Radarsampit.jawapos.com – Di Tahun 1955-1965, pernah berkembang tradisi unik di Pulau Jawa, yakni profesi seorang wanita berusia 20-40 tahun yang memberikan pendidikan seksual dan perihal rumah tangga kepada laki-laki muda sebelum menjalani proses pernikahan.
Tradisi ini disebut masyarakat Jawa dengan sebutan Gowok, Gowokan, atau Nyantrik.
Dilansir dari beberapa sumber menyebutkan, Gowok pernah berkembang di daerah Blora, Banyumas, dan Purworejo.
Karena kontroversinya dengan norma hukum dan agama, tradisi ini sendiri telah ditinggalkan.
Tradisi Gowok diawali ketika keluarga mempelai laki-laki menyewa seorang perempuan dengan sebuah imbalan untuk anak mereka yang mendekati hari pernikahan Gowok akan mengajarkan salah satunya tentang memuaskan istri dan memperkenalkan tubuh perempuan.
Calon mempelai laki-laki akan tinggal di rumah gowok selama beberapa hari untuk kemudian menerapkan ilmu yang sudah diperoleh kepada istrinya ketika sudah menikah.
Masa pergowokan biasanya berlangsung hanya beberapa hari, paling lama satu minggu.
Satu hal yang tidak perlu diterangkan tetapi harus diketahui oleh semua orang adalah hal yang menyangkut tugas inti seorang gowok.
Yaitu mempersiapkan seorang perjaka agar tidak mendapat malu pada malam pengantin baru, baik itu hubungan seksual dan seluk beluk tubuh wanita.
Selain itu juga segala sesuatu yang berkaitan dengan kehidupan rumah tangga lainnya.
Akhir Tradisi
Berkembangnya pendidikan dan kajian agama membuat norma sosial berubah.
Kacamata masyarakat untuk melihat tradisi tersebut menjadi lebih secara bijak, sebab bila tidak demikian, bisa jadi tradisi ini disalahgunaka dan praktik ini mulai dianggap masyarakat, layaknya prostitusi.
Dikutip dari Tirto.id, pengamat Budaya, Septiningsih secara etis menyebutkan gowokan dapat disejajarkan dengan praktek prostitusi lazimnya sebab telah memenuhi unsur-unsurnya, yaitu ada transaksi harga berupa kesepakatan antara orangtua calon pengantin dengan gowok, ada penjual jasa yaitu gowok, ada pengguna jasa yaitu laki-laki yang akan memasuki pernikahan, ada hubungan seks berupa ‘pelatihan’ sampai mahir, dan adanya spirit yang mendukung pada penentang seks bebas.
Tradisi ini sempat berjalan karena adanya pandangan masyarakat bahwa gowokan bersifat solutif bagi calon pengantin laki-laki yang harus memerankan tugas suami dengan sempurna.
Hal itu berkaitan dengan budaya masyarakat yang permisif serta adanya spirit yang mendukung pada penganjur seks bebas. (sbn)
CATATAN KAKI: Historia.id, Sastra Indonesia Awal, Basis
Editor : Gunawan.