Di tengah udara dini hari yang masih lembap, sekelompok pemuda di Jalan DI Panjaitan, Pasar Sejumput, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Kota Sampit, menghidupkan kembali tradisi ronda membangunkan orang sahur, khusus di bulan Ramadan.
-----------------------------
Sunyi malam dalam suasana Ramadan di salah satu kawasan pinggiran Kota Sampit, mendadak pecah oleh dentuman musik qasidah dari pengeras suara dari sound system yang dibawa dengan gerobak kayu sederhana.
Sekitar 8 pemuda berboncengan naik motor, dan salah satu motor khusus menarik gerobak pembawa pengeras suara itu. Mereka berkeliling sekitar kawasan pasar Sejumput Sampit, untuk membangunkan warga yang akan berpuasa keesokan harinya, agar tidak melewatkan waktu sahur.
Jarum jam menunjukkan pukul 02.00 WIB. Udara dini hari masih terasa lembap ketika mereka mempersiapkan peralatan. Sebuah gerobak kayu yang mengangkut pengeras suara dan amplifier tua ditarik perlahan hingga berhenti di sebuah jembatan. Dengan pakaian serba hitam, mereka tampak kompak mengatur sound system, bersiap menjalankan kegiatan tahunan yang digelar setiap bulan Ramadan.
Di tengah gelapnya malam, rombongan itu melaju perlahan. Pantun-pantun pun bersahutan dilantunkan melalui mikrofon, diselingi musik Salawat Nabi dan suara tawa riang. Ketika suara mereka terdengar, menandakan waktu sahur telah tiba.
“Di zaman sekarang, tradisi seperti ini justru sudah mulai jarang ditemukan. Jadi, kami sengaja melakukan kegiatan ini demi mempertahankan tradisi ronda sahur,” kata Gia (21) salah satu pemuda yang menyenangi aktivitas tersebut.
Bagi mereka, ronda sahur bukan sekadar membangunkan warga. Ada kebersamaan yang terjalin di dalamnya. Para pemuda yang sehari-hari bekerja itu, memilih berkumpul pada malam Ramadan. Mereka menyusun rute, menyiapkan peralatan seadanya, hingga patungan membeli bahan bakar.
Salah seorang pemuda bertubuh ceking, mengenakan kaus hitam, menggenggam mikrofon, lancar melantunkan pantun, “Amang-amang, acil-acil, jam sudah menunjukkan pukul 02.30. Panasi iwak, panasi nasi, saatnya kita apa? Sahur!”,” ujarnya, sembari disahut rekan-rekannya, sambil tertawa riang.
Kegiatan ini juga menjadi hiburan sederhana bagi warga sekitar. Meski menggunakan pengeras suara, mereka tetap berupaya menjaga ketertiban dengan mengatur volumenya, untuk dan memastikan tidak mengganggu warga yang beristirahat dan pengguna jalan.
“Tahun ini kami memanfaatkan teknologi. Kalau sebelumnya membangunkan sahur memakai pentungan, sekarang menggunakan pengeras suara dan amplifier tua,” ujar Gia.
Sekitar Pukul 02.30 WIB, mereka berhenti sejenak di tepi jalan, khawatir kalau waktu sahur terlewat. Mereka pun membuka bekal makanan yang dibawa dari rumah dan bersama-sama menyantapnya. Ada yang duduk di tepi trotoar, ada pula yang duduk di jok motor, dan mereka menikmati momen kebersamaan itu.
Tak lama kemudian, waktu imsak kian dekat. Setelah menyelesaikan makan sahurnya, rombongan perlahan kembali ke titik awal, dan membubarkan diri. Wajah lelah mereka tak mampu menyembunyikan rasa puas. Di tengah gelapnya malam, mereka menjaga denyut kehidupan sahur di kampungnya—menghidupkan tradisi sederhana yang sarat makna kebersamaan setiap bulan Ramadan. (yit)
Editor : Agus Jaka Purnama