Menjelang berakhirnya bulan Ramadan, salah satu usaha mikro kecil yang mayoritas dilakoni kaum wanita yakni membuat pesanan parcel dan hampers kue lebaran. Meski terbilang produksi rumahan, namun pangsa pasarnya cukup menjanjikan. Selain itu hasilnya lumayan menambah pundi-pundi keuangan rumah tangga, menjelang lebaran.
--------------------------------
Di Kota Sampit dan sekitarnya, tradisi memberi parcel lebaran masih hidup. Baik dilakukan antarperorangan, dari lembaga, atau pun instansi. Namun belakangan, ‘hadiah lebaran’lebih banyak dari perusahaan swasta yang memberikan. Baik kepada para karyawan atau kepada para relasi.
Usaha parcel juga mampu memberikan lapangan pekerjaan, terutama bagi mereka yang membantu merakit serta pengemasan keranjang parcel.
Meina, salah satu pelaku usaha parcel di Jalan Suka Bumi Barat, Kecamatan Baamang, Sampit ini mengaku menjalankan usaha penyedia parcel sejak 2022 lalu. “Awalnya hanya melayani pesanan kecil dari kerabat, namun kini pesanan datang dari berbagai kalangan, termasuk perusahaan.Alhamdulillah pesanan parsel setiap tahunnya selalu meningkat 100 persen," ujarnya saat dibincangi Radar Sampit.
Diungkapkan Meina, dalam satu paket parcel biasanya berisi berbagai produk seperti kue kering, sirup, cokelat, biskuit, piring dan gelar cantik, hingga minuman kemasan. Jenis parcel makanan ringan dan minuman kemasan, menjadi yang paling banyak diminati pembeli.
Harga parcel yang ia jual pun juga bervariasi, mulai dari sekitar Rp35 ribu hingga sampai Rp 1 juta, tergantung isian dan ukuran parcel yang dipesan. Mendekati lebaran, Meina bisa menambah dua sampai empat orang tenaga kerja untuk membantunya.
"Kalau musim lebaran seperti ini biasanya kami menambah beberapa pekerja untuk membantu merakit dan mengemas parcel agar pesanan bisa selesai tepat waktu," katanya.
Para pekerja musiman ini umumnya bertugas menyusun isi parcel, menghias kemasan hingga menyiapkan paket untuk pengiriman. Bagi mereka, pekerjaan ini menjadi tambahan penghasilan selama bulan ramadan.
Namun demikian lanjut Meine, ada pula tantangannya. Salah satunya adalah keterbatasan stok bahan makanan atau produk yang ingin dikemas ke dalam parcel, sehingga dirinya harus menyiasati mengganti dengan bahan yang lain.
Adinda Alya, salah satu pembeli parcel mengungkapkan, hadiah itu lebih praktis dan memiliki kesan lebih spesial dan meriah, terutama ketika diberikan kepada keluarga atau rekan kerja."Kalau di masa sekarang ini, biasanya parcel sangat cocok sebagai hadiah hari lebaran untuk keluarga dan kerabat,” ungkapnya.
Tak kalah potensial. Usaha pembuatan kue kering untuk lebaran juga lumayan menambah penghasilan ekonomi keluarga, menjelang lebaran. Seperti ketekunan dan hobi membuat kue berbuah rezeki, yang dijalani Noordestiani. Dari usaha rumahan, wanita ini memiliki brand sendiri, jajanyuk.id_bynunuy.
Sejak 2019, perempuan ini menekuni dunia baking yang awalnya hanya sebatas hobi. Kegemaran mengolah adonan itu pun berkembang menjadi sumber penghasilan tambahan. “Awalnya memang karena suka baking, lama-lama jadi sampingan yang menghasilkan,” ungkap Noordestiani, kepada Radar Sampit.
Nama brand yang ia pilih pun bukan tanpa makna. jajanyuk.id_bynunuy dibuat dengan harapan menarik minat pelanggan sekaligus 'mengajak' orang untuk brebelanja produk yang ia tawarkan.
Di dapurnya, berbagai kue kering khas Lebaran diproduksi, seperti nastar, putri salju, kue kacang, thumbprint stroberi hingga kastengel. Dari sekian banyak varian, nastar dan putri salju menjadi primadona yang paling banyak diburu pelanggan.
Memasuki awal Ramadan, pesanan mulai berdatangan, terutama untuk paket hampers yang biasanya dikirim kepada keluarga dan kerabat. Tahun ini, ia mengaku terjadi peningkatan omzet dibanding hari biasa. Bahkan, menjelang pertengahan Ramadan 2026, pesanan sudah dtutup karena kapasitas produksi yang terbatas.
“Open order kita biasanya mulai awal Ramadan, tapi tahun ini sudah kita tutup dari beberapa hari yang lalu, karena pesanan cukup banyak,” papar Noordestiani.
Dalam satu musim lebaran, kebutuhan bahan baku pun meningkat signifikan. Ia mengungkapkan, setidaknya 20 kilogram mentega telah dihabisikan untuk memenuhi pesanan.
Demi menjaga kualitas, ia memilih menggunakan bahan baku premium. Menurutnya, hal ini sesuai dengan harga yang ditawarkan, yakni berkisar antara Rp45 ribu hingga Rp150 ribu per hampers kue kering. Ia juga memastikan setiap proses, mulai dari pembuatan hingga pengemasan, dilakukan secara detail agar produk tetap terjaga kualitasnya. “Pengemasan juga kita buat semenarik mungkin, tapi tetap aman sampai ke tangan pembeli,” tambahnya.
Mayoritas pelanggan membeli kue kering untuk konsumsi pribadi maupun dibagikan kepada sanak saudara hingga relasi, menjelang Lebaran.
Meski demikian, usaha ini juga bukan tanpa tantangan. Salah satu kendala yang dihadapi adalah ketersediaan bahan baku. Banyaknya pelaku usaha serupa, membuat Noordestiani harus cermat dalam menyiapkan stok agar produksi tetap berjalan lancar.
Saat ini, seluruh proses produksi masih dilakukan di rumahnya di kawasan Jalan Pelita Barat, Perumahan Grand Pelita. Dengan modal awal sekitar Rp1 juta hingga Rp1,5 juta, usaha mikro ini perlahan terus berkembang.
Ke depan, ia berharap usahanya bisa semakin besar dan menjangkau lebih banyak pelanggan. “Semoga bisa terus berkembang dan punya lebih banyak pelanggan lagi,” harap Noordestiani.(*/gus)
Editor : Agus Jaka Purnama