Radarsampit.jawapos.com – Di tengah keberhasilan kawin silang antar spesies hewan, lalu menghasilkan spesies baru seperti Liger (harimau dan singa) dan Kucing British Shorthair, memunculkan ide-ide yang semakin aneh. Contohnya mengawinkan antara singa dan kucing.
Mungkinkah itu bisa berhasil dan tercipta spesies baru?
Untuk diketahui, di alam bebas, kasus kawin silang sendiri amat langka.
Hewan akan cenderung memilih pasangan dari jenis mereka sendiri.
Kalaupun terjadi, sulit mengharap kasusnya terjadi lebih dari satu, sehingga hewan persilangan sulit mendapat pasangan dari persilangan yang sama.
Ada alasan kenapa hewan persilangan tidak dikategorikan sebagai spesies tersendiri. Salah satunya, mereka sulit atau tak bisa membentuk populasi mandiri, dengan alasan-alasan di atas.
Satu-satunya cara yang memungkinkan adalah dengan melakukan kawin silang buatan seperti menyuntikkan sperma kucing jantan ke sel telur singa betina maupun sebaliknya.
Jika bisa dilakukan, apakah mungkin terjadi proses kehamilan, lahir dan jadi spesies baru campuran kucing dan singa. Mungkinkah itu terjadi? Ini penjelasan ilmiahnya:
Ini adalah tentang antargenus. Berarti perkawinan dari genus yang berbeda dalam famili yang sama, kan?
Atau maksudnya perkawinan dua spesies berbeda yang masih dalam satu genus? Hukum genetika akan menjawab keduanya sekalian.
Pertama, kasus perkawinan dua spesies berbeda yang masih dalam satu genus. Misalnya harimau dengan singa, singa dengan macan tutul, kuda dengan zebra, kuda dengan keledai.
Harimau, singa, dan macan tutul termasuk genus Panthera, tetapi berbeda spesies. Zebra, kuda, dan keledai termasuk genus Equus. Tindakan ini memiliki lima kemungkinan:
- Perkawinan tidak berhasil, dalam artian tidak berhasil sejak awal karena sperma dan ovum tidak mampu bersatu.
Hal ini biasanya karena perbedaan jumlah dan/atau bentuk kromosom sehingga kedua sel gamet tersebut tidak klop, bagaikan dua potongan puzzle yang tidak melengkapi.
- Perkawinan berhasil, namun si jabang bayi keguguran sebelum sempat dilahirkan.
Ini biasanya karena kegagalan alias mandek alias berhenti ketika perkembangan embrio mencapai tahap gastrulasi.
Kita tahu bahwa ketika sperma dan ovum berhasil bersatu alias membuahi (fertilisasi) hasilnya adalah zigot.
Zigot ini membelah terus-terusan menjadi morula.
Morula berkembang lagi menjadi blastula. Blastula berkembang menjadi gastrula.
Nah, di tahap inilah biasanya perkawinan silang gagal karena ketidakmampuan organogenesis alias membentuk organ-organ tubuh.
- Perkawinan berhasil, jabang bayi lahir, namun mati tidak lama kemudian.
Hal ini bisa terjadi karena saat organogenesis, organ-organ yang terbentuk tidak sempurna atau fungsi fisiologis hewan tersebut tidak berjalan sebagaimana mestinya.
- Perkawinan berhasil, bayi lahir, berhasil hidup, namun memiliki kecacatan tubuh.
Lagi-lagi ini berhubungan dengan mekanisme pembentukan dan fisiologi organ. Biasanya, hewan-hewan macam ini juga tidak hidup lama.
- Perkawinan berhasil, bayi lahir, berhasil hidup dan sehat alias tidak cacat, tapi steril (mandul).
Hewan ini mandul karena ketidakmampuan melangsungkan proses gametogenesis atau proses pembentukan sel-sel kelamin dalam organ reproduksinya.
Mentok sampai di sini. Hibrida seperti inilah yang sering kita lihat di media-media, karena penampilannya yang cenderung unik.
Kedua, kasus perkawinan dua hewan yang masih dalam satu famili, tetapi sudah beda genus.
Mengambil jalur di atas, berarti singa dikawinkan dengan puma. Singa dari genus Panthera, puma sudah beda, yaitu dari genus Felis.
Meskipun begitu, keduanya masih termasuk famili yang sama yaitu Felidae.
Untuk kasus ini, kemungkinannya hanya ada dua, yaitu dua kemungkinan teratas yang terjadi pada perkawinan antargenus (perkawinan tidak berhasil, atau perkawinan berhasil tetapi bayinya mati dalam kandungan) sehingga praktis tidak menghasilkan anak. Alasannya kurang lebih sama seperti kedua poin di atas. (sbn)
REFERENSI: Nature, Natgeo, Science Daily, Wikipedia
Editor : Gunawan.