SAMPIT, radarsampit.jawapos.com - Lampion-lampion merah menggantung di sudut-sudut kota, barongsai menari di pusat perbelanjaan, dan deretan dekorasi khas Tahun Baru Imlek menghiasi jalanan.
Di tengah semarak perayaan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili yang jatuh pada Selasa, 17 Februari 2026, Handoyo Fuja Mulya Jaya justru menyimpan rindu yang tak sederhana: pulang ke Sampit.
Bagi pemuda kelahiran 1 Mei 2001 itu, Imlek bukan sekadar perayaan tahunan. Imlek menjadi momen berkumpul, berbagi cerita, dan menikmati masakan rumahan bersama keluarga. Namun, sudah tiga tahun terakhir, lelaki akrab disapa Akwang ini melewatkan Imlek jauh dari kampung halamannya di Sampit.
Selepas menamatkan pendidikan di salah satu SMA swasta di Sampit, Akwang merantau ke Batam untuk melanjutkan kuliah. Sembari menempuh pendidikan, ia bekerja hingga akhirnya lulus pada Oktober 2025. Kini, ia memilih menetap dan berkarier di kota industri tersebut, menjalani hidup mandiri sebagai perantau muda.
Imlek tahun ini menjadi pengalaman berbeda. Akwang memutuskan merayakannya di Malaysia. Menurutnya, suasana Imlek di negeri jiran terasa lebih semarak dan menawarkan pengalaman visual yang memikat.
“Imlek di Malaysia vibes-nya lebih berasa. Banyak sekali spot foto dan dekorasi Imlek. Sebagai generasi muda, jalan-jalan keliling dan melihat suasana baru tentu lebih menarik,” ujarnya.
Di berbagai sudut kota, pusat perbelanjaan hingga ruang publik dihiasi ornamen serba merah dan emas. Pertunjukan seni serta destinasi wisata yang ramai membuat perayaan terasa hidup. Bagi Akwang, suasana itu menghadirkan kesan menyenangkan sekaligus memperluas pengalaman budaya.
Namun, di balik gemerlap perayaan luar negeri, ada ruang kosong yang tak terisi.
“Walaupun di luar negeri lebih menarik, berkumpul bersama keluarga dan makan masakan rumah itu yang paling dirindukan,” ungkapnya.
Kerinduan itu semakin terasa setiap kali mengingat tradisi makan bersama dan doa keluarga yang biasa dilakukan saat Imlek di rumah. Momentum Tahun Kuda Api kali ini pun ia maknai sebagai saat refleksi dan harapan.
Akwang berdoa agar keluarganya di Sampit selalu diberi kesehatan, rezeki yang lancar, dan kebahagiaan. Ia juga menyimpan tekad sederhana namun bermakna: tahun depan harus pulang.
“Semoga tahun depan bisa pulang dan berkumpul lagi. Itu yang paling diinginkan,” katanya.
Bagi Akwang, Tahun Kuda Api menjadi simbol semangat baru untuk bekerja lebih keras dan tidak cepat puas. Ia ingin terus berkembang, meraih kesuksesan, serta menjadi pribadi yang membawa dampak positif bagi orang lain. Di balik ambisi itu, tersimpan mimpi yang lebih personal—membahagiakan orang tua dan suatu hari mengajak mereka melihat dunia.
“Semoga karier makin sukses, rezeki makin lancar, dan bisa membawa orang tua melihat dunia,” tuturnya penuh harap.
Kisah Akwang menjadi potret generasi muda perantau yang menikmati pengalaman baru di negeri orang, tetapi tetap menambatkan hati pada kampung halaman. Di tengah gemerlap Imlek yang dirayakan jauh dari rumah, Sampit tetap menjadi tempat pulang yang paling dirindukan. (yit)
Editor : Heru Prayitno