Radarsampit.jawapos.com – Ibadah haji bagi umat Islam merupakan salah satu bagian dari Rukun Islam. Hal ini diwajibkan bagi mereka yang mampu mengadakan perjalanan ke Tanah Suci Makkah, Saudi Arabia.
Namun, jauh sebelum adanya kemudahan transportasi udara, yaitu pesawat, para jemaah harus menggunakan kapal layar dengan perjalanan hingga enam bulan lamanya.
Perlu niat dan keyakinan yang kuat untuk bisa berhaji bagi orang Indonesia di masa dulu, selain kecukupan biaya.
Perjuangan paling berat dalam berhaji satunya ada di masa penjajahan Belanda.
Dikutip dari sebuah Buku ”Naik Haji di Masa Silam" yang disusun Henri C Loir, dijelaskan kisah perjalanan haji masa Hindia-Belanda antara 1842-1890.
Dalam buku tersebut, saat masa penjajahan Belanda, perjalanan haji dilaksanakan dengan durasi waktu kurang lebih enam bulan menggunakan kapal laut milik perusahaan Belanda.
Enam bulan itu tidak semuanya pelayaran di laut, tetapi dengan durasi waktu singgah di beberapa pelabuhan yang dilewati.
Kapal terkadang harus transit di beberapa pelabuhan yang lamanya terkadang beberapa hari dalam satu kali transit.
Rute-rute yang biasa dilewati adalah kota-kota pelabuhan yang ada di pesisir Samudera Hindia seperti Banda Aceh (Indonesia), Dhaka (Bangladesh),Colombo (Srilanka), Mumbai (India), dan lainnya.
Lamanya waktu perjalanan haji membuat setiap orang yang berhaji harus menyiapkan bekal dan uang yang cukup untuk hidup selama kurang lebih satu tahun.
Dalam beberapa catatan sejarah banyak yang mereka menunaikan ibadah haji tidak langsung kembali pulang, namun berkelana atau langsung menempuh pendidikan di Makkah atau Madinah.
Di samping soal lamanya waktu, perjalanan Haji di masa Belanda digambarkan sebagai perjalanan yang berbahaya, karena kondisi pelayaran yang luar biasa buruk.
Kapal yang digunakan bukan kapal penumpang tetapi kapal barang (kargo).
Jemaah diberi tempat dalam ruang gudang (palka) yang tidak terlalu luas, masing-masing mendapatkan 1 atau 1,5 meter persegi.
Bisa dibayangkan bagaimana ratusan orang dapat bertahan selama enam bulan dengan tidur, kamar mandi, buang air atau memasak dengan berdempet-dempet demikian.
Kondisi kebersihan dan kesehatan sangat memprihantinkan.
Dengan kondisi di kapal yang buruk seperti itu, maka sangat sering mewabah penyakit menular seperti cacar, gatal-gatal, pes, dan sebagainya.
Tak jarang bagi kerabat yang akan berhaji, perpisahan antara keluarga di pelabuhan ibarat sebuah keikhlasan.
Pasalnya, sangat mungkin mereka tidak bisa dipertemukan lagi.
Terlebih banyaknya jemaah yang meninggal dunia selama perjalanan.
Perjalanan berbulan-bulan di lautan, membuat setiap jemaah yang meninggal dunia terpaksa 'dimakamkan' atau dijatuhkan dari kapal ke lautan luas di Samudera Hindia.
Bahaya lain dari perjalanan haji di masa Hindia Belanda adalah perjalanan yang digambarkan penuh dengan kriminalitas.
Pemerasan, penipuan, konflik antar jemaah, mewarnai perjalanan sejak berangkat hingga di Makkah.
Para jemaah haji Indonesia saat itu menjadi sasaran empuk pemerasan dan penipuan karena tidak menguasai bahasa Arab dan tidak mengetahui dengan baik mana yang menjadi syarat, rukun, dan wajib haji.
Apalagi mereka sering naif dan mudah percaya. Mereka cenderung mengagumi segala hal yang berbau Arab sehingga dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.
Dari perjuangan yang berat tersebut, ketika jemaah sampai ke Tanah Air, maka penghargaan dan kesyukuran akan teramat dalam bagi mereka. Gelar haji sangat bermakna di zaman Hindia-Belanda. (sbn)
Editor : Gunawan.