkan persiapan anggaran yang tidak sedikit.
“Sudah direncanakan tidak mudik, karena anak pertama mau masuk kuliah, jadi perlu menyiapkan anggaran,” katanya.
Selain faktor tersebut, anak-anaknya juga ingin merasakan suasana Lebaran di Sampit tahun ini. Meski begitu, keputusan untuk tidak pulang kampung tetap menghadirkan perasaan yang tidak mudah.
Fafan mengaku ada rasa sedih karena tidak bisa bersilaturahmi langsung dengan kedua orang tua dan saudara-saudaranya di kampung halaman.
“Sedih juga karena tidak bisa sungkem ke orang tua dan bertemu saudara,” ujarnya.
Bagi Fafan, ada banyak hal yang selalu dirindukan dari suasana Lebaran di kampung halaman. Salah satunya adalah nuansa pedesaan yang masih asri.
Ia menggambarkan kampung halamannya sebagai tempat dengan udara sejuk, hamparan sawah hijau, serta pemandangan ternak seperti kambing dan sapi yang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat desa.
“Yang paling dirindukan suasana pedesaan yang asri, udara sejuk, banyak tanaman hijau di sawah, juga ada kambing dan sapi,” katanya.
Ketika melihat orang lain bisa mudik, Fafan mengakui ada sedikit rasa iri. Namun ia mencoba memahami bahwa setiap orang memiliki prioritas masing-masing.
“Pasti ada rasa iri sedikit, tapi ya bagaimana lagi. Harus dibagi dengan kebutuhan anak sekolah,” tuturnya.
Momen yang paling terasa berat baginya saat Lebaran di perantauan adalah ketika tidak bisa bersalaman langsung dengan orang tua setelah salat Idul Fitri.
Selain itu, ia juga merindukan kebersamaan makan bersama keluarga besar setelah salat Id.
“Biasanya setelah salat Idul Fitri kita makan bersama keluarga. Itu yang paling terasa kalau tidak mudik,” katanya.
Meski jauh dari kampung halaman, Fafan tetap berusaha menjaga suasana Lebaran tetap hangat bersama teman-teman di perantauan. Biasanya ia merayakan hari raya bersama rekan kerja atau tetangga.
Kegiatan yang dilakukan pun sederhana, seperti saling berkunjung ke rumah teman, berbincang santai, atau sekadar berkumpul menikmati suasana Lebaran.
Sesekali, ia juga menghabiskan waktu bersama teman-temannya dengan pergi ke tempat wisata, seperti pantai. Kebersamaan tersebut sedikit banyak membantu mengurangi rasa rindu terhadap keluarga di kampung halaman.
“Lumayan mengurangi rindu, walaupun sedikit,” ujarnya.
Ke depan, Fafan berharap dapat kembali merasakan tradisi mudik bersama keluarganya. Ia ingin mengajak anak-anaknya mengenal berbagai tempat wisata di kampung halaman, terutama kawasan pegunungan.
Beberapa destinasi yang ingin ia perkenalkan kepada anak-anaknya antara lain Gunung Bromo, Tangkuban Perahu, dan kawasan Dieng.
“Harapannya ke depan bisa mudik bersama keluarga dan mengenalkan anak-anak ke tempat wisata di sana,” katanya.
Di akhir perbincangan, Fafan juga menyampaikan pesan bagi para perantau lain yang tidak bisa pulang kampung saat Lebaran.
Menurutnya, kondisi tersebut sebaiknya tetap disyukuri sambil menikmati suasana Lebaran di tempat perantauan. Namun jika ada kesempatan yang tepat, ia menyarankan agar tetap berusaha mudik, terutama jika orang tua masih ada.
“Nikmati saja suasana Lebaran di perantauan. Tapi kalau ada waktu dan kesempatan, sebaiknya mudik, apalagi kalau orang tua masih ada,” pesannya. (yit)
Editor : Heru Prayitno