Radarsampit.jawapos.com – Persepsi yang beredar di kalangan masyarakat tentang libido wanita adalah tingkat libido selaras dengan lebatnya rambut di beberapa bagian tubuh yang terlihat.
Semakin lebat dianggap semakin besar nafsunya.
Namun, dalam dunia medis, hal ini tidak sepenuhnya benar dan sepenuhnya salah. Rambut lebat pada wanita lebih disebabkan adanya kadar hormon testosteron yang ada pada setiap wanita.
Kadar hormon tersebut kadang ditemukan dalam jumlah yang cukup besar, sehingga mengakibatkan rambut tumbuh lebih lebat yang disebut Hirsutisme.
Dilansir dari PubMed Jurnal, Hirsutisme mengacu pada rambut kasar atau berwarna yang tumbuh di wajah dan tubuh beberapa wanita.
Kondisi ini sering kali disebabkan oleh kondisi medis, seperti resistensi insulin.
Kebanyakan wanita memiliki rambut halus, pucat, dan samar-samar terlihat di wajah dan tubuh, tetapi rambut ini terkadang mungkin lebih tebal dan lebih terlihat.
Sekitar setengah dari semua penderita hirsutisme memiliki kelebihan androgen atau testosteron. Hormon-hormon ini biasanya memicu perkembangan fisik dan seksual pria.
Wanita biasanya memiliki kadar androgen yang rendah, tetapi kadar ini mungkin bervariasi karena berbagai alasan.
Kadar yang lebih tinggi dapat merangsang folikel rambut secara berlebihan, menyebabkan pertumbuhan rambut lebih banyak daripada yang biasanya dialami wanita.
Hirsutisme dapat terjadi di mana saja antara 5 dan 10 persen dari perempuan.
Dalam sebuah studi untuk menghubungkan korelasi antara hirsutisme dan libido tinggi pada wanita ,para peneliti telah mempublikasinya dalam jurnal Archives Sexsual of Behaviour.
Hasilnya bahwa Hirsutisme pada wanita hanya menimbulkan gairah lebih tinggi pada masturbasi bukan pada hubungan seksual.
Sementara itu, pendapat lain dikemukakan salah satu pakar psikologi dan kesehatan, Bologna, bahwa salah satu karakter dari hormon androgen adalah agresif terhadap rangsangan seksual, seperti pada kaum laki-laki umumnya.
Sehingga wanita Hirsutisme punya libido yang cukup kuat tanpa rangsangan, apalagi saat ada rangsangan.
Namun, hal ini menurutnya terpaksa dikontrol karena efek sosial yang lebih berat pada wanita. (sbn)
Editor : Gunawan.