Bisnis dan perdagangan konveksi di Pasar Indra Kencana, Pangkalan Bun, Kelurahan Raja, Kecamatan Arut Selatan, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), bagai diujung tanduk. Kondisi itu pun meruntuhkan harapan para pengusaha dan pekerja di sektor informal itu. Mereka terancam Gulung Tikar.
Koko Sulistyo, Pangkalan Bun
"Masyarakat saat ini lebih memilih kemudahan akses dan variasi produk yang ditawarkan platform digital, dari pada harus berusaha payah datang ke pasar dan berdesak-desakan," keluh salah satu pedagang pasar Indra Kencana, Ilham, Senin (17/11).
Diakui oleh para pedagang, pada saat pandemi Covid-19 beberapa tahun lalu, menjadi titik perubahan belanja konsumen yang beralih dari toko fisik (offline) ke toko daring (online).
Ilham menilai, pedagang dengan sistem konvensional telah kalah bersaing dengan pedagang di media sosial. Seperti tiktok shop dan Instagram yang menawarkan harga lebih kompetitif.
Selain itu menurutnya, gempuran produk konveksi murah juga sangat mempengaruhi bisnis mereka. Terutama produk pakaian impor dengan harga yang sangat murah, sehingga membuat produk lokal sulit bersaing di pasar, baik secara offline maupun online.
"Kondisi tersebut diperparah dengan menurunnya daya beli masyarakat. Bagaimana kami tidak gulung tikar. Sering kami seharian tidak mendapatkan pembeli, sementara kami harus menggaji karyawan," keluh Ilham.
Pedagang lainnya Dessy mengaku bahwa penurunan omset mereka hingga mencapai 90 persen dibandingkan sebelum pandemi Covid-19 lalu.
Ia mengaku, sepinya kunjungan membuat mereka menutup tokonya lebih awal. Dahulu bisa sampai jam 21.30 WIB. Sementara saat ini pukul 17.00 WIB - 19.30 WIB sudah mereka tutup.
"Sudah omset turun, pengunjung juga turun hamper 85 persen. Saat ini banyak toko yang sudah merumahkan karyawan dan bosnya yang memilih menjaga toko setiap hari," beber Dessy.
Dari tiga lantai pasar konveksi (pakaian) terbesar di Kota Pangkalan Bun itu. Praktis hanya tersisa satu lantai dasar. Itupun tidak semua toko terisi penuh. Sebagian memilih tutup dan merumahkan karyawannya.
Informasi dihimpun, runtuhnya kejayaan pasar konveksi itu disebabkan oleh kombinasi beberapa faktor utama, terutama persaingan ketat dari penjualan daring (online shop) dan masuknya produk import murah (pakaian bekas ball-ball an). Hal itu menyebabkan omzet pedagang anjlok hingga 90 persen. (*/gus)
Editor : Agus Jaka Purnama