Radar Utama Kalteng Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Dari Kasongan ke Palangka Raya: Kisah Perjalanan Menembus Sungai dan Rimba

Yuswanto RS • Jumat, 6 Maret 2026 | 14:40 WIB

Jalan Kasongan menuju Palangkaa Raya saat pembukaan badan jalan 1970. (Sumber Poto: Bagian Perpustakaan dan Arsip Setda Katingan)
Jalan Kasongan menuju Palangkaa Raya saat pembukaan badan jalan 1970. (Sumber Poto: Bagian Perpustakaan dan Arsip Setda Katingan)

Perjalanan itu dimulai dari tepian Sungai Katingan, suatu pagi pada awal 1960-an. Kabut masih menggantung rendah di atas air yang kecokelatan.

Sebuah perahu kayu kecil perlahan meninggalkan Kasongan.

Haluannya membelah permukaan sungai yang tenang, sementara hutan lebat berdiri sunyi di kiri dan kanan.

Di atas perahu sederhana itu, beberapa orang duduk berdesakan. Bekal mereka tak banyak, beras, ikan asin, dan sedikit air minum.

Tak ada yang berbicara banyak. Mereka tahu perjalanan ini bukan perjalanan pendek.

Tujuan mereka satu, yakni Kita Palangka Raya.

Pada masa itu jalan darat belum terbentang. Untuk mencapai ibu kota provinsi yang baru tumbuh itu, sungai menjadi satu-satunya jalur.

Perahu bergerak perlahan mengikuti arus Sungai Katingan menuju Kamipang. Berjam-jam perjalanan dilalui dengan suara mesin kecil yang sesekali meraung pelan.

Pondok di Sei Kamipang   tempat pelintas memulai perjalanan kaki menuju Kota Palangka Raya. (Sumber Poto: Bagian Perpustakaan dan Arsip Setda Katingan)
Pondok di Sei Kamipang tempat pelintas memulai perjalanan kaki menuju Kota Palangka Raya. (Sumber Poto: Bagian Perpustakaan dan Arsip Setda Katingan)

Namun sungai hanyalah awal perjalanan.

Di Kamipang, mereka turun dari perahu. Di depan mereka bukan jalan, melainkan jalur setapak yang nyaris tenggelam di tengah rimba.

Hutan Kalimantan berdiri rapat, lembap, dan sunyi. Langkah kaki pun dimulai.

Tanah berlumpur membuat kaki sering terperosok hingga betis. Akar-akar pohon menjalar seperti perangkap alam.

Semak belukar menutup sebagian jalur. Kadang mereka harus menebas ranting. Kadang pula berhenti lama hanya untuk memastikan arah.

Perjalanan itu menguras tenaga. Hujan bisa turun tiba-tiba dari langit yang gelap di balik kanopi hutan.

Tanah semakin licin. Pakaian basah oleh keringat dan air hujan. Bekal yang dibawa harus dihemat.

Jika malam datang sebelum tujuan tercapai, mereka berhenti di tengah rimba.

Ranting-ranting kering dikumpulkan, api kecil dinyalakan. Mereka duduk melingkar di sekelilingnya.

Malam di hutan datang cepat dan pekat. Suara serangga berdengung tanpa henti. Dari kejauhan kadang terdengar suara binatang liar, seperti pengingat bahwa manusia hanyalah tamu di rimba yang luas itu.

Dzawidul masih mengingat semuanya.

Kini usianya 82 tahun. Namun bayangan perjalanan itu tetap hidup dalam ingatannya.

Lumpur yang melekat di kaki, jalur yang hilang di tengah semak, dan malam panjang di bawah langit hutan Kalimantan.

Saat itu Palangka Raya sendiri masih muda. Kota yang dirancang menjadi ibu kota Provinsi Kalimantan Tengah itu baru mulai tumbuh sejak akhir 1950-an.

Rumah-rumah masih jarang. Jalan masih sedikit.

Bagi warga Katingan dan daerah pedalaman lain, perjalanan menuju Palangka Raya sering memakan waktu berhari-hari.

Sungai menjadi jalur utama. Hutan menjadi penghubung yang harus ditembus dengan berjalan kaki.

Tahun-tahun kemudian keadaan berubah. Hutan dibuka. Jalan tanah diratakan. Lalu perlahan diaspal. Kendaraan mulai melintas.

Perjalanan yang dulu memakan waktu berhari-hari kini bisa ditempuh hanya dalam satu jam.

Kini mobil dan sepeda motor melaju di jalan mulus dari Kasongan menuju Palangka Raya. Orang datang dan pergi tanpa lagi memikirkan betapa panjang perjalanan yang dulu harus dilalui.

Namun bagi Dzawidul dan orang-orang sezamannya, jalan itu selalu menyimpan cerita.

Sebab jauh sebelum aspal menutup tanahnya, sebelum kendaraan memecah sunyinya, jalan menuju Palangka Raya pernah berupa sungai panjang dan rimba yang harus ditaklukkan dengan langkah-langkah sabar manusia.

Dan bagi mereka yang pernah melewatinya, Palangka Raya dulu bukan sekadar kota tujuan. Tapi ia menyimpan sejuta kenangan.

Editor : Slamet Harmoko
#Jalan kasongan ke Palangka Raya #katingan #PALANGKA RAYA #kalteng #kasongan #jalan raya