Radar Utama Kalteng Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Pengorbanan Relawan ketika Mendidik Anak Berkebutuhan Khusus

M. Rifani Dewantara • Rabu, 1 Oktober 2025 | 05:00 WIB
Suasana belajar sejumlah anak berkebutuhan khusus di rumah Yulia Tanti Nova di Kuala Pembuang.
Suasana belajar sejumlah anak berkebutuhan khusus di rumah Yulia Tanti Nova di Kuala Pembuang.

Sediakan Rumah Pribadi untuk Ruang Belajar

Sejumlah anak berkebutuhan khusus, ada fasilitas belajar di sebuah Gang sempit di Jalan Patimura, Kuala Pembuang. Dari dalam terdengar tawa ceria, sesekali diselingi suara kecil yang berusaha mengeja huruf dengan penuh semangat.

M Rifani Dewantara, Kuala Pembuang

Di sudut ruangan, seorang perempuan berambut lurus tersenyum sambil membimbing. Sesekali menepuk tangan memberi apresiasi.

Rumah sederhana itu bukan sekadar tempat tinggalnya. Di sinilah berdiri Komunitas Pelita Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) Seruyan. Wadah belajar gratis bagi anak-anak istimewa yang didirikan oleh Yulia Tanti Nova.

Dua tahun terakhir, ruang tamu dan halaman rumahnya berubah menjadi kelas inklusi. Tak ada papan tulis besar, tak ada meja kursi rapi seperti sekolah formal. Yang ada hanyalah semangat yang tak pernah padam.

“Selama masih bisa saya usahakan, saya ingin anak-anak ini punya kesempatan yang sama seperti yang lain,” ucap Yulia lirih, matanya berbinar ketika membicarakan anak didiknya.

Yulia bukan orang baru di dunia pendidikan khusus. Ia pernah 7 tahun mengajar di Sekolah Luar Biasa (SLB), sebelum akhirnya pindah menjadi guru di SMA Negeri 1 Kuala Pembuang.

Dedikasinya itu bahkan membawanya hingga ke Melbourne, Australia, melalui program beasiswa untuk mendalami pendidikan anak dengan Down Syndrome. Pengalaman internasional itu justru membuatnya semakin yakin bahwa perubahan besar bisa dimulai dari langkah kecil. Maka, ia rela rumah pribadinya digunakan untuk siapa saja yang membutuhkan ruang belajar.

“Motivasi terbesar saya adalah anak saya sendiri yang juga penyandang Down Syndrome. Dari dia saya belajar bahwa ini bukan kekurangan, tapi keistimewaan. Kalau anak saya bisa berkembang, saya yakin anak-anak lain juga bisa,” papar Yulia.

Setiap Jumat, kegiatan difokuskan pada literasi seperti mengenal huruf, membaca, menulis, hingga berhitung. Yulia menggunakan metode sederhana bermain sambil belajar agar anak-anak tetap antusias.

Hari Sabtu, suasana berubah. Musik tradisional dan modern diputar, anak-anak pun menari dengan riang. Ada pula kegiatan seni seperti melipat kertas atau membuat kerajinan tangan. Dari sinilah muncul bakat-bakat yang jarang terlihat di sekolah formal.

“Tujuannya sederhana, agar anak-anak bisa berkembang, merasa dihargai, dan punya ruang untuk percaya diri,” imbuh Yulia.

Salah satu anak didik yang kini bersinar adalah Anis, gadis dengan Down Syndrome. Dahulu ia pemalu, lebih banyak diam, bahkan sulit berkomunikasi. Namun setelah bergabung di Pelita ABK, ia mulai percaya diri.

Anis kini lancar berbicara, berani menari di depan umum. Bahkan sempat tampil di televisi saat mewakili Kalimantan Tengah dalam sebuah ajang kesenian.“Setiap kali tampil, senyum Anis itu jadi semangat buat kami semua,” ujar Regina, salah satu relawan di komunitas tersebut.

Meski tampak sederhana, perjalanan komunitas ini tidaklah mudah. Seluruh biaya kegiatan ditanggung Yulia sendiri. Mulai dari alat tulis, peralatan tari, hingga transportasi untuk mengantar anak-anak mengikuti lomba.

“Kadang orang tua sibuk bekerja, jadi saya sendiri yang datang menjemput anak-anak. Yang penting mereka tetap bisa ikut belajar,” tambah Yulia.

Ia pun menyayangkan minimnya dukungan dari lembaga resmi. Menurutnya, ada banyak kesempatan bagi anak-anak penyandang disabilitas untuk tampil dan berkompetisi, namun jarang dimanfaatkan.“Kalau ada lomba, saya selalu kabari sekolah khusus. Sayangnya jarang ikut. Padahal ajang seperti itu penting untuk membuat anak-anak merasa dihargai,” ungkapnya.

Yulia menegaskan, mendirikan Pelita ABK bukan sekadar kegiatan sosial. Lebih dari itu, ia ingin membuka jalan agar anak-anak istimewa bisa bermimpi besar. Ia berharap suatu saat ada di antara mereka yang bisa menembus sekolah hingga ke luar negeri.

“Jangan pernah anggap anak dengan Down Syndrome sebagai beban sekolah. Mereka adalah cahaya. Kita hanya perlu memberi ruang agar sinar itu semakin terang,” pungkasnya penuh keyakinan.

Kini ada 8 anak yang rutin bergabung. Angka yang mungkin kecil, namun bagi Yulia setiap anak adalah dunia.Di gang kecil dekat dari hiruk pikuk kota, Yulia membuktikan bahwa kepedulian bisa menyalakan harapan. Pelita ABK bukan sekadar ruang belajar, tapi juga simbol bahwa pendidikan inklusif bukan belas kasihan, melainkan hak setiap anak untuk tumbuh, berkembang, dan bermimpi. (*/gus)

Editor : Agus Jaka Purnama
#Down Syndrom #Jalan Patimura #anak berkebutuhan kasus #Kuala Pembuang