Radar Utama Kalteng Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Sacha Inchi, Super Food untuk Pengobatan Kanker Serviks

Agus Jaka Purnama • Selasa, 3 September 2024 | 08:00 WIB
Wujud Kacang Sacha Inchi
Wujud Kacang Sacha Inchi

Beberapa ilmuwan di Indonesia, dalam beberapa bulan belakangan melakukan penelitian terhadap manfaat minyak Sacha Inchi, yang berperan membantu penyembuhan dari kanker Serviks.

Pengobatan kanker serviks tergantung pada stadium kanker yang dialami pasien dan kondisi kesehatannya. Tindakan yang dilakukan dokter meliputi kemoterapi, radioterapi, bedah, atau kombinasi dari ketiganya.

Tentang Kanker Serviks

Kanker serviks adalah kanker yang tumbuh pada sel-sel di leher rahim. Kanker ini umumnya berkembang perlahan dan baru menunjukkan gejala ketika sudah memasuki stadium lanjut. Oleh sebab itu, penting untuk mendeteksi kanker serviks sejak dini sebelum timbul komplikasi serius.

Kanker serviks atau kanker leher rahim ini salah satu jenis kanker yang paling sering terjadi pada wanita. Dikutip dari alodokter.com, berdasarkan penelitian pada tahun 2020, ada lebih dari 600.000 kasus kanker serviks dengan 342.000 kematian di seluruh dunia.

Selain itu di Indonesia, kanker serviks menempati peringkat kedua setelah kanker payudara sebagai jenis kanker yang paling banyak terjadi dari seluruh kasus kanker pada tahun 2020. Tercatat ada lebih dari 36.000 kasus dan 21.000 kematian akibat kanker ini.

Muhammad Ali Akbar, peneliti dari CV Inovasi Anak Negeri yang berkedudukan di Yogyakarta kepada Radar Sampit mengungkapkan, rekan-rekannya yang terlibat dalam penelitian ini antara lain Ir Adi Permadi ST, MT , M Farm, Ph.D  dari Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknologi Industri Universitas Ahmad Dahlan. Kemudian Sami Nazzal dari Departemen Ilmu Farmasi, Sekolah Farmasi, Ilmu Kesehatan Texas Tech University Pusat, Dallas, TX 75235 Amerika Serikat (AS). Serta Dr. Apt.Mutiara Herawati dari Jurusan Farmasi, Fakultas Matematika dan Sains, Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta.

Ali Akbar menguraikan, uji tersebut berawal dari ketertarikan mereka akan kandungan minyak sacha inchi yang kaya akan omega 3, 6 dan 9. Lalu coba-coba dibudidayakan dengan menggunakan nutrisi limbah udang.

“Kebetulan mahasiswa bimbingan pak Adi lolos ada yang pendanaan program PKM-RE. Nah sekalian kami mengujikan minyak yang kami proses sendiri bersama minyak dari tempat lainnya,” papar pria asal Sampit Kabupaten Kotawaringin Timur, yang menetap di Yogyakarta ini.

Ali melanjutnya, uji lab salah satunya dilakukan di ITB. “Ternyata salah uji lab nya, yang diuji malah sel kanker serviks bukan payudara, tetapi hasilnya diluar dugaan,” tukasnya. Awalnya ada 4 sampel yang diuji. Pertama, obat Cisplatin, yakni obat yang biasa digunakan di kemoterapi kanker.  Kedua, minyak sacha inchi yang ada di pasaran. Ketiga, minyak sacha inchi yaang dibudidayakan secara khusus. Ke empat,  ekstrak omega 3 dari  minyak sacha inchi khusus, yang dinamakan senyawa Ali.

“Sesuai uji lab, hasilnya senyawa Ali  bisa menandingi bahkan lebih kuat 1 koma kalinya obat paten cisplatin dan ekstrak senyawa Ali lebih kuat lagi,” tuturnya.

Sementara itu, kanker serviks, suatu keganasan yang muncul dari sel-sel leher rahim, seringkali masih ada tanpa gejala hingga mencapai stadium lanjut. Pihaknya pun menyoroti pentingnya deteksi dini.

Penelitian ini menurut mereka,  bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas minyak Sacha Inchi sebagai agen pelengkap dalam pengobatan kanker serviks melalui tes in vitro pada sel HeLa. Pengujian pun dilakukan melalui Studi In Vitro menggunakan Sel HeLa.

Sel HeLa , merupakan sel epitelial manusia yang berasal dari kanker serviks atau kanker leher rahim. Sel HeLa diberi nama sesuai dengan nama pasien penyakit kanker serviks yang sel kankernya diambil, yaitu Henrietta Lacks, yang meninggal pada tanggal 4 Oktober 1951.  Sel HeLa yang diambil pada tanggal 8 Februari 1951 kemudian diperbanyak dengan kultur sel dan banyak digunakan dalam penelitian.

Sementara itu, minyak Sacha Inchi diakui karena kaya akan kandungan asam lemak omega-3 dan omega-6, serta antioksidan diketahui menunjukkan sifat anti-inflamasi dan anti-kanker.

Dalam uji lab mereka, desain eksperimental melibatkan membandingkan viabilitas sel HeLa setelah terpapar dua sampel Sacha yang berbeda.

Minyak Inchi: SC1, diperoleh dari tanaman yang dibudidayakan dengan menggunakan pupuk limbah udang, dan SC2, berasal dari tanaman yang ditanam tanpa menggunakan pupuk.

Uji MTT : Adalah uji berbasis kolorimetrik non-radioaktif yang diterima secara luas. MTT merupakan turunan garam tetrazolium , yang diubah menjadi kompleks formazan ungu yang tidak larut oleh enzim dalam dehidrogenase mitokondria. Digunakan untuk menilai sel kelangsungan hidup.

Hasilnya; menunjukkan bahwa sampel SC1 menunjukkan efek sitotoksik pada konsentrasi ≥ 31,25 ppm, dengan nilai IC50 sebesar 16,10 ppm, sebanding dengan kontrol positif cisplatin, menunjukkan nilai IC50 sebesar 16,73 ppm.

Sebaliknya, SC2 sampel tidak menunjukkan efek toksik pada sel HeLa, sebagaimana tercermin dari nilai IC50 sebesar 225,9 ppm. Selain itu, isolasi asam α-linoleat (omega-3) dari sampel SC1 menunjukkan toksisitas yang signifikan dengan nilai IC50 sebesar 9,557 ppm.

Mereka pun menyimpulkan,  temuan menunjukkan hal itu Minyak Sacha Inchi, terutama bila diperkaya melalui praktik budidaya tertentu, dapat bertahan berpotensi sebagai agen terapi suportif untuk kanker serviks.

Namun menurut mereka, penelitian lebih lanjut demikian diperlukan untuk sepenuhnya memahami mekanismenya dan mengoptimalkan penggunaannya dalam pengaturan klinis.

Ali Akbar menambahkan, hasil uji lab mereka tersebut nantinya akan  melahirkan produk yang tentunya untuk membantu percepatan penyembutan kanker serviks. “Saat ini kita terus berproses, termasuk harus melewati uji di BPOM dan mengurus izin edar,” tandasnya.

Tentang Sacha Inchi

Kacang Sacha Inchi mungkin belum terlalu familiar bagi masyarakat Indonesia. Ternyata, bahan makanan ini telah digunakan selama berabad-abad sebagai bahan pangan bagi masyarakat adat di hutan Amazon (Wang et al. 2018).

Hal itu karena nilai gizinya yang tinggi, sehingga sacha inchi dikatakan sebagai "Super food" karena mengandung minyak tak jenuh ganda (PUFA), protein berkualitas tinggi (Torres Sánchez et al. 2023), asam amino esensial, serat makanan, mineral, fitosterol. dan senyawa fenolik yang baik.

Dikutip dari pertanian.go.id, Badan Standarisasi Instrumen Pertanian (BSIP), melalui Balai Pengujian Standar Instrumen Tanaman Aneka Kacang telah mendefenisikan,  bahwa Sacha inchi (Plukenetia volubilis L.) adalah tanaman yang banyak tumbuh di hutan tropis Amazon dan di dataran tinggi di Peru dan merupakan famili dari Euphorbiaceae.

Pada saat ini sacha inchi telah dibudidayakan di China, Malaysia, Thailand, dan belum lama ini di Indonesia. Sacha inchi memiliki potensi nutrisi yang besar, sehingga pada tahun 2016 silam jenis ini dinobatkan sebagai “Super Food” oleh PBB melalui Badan Pangan Dunia (FAO).

Meskipun bukan berasal dari famili Fabaceae/Leguminosae yang beranggotakan tumbuhan aneka kacang, masyarakat tetap ramai menyebutnya dengan imbuhan “kacang”. Sacha inchi pada umumnya dikenal dengan sebutan kacang inca, kacang sacha atau kacang liar.

Secara morfologi, kacang sacha inchi memiliki bentuk bintang, di mana dalam satu bintang dapat menyimpan antara 4 – 5 butir kacang. Buah muda berwarna hijau sedangkan buah yang sudah tua bewarna cokelat kehitaman, kemudian dari kacangnya diolah menjadi minyak kacang sacha inchi yang banyak memiliki kandungan lipid dan protein.

Kacang sacha inchi diidentifikasi sebagai sumber potensial minyak dan protein yang kaya akan polyunsaturated fatty acids (PUFA). Kacang Sacha Inchi dilaporkan mengandung 33,4-54,7% lemak, 24,20-33,30% protein, 6,59-30,90% karbohidrat, 6,61-11,30% serat, dan 2,70-6,46% kadar abu (berdasarkan basis kering)  (Bueno-Borges et al. 2018, Chirinos et al. 2013, Muangrat et al. 2018, Takeyama & Fukushima 2013).

Minyak kacang Sacha inchi kaya akan α-linolenic acid (ALA), asam lemak omega-3 sehingga diklasifikasikan sebagai minyak nabati dengan proporsi tertinggi karena mencapai 35,2-50,8% (Kodahl et al. 2022). Kandungan protein dan semua asam amino esensial yang terkandung dalam kacang Sacha inchi sudah mencukupi jika dibandingkan dengan yang direkomendasikan FAO/WHO untuk dikonsumsi orang dewasa dan dapat dicerna dengan baik serta tidak menimbulkan efek samping yang membahayakan.(gus)

 

 

Editor : Agus Jaka Purnama
#kemoterapi #Sacha Inchi #Omega 3 #penelitian #Dallas #yogyakarta #kanker servick #uji lab