Radar Utama Kalteng Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Suasana Ramadan Bagi Santri Pesantren Darul Amin Palangka Raya.Mendalami Ilmu Fiqih Puasa dan Hikmah Ramadan

Dodi Abdul Qadir • Kamis, 12 Maret 2026 | 15:00 WIB

Para Santri Pondok Pesantren Darul Amin Palangka Raya saat berbuka puasa bersama di Bulan Ramadan.
Para Santri Pondok Pesantren Darul Amin Palangka Raya saat berbuka puasa bersama di Bulan Ramadan.

Ramadan selalu datang dengan cara yang istimewa. Di sudut Kota Palangka Raya, di Jalan G Obos XII, Yakut I/17, Komplek Perumahan Palangka Permai, ratusan santri Yayasan Al Amin Pondok Pesantren Darul Amin Palangka Raya menata hari-hari mereka dalam irama ibadah yang teratur dan khusyuk.

----------------------------

Menjelang Ramadan, suasana di lingkungan pesantren sudah berbeda. Kesibukan tidak hanya tampak pada persiapan fisik, tetapi juga spiritual. Pengurus merapikan jadwal, mengatur ruang ibadah, menyiapkan logistik sahur dan berbuka. Para santri pun mulai memperkuat niat, menyambut bulan yang diyakini penuh keberkahan.

Ketua Yayasan Pondok Pesantren Darul Amin Palangka Raya Achmad Junaidi menuturkan, Ramadan di pesantren bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan momentum pembentukan karakter.

“Menjelang Ramadan, kami siapkan semuanya secara matang. Jadwal ibadah diperjelas, kegiatan ditata ulang, termasuk penguatan spiritual santri agar lebih fokus menjalani bulan suci,” ujarnya,” ujarnya.

Di awal Ramadan, para santri diberi kesempatan berpuasa bersama keluarga agar ikatan emosional tetap terjaga. Namun selebihnya, santri lebih banyak beraktivitas di pesantren untuk memaksimalkan ibadah.

Ritme harian di pondok pun berubah total ketika Ramadan, sehingga pola kegiatan santri berubah signifikan. Hari dimulai lebih dini. Sahur bersama menjadi pembuka aktivitas, dilanjutkan salat Subuh berjamaah dan kajian kitab Qomiut Tugyan.

Setelah itu, sebagian santri tetap mengikuti pembelajaran formal di Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA).

Metode pengajaran dilakukan dengan menguraikan isi kitab-kitab klasik karya ulama. Penjelasan diberikan secara bertahap, agar santri tidak hanya memahami hukum, tetapi juga ruh dari ibadah itu sendiri.

“Ramadan adalah momen pendalaman makna. Santri tidak hanya belajar menahan lapar dan dahaga, tapi juga belajar menahan diri dari hal yang sia-sia,” jelas Achmad Junaidi.

Siang hari tidak lagi dipenuhi aktivitas belajar seperti biasa. Usai salat Zuhur, lantunan ayat suci menggema dari masjid pesantren. Tadarus Alquran menjadi denyut utama kegiatan. Menjelang Asar, suasana hening namun sarat makna.

Malam hari menjadi puncak kekhidmatan. Selepas berbuka dan salat Isya, para santri melaksanakan tarawih berjamaah. Setelahnya, mereka kembali melanjutkan tadarus hingga larut.

“Kami memang mengurangi porsi belajar formal dan memperbanyak kegiatan ibadah. Ini bulan Alquran, maka kami ingin santri benar-benar dekat dengan Alquran,” papar Achmad Junaidi.

Ia menjelaskan, kajian yang digelar khusus mengupas makna puasa. Salah satu program unggulan Ramadan di Darul Amin adalah kajian kitab Asrorus Saum yang membahas fiqih puasa dan hikmah Ramadan. Kajian ini diasuh langsung oleh para ustadz pesantren, termasuk Ustadz Romadhon.

Tak hanya itu, santri juga mengikuti kajian Qomiut Tugyan secara daring yang diasuh Guru Muhammad Rijani. Kajian ini mengupas cabang-cabang keimanan, memperluas pemahaman santri tentang fondasi aqidah.

Lanjutnya lagi, kebersamaan dalam sahur dan berbuka.Ramadan di pesantren juga identik dengan kebersamaan. Sahur dan berbuka menjadi momen mempererat ukhuwah. Para santri dilibatkan langsung dalam menyiapkan makanan, membagikan takjil, hingga membereskan perlengkapan setelah acara.

Kegiatan sosial pun digelar, meski masih dalam lingkup internal pesantren. Orang tua santri diberi kesempatan berpartisipasi melalui donasi makanan atau bantuan dana untuk kebutuhan sahur dan berbuka.

“Kami ingin menanamkan nilai kepedulian. Santri belajar bahwa Ramadan bukan hanya tentang diri sendiri, tetapi juga tentang berbagi,” ujarnya.

Selain itu Achmad Junaidi mengungkapkan, dibalik suasana khusyuk, ada tantangan yang harus dihadapi. Perubahan pola makan dan waktu tidur kerap menimbulkan kelelahan. Beberapa santri mengalami gangguan kesehatan ringan akibat penyesuaian ritme harian.

Pengurus pesantren pun harus memastikan kebutuhan logistik terpenuhi. Stok makanan sahur dan berbuka harus cukup, menu harus bergizi, serta fasilitas ibadah tetap nyaman.“Kami atur waktu istirahat dengan baik agar stamina santri terjaga. Makanan juga diperhatikan gizinya,” imbuh Junaidi.

Dia menambahkan, meski fokus utama adalah ibadah, pesantren tetap menjaga keseimbangan antara kehidupan duniawi dan ukhrawi. Santri tetap menjalankan pendidikan formal dan kegiatan pengembangan diri.

Menurut Achmad Junaidi, Ramadan menjadi sarana pembentukan disiplin dan karakter. Nilai kejujuran, kesabaran, serta kepedulian sosial diharapkan melekat tidak hanya selama sebulan, tetapi sepanjang tahun.

Di Darul Amin tambahnya, Ramadan bukan hanya tentang waktu. Ia adalah perjalanan batin. Tentang bagaimana cahaya bulan suci menyentuh hati, membentuk karakter, dan menumbuhkan harapan di tengah kesederhanaa.

“Kami ingin nilai Ramadan terus hidup dalam keseharian santri. Menjadi pribadi yang lebih disiplin, lebih jujur,dan lebih peduli,” pungkas Achmad Junaidi. (*/gus)

 

 

Editor : Agus Jaka Purnama
#suasana ramadan #ilmu fiqih #darul amin #hikmah ramadan #pesantren