Radar Utama Kalteng Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Kisah Bersejarah Masjid Tertua di Palangka Raya, Ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya

Dodi Abdul Qadir • Kamis, 26 Februari 2026 | 03:00 WIB

Marbot Masjid Nurul Hikmah Abdul Satar saat dibincangi Radar Sampit,sambil menunjukan buku sejarah terkait pendirian masjid bersejarah itu.
Marbot Masjid Nurul Hikmah Abdul Satar saat dibincangi Radar Sampit,sambil menunjukan buku sejarah terkait pendirian masjid bersejarah itu.

Di tengah denyut perdagangan dan padatnya permukiman Jalan Darmosugondo No 67, Kelurahan Pahandut, Kecamatan Pahandut, Palangka Raya, berdiri masjid Nurul Hikmah yang tak sekadar menjadi tempat ibadah. Masjid itu diyakini yang tertua di Kota Palangka Raya.

--------------------------------------------

Masjid yang pendiriannya  ini dirintis oleh sejumlah ulama kharismatik asal Kalimantan Selatan (Kalsel) itu, pernah hangus terbakar pada peristiwa kebakaran yang melanda komplek Jalan Darmosugondo No 67, Kelurahan Pahandut itu pada 2013 silam.

Sejak awal berdirinya, berbagai tokoh pernah menapakkan kaki dan bersujud di dalamnya. Beberapa ulama ternama, termasuk KH Busro Khalid, pernah hadir dalam kegiatan keagamaan di masjid ini.

Pejabat daerah pun pernah berkunjung. Seperti mantan Gubernur Kalteng Warsito Rasman dan Asmawi Agani pernah mendatangi masjid bersejarah ini. Kehadiran mereka menjadi bukti bahwa Nurul Hikmah bukan sekadar masjid lingkungan, melainkan simbol perjalanan daerah.

Di balik eksistensi masjid tua ini, ada sosok yang mengabdikan separuh hidupnya. Dialah H Abdul Satar. Sejak usia 18 tahun, ia telah memantapkan niat untuk mengabdi sebagai Marbot di Masjid Nurul Hikmah.

Ditemui Radar Sampit, Abdul Satar mengaku sedih melihat ciri khas bangunan awal yang kini tak lagi terlihat. “Dulu ada menara yang menjulang dan tiang-tiang kokoh khas bangunan lama. Sekarang sudah tak ada,” ujarnya lirih.

Kesedihan itu bukan tanpa sebab. Pada 2013, kebakaran hebat melanda kawasan tersebut. Masjid Nurul Hikmah ikut dilalap api bersama sejumlah rumah warga. Bangunan lama yang sarat nilai sejarah pun hilang.

Namun lanjut Abdul Satar, meski fisik bangunan berubah, ruh masjid tetap terjaga. Setiap tahun, kegiatan rutin terus digelar, terutama saat menyambut bulan Ramadan. Salat tarawih, tadarus Alquran, hingga qiyamullail menjadi agenda yang tak pernah terlewat.

Abdul Satar mengaku bangga melihat keterlibatan generasi muda. Remaja masjid aktif dalam setiap kegiatan. Mereka hadir, membantu, bahkan menjadi penggerak kegiatan keagamaan. “Anak-anak muda sekarang luar biasa. Setiap kegiatan selalu ada. Itu yang membuat kami optimistis,” ungkapnya.

Namun, menjaga bangunan bersejarah bukan perkara mudah. Tantangan terbesar adalah pendanaan. Menurut Abdul Satar, pengeluaran selama ini dilakukan seadanya, menyesuaikan kemampuan kas masjid.

“Harusnya masjid ini bisa diperbaiki lagi lebih baik. Ini tonggak sejarah Islam di Kalteng, jangan sampai terabaikan,” tegasnya.

Saat ini, Masjid Nurul Hikmah telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya yang dilindungi pemerintah. Status tersebut menjadi kebanggaan sekaligus tanggung jawab besar untuk menjaga kelestariannya.

Bagi Abdul Satar dan para pengurus, harapan mereka sederhana namun bermakna. Masjid ini harus terus dirawat, dijaga, dan dihidupkan. Sebab Nurul Hikmah adalah saksi perjalanan Kalteng dari masa ke masa.

Di tengah perkembangan kota yang kian modern, Masjid Nurul Hikmah tetap berdiri. Bukan hanya sebagai tempat ibadah, tetapi sebagai pengingat bahwa sejarah, perjuangan, dan iman pernah bertaut di tempat inidan tak akan pernah padam.

“Tantangan terbesar dalam merawat bangunan bersejarah ini adalah pendanaan. Sehingga diharapkan kepada masyarakat maupun pemerintah untuk bisa membantu untuk terus dijaga, karena masjid ini adalah saksi luar biasa dalam perjalanan Kalteng dari zaman ke zaman,”pungkas Abdul Satar. (*/gus)

Editor : Agus Jaka Purnama
#masjid bersejarah #PALANGKA RAYA #bangunan cagar budaya #marbot masjid #nurul hidayah