RADAR SAMPIT - Bermain adalah sesuatu kegiatan yang tidak bisa dilepaskan dari dunia anak-anak. Sebelum mengenal gadget, setiap anak-anak di seluruh belahan dunia memiliki permainan tersendiri menyesuaikan apa yang tersedia di alam sekitarnya,tidak terkecuali di Pulau Kalimantan.
Dari tahun ke tahun popularitas permainan tradisional mulai menurun berbanding terbalik dengan apa yang yang ditawarkan dari perkembangan teknologi, baik berupa mesin mainan seperti tamiya, konsol game (playstation) maupun aplikasi digital semacam mobile legends.
Anak-anak masa kini bahkan ada yang tidak mengenal permainan tradisional di daerahnya sendiri yang dulu kala seringkali dimainkan orang tua maupun nenek moyang mereka turun temurun.
Di Kota Sampit, Kalimantan Tengah, dulunya ada beberapa permainan tradisional yang akrab dimainkan oleh masyarakat Dayak, Banjar, maupun pendatang dari Pulau Jawa.
Kini eksistensinya terancam punah, bahkan tidak dikenali generasi penerus yang akan datang oleh gempuran teknologi,salah satunya adalah "kelele".
Warga Sampit ,menyebut permainan dari rotan ini dengan sebutan Kelele. Dibuat dari sisa hasil anyaman kerajinan seni tanaman rotan yang menjadi tradisi Suku Dayak.
Satu rotan ukuran rata-rata satu meter dipotong menjadi dua bagian dengan ukuran satu lebih panjang.
Dalam permainan Kelele , bagian rotan Kelele yang kecil digunakan sebagai objek permainan atau anak kelele sedangkan rotan Kelele yang besar dijadikan alat pemukul objek oleh pemain.
Sebuah lubang pada tanah, tidak terlalu dalam, berbentuk memanjang akan dibuat terlebih dahulu oleh para pemain.
Pemain akan melakukan "singsuit' terlebih untuk menentukan siapa yang mengambil giliran memukul objek terlebih dahulu.
Pemain kelele biasa dimainkan oleh dua hingga lima orang secara bergantian memukul.
Untuk yang tidak kena giliran memukul ,akan sigap menunggu sang pemukul menangkap arah anak kelele.
Permainan dimulai dengan mendorong anak kelele yang diposisikan bersilangan ke depan namun dengan kecepatan yang diperkiran tidak bisa di jangkau para pemain yang siaga menangkap.
Jika berhasil ditangkap dengan satu tangan, si pemukul gilirannya memukul akan digantikan pemain lain sesuai giliran.
Apabila anak kelele tidak berhasil ditangkap para pemain, permainan dilanjutkan dengan melemparkan anak kelele ke udara dan memukulnya sekencang mungkin agar tidak tertangkap.
Jika ditangkap anak kelele dengan satu tangan oleh salah satu pemain maka akan berganti gilirannya,jika tidak tertangkap maka menggunakan pemukul ,poin akan dihitung sesuai jarak anak kelele yang dilepaskan dan posisi lubang.
Urutan langkah permainan kelele berikutnya adalah "catok kepala haruan" yang dimana posisi anak kelele ditaruh dilubang memanjang dengan satu bagian keluar.
Pemain akan memukul anak kelele hingga terlempar ke udara dan langsung memukulnya kembali sebelum jatuh.
Hitungan poinnya menggunakan anak kelele,sehingga poin yang didapatkan lebih banyak.
Jika, pemain berhasil mengumpulkan poin sebanyak 50 maka para pemain lain dihukum lari berjinjit atau satu kaki sesuai posisi anak kelele yang dilepaskan pada pukulan hukuman (pukulan melemparkan anak kelele ke udara dan memukulnya).
Sedangkan jika berhasil mengumpulkan poin 100, para pemain harus rela menggendong si pemukul sesuai posisi anak kelele (pukulan "catok kepala haruan").
Permainan ini dulunya sering dijumpai di setiap sudut Kota Sampit terlebih di sepanjang Jalan Iskandar.
Para anak-anak ketika sore maupun libur sekolah berkumpul bersama untuk bermain kelele.
Tentunya, merupakan permainan yang menyehatkan badan dan keakraban jalinan pertemanan, tidak hanya dimainkan anak-anak Suku Dayak maupun Banjar namun juga anak-anak dari Pulau Jawa ikut berbaur tanpa memandang perbedaan.
Kini permainan ini tenggelam dan muali dilupakan sepanjang Jalan Iskandar hanya menjadi saksi bisu betapa hidupnya suasana sore dan ramainya anak-anak tempo dulu di tepi Sungai Mentaya bermain Kelele. (rm-107)
Editor : Gunawan.