Radar Utama Kalteng Metropolis Si Ongol Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Suasana Ramadan di Panti Rehabillitasi Gangguan Kejiwaan. Kebersamaan Terjalin, 18 Penghuni Berpuasa

Dodi Abdul Qadir • Jumat, 27 Februari 2026 | 03:25 WIB

Suasana berbuka puasa bagi klien di Panti Rehabilitasi Gangguan Kejiwaan Joint Adulam Ministry (JAM), di Jalan Tjilik Riwut Km 18, Marang, Kecamatan Bukit Batu.
Suasana berbuka puasa bagi klien di Panti Rehabilitasi Gangguan Kejiwaan Joint Adulam Ministry (JAM), di Jalan Tjilik Riwut Km 18, Marang, Kecamatan Bukit Batu.

Ramadan menghadirkan suasana yang berbeda di Panti Rehabilitasi Gangguan Kejiwaan Joint Adulam Ministry (JAM), yang berada di Jalan Tjilik Riwut KM 18, Marang, Kecamatan Bukit Batu, Palangkaraya. Sebagian penghuninya menjalankan ibadah puasa dengan pendampingan, namun penuh kesadaran.

------------------------------------------

Di bawah pengelolaan Yayasan Panengan Asie Palangka Raya, panti ini tidak sekadar menjadi tempat pemulihan bagi mereka yang mengalami gangguan kejiwaan. Tetapi juga menjadi ruang bagi para klien untuk merasakan denyut spiritual Ramadan.

Ketua yayasan sekaligus pengelola panti, Edy Bhaskoro menuturkan, dari seluruh penghuni, terdapat 18 klien yang memilih berpuasa. Mereka menjalani ibadah itu dengan penuh kesadaran. Tidak ada paksaan.

“Siapa saja yang beragama Islam boleh berpuasa. Tapi kami tidak memaksa, terutama bagi yang sedang sakit atau memiliki kondisi medis tertentu,” ujarnya saat dibincangi RadarSampit, Senin (23/2).

Aktivitas berpuasa dimulai lebih awal. Waktu sahur dimulai pukul 03.00 WIB. Para klien yang berpuasa dibangunkan untuk sahur bersama. Menu yang disajikan sederhana namun bergizi. Umumnya terdiri dari sayur, ikan, telur, mie, hingga ayam dan disiapkan bergantian agar tidak membosankan.

Aktivitas siang selama Ramadan pun disesuaikan. Terapi tetap jalan. Bagi klien yang tidak berpuasa, kegiatan harian tetap seperti biasa. Ada yang menyapu, mengepel, mencuci piring, hingga merawat kebun dan ternak.

Pusat rehabilitasi ini memang dikenal menerapkan pendekatan psikososial, mendorong klien agar produktif dan mandiri melalui kegiatan berkebun, beternak, dan aktivitas sosial.

Sementara untuk klien yang berpuasa, tidak ada aktivits berat yang dibebankan.“Kami atur agar mereka tetap kuat menjalani puasa. Tidak dipaksakan,” tukas Edy.

Seluruh kegiatan keagamaan diatur dan didampingi secara terstruktur. Evaluasi kondisi kesehatan dilakukan berkala untuk memastikan ibadah tidak mengganggu proses pemulihan.

Jika ditemukan keluhan fisik atau tanda-tanda kelelahan, tenaga medis segera melakukan pemeriksaan dan penyesuaian terapi. Termasuk menjadwal konsumsi obat agar tetap aman selama berpuasa. ”Pentingnya keseimbangan antara spiritualitas dan kesehatan fisik dalam proses rehabilitasi,”imbuh Edy.

Bagi pengelola, memfasilitasi puasa bukan sekadar rutinitas tahunan. Ada kerinduan yang mereka tangkap dari para klien. Di balik stigma gangguan kejiwaan yang sering dilekatkan masyarakat, Ramadan di JAM menghadirkan wajah lain; ketenangan, kebersamaan, dan harapan sembuh.

Ketika menjelang Magrib, waktu berbuka puasa, para klien biasanya mendapatkan penyegaran rohani. Mereka diajak berdiskusi ringan tentang hidup berdampingan dengan perbedaan suku, ras, dan agama.

Seorang ustadz rutin hadir untuk membimbing pembelajaran dasar agama. Termasuk mengajari membaca Alquran, melalui Tadarus dengan metode IQRA bagi klien yang sudah lama tidak berlatih. Setiap Minggu sore, sahabat-sahabat panti juga datang berkunjung, memberikan dukungan moral.

Para relawan JAM itu berasal dari berbagai latar belakang suku dan agama. Kebersamaan lintas perbedaan itu menjadi warna tersendiri selama Ramadan. “Mereka hidup damai. Saling akrab, bercanda, bernyanyi, bahkan joget bersama. Ramadan justru mempererat kebersamaan itu,” tutur Edy.

Mendekati waktu azan magrib, suasana berubah hening. Mereka yang berpuasa berkumpul di musala kecil di lingkungan panti. Saat tiba waktunya, buka puasa dilakukan bersama, diiringi doa yang dipanjatkan perlahan.

“Sepertinya mereka yang berpuasa biasa saja, seperti orang lain pada umumnya. Menunggu waktu berbuka, bercanda, lalu makan bersama,” tambah Edy. “Kami sadar mereka juga ingin ambil bagian dalam Ramadan. Mereka ingin merasa sama seperti orang lain,” lanjutnya.

Setelah berbuka puasa bersama, mereka juga melaksanakan Salat Magrib berjamaah, sampai dengan Salat Isya dan dilanjutkan tarawih berjamaah.

Dibeberkan Edy, panti ini juga dilengkapi fasilitas tempat tidur yang layak, makanan bergizi, serta ruang aktivitas bersama. Pendekatannya fokus mempersiapkan klien kembali ke masyarakat dengan bekal kemandirian.

Difasilitias rehabilitasi ini juga tersedia dokter, perawat, dan bidan yang aktif memberikan pelayanan. Evaluasi kesehatan dilakukan rutin setiap bulan, serta pemantauan khusus selama Ramadan untuk memastikan klien mampu berpuasa.

Fasilitas pendukung lainnya, disediakan tempat tidur yang nyaman, makanan bergizi, dan kegiatan harian seperti berkebun, beternak, serta kegiatan sosial agar pasien bisa berdaya, berkarya, dan mandiri. (*/gus)

Editor : Agus Jaka Purnama
#bulan ramadan #PALANGKA RAYA #joint adulam ministry #gangguan kejiwaan #kebersamaan #panti rehabilitasi